Pengaruh Variance Return Terhadap Holding Period

Return (Imbal hasil) merupakan hasil yang diperoleh dari investasi. Komponen return meliputi hal-hal sebagai berikut :
  1. keuntungan/kerugian dari penjualan modal (capital gain/loss) merupakan keuntungan/kerugian bagi investor yang diperoleh dari kelebihan harga jual/harga beli diatas harga beli/harga jual yang keduanya terjadi dalam pasar sekunder.
  2. Hasil (yield) merupakan pendapatan atau aliran kas yang diterima investor secara periodik, misalnya berupa dividen atau bunga. Hasil dinyatakan dalam presentase dari modal yang ditanamkan.
Return saham dibagi menjadi 2, yaitu return realisasian (Realized Return), dan return ekspektasian (expected return). Menurut (Hartono,2013:235) mengemukakan bahwa : “Return Realisasian (Realized Return) merupakan return yang telah terjadi”. Dihitung berdasarkan pada data historis. Pengukuran return realisasian yang banyak digunakan adalah return total (total return), return total merupakan return keseluruhan dari suatu investasi dalam satu periode tertentu . Return total dapat diformulasikan sebagai berikut :
Keterangan:
R_it = return saham i selama tahun ke-t.
P = merupakan harga saham penutupan hari ke-t.
P_(t-1) = merupakan harga saham penutupan hari ke t-1.
D_t = dividen saham i tahun ke-t.

Sedangkan return ekspektasian (expected return) adalah retun yang akan diperoleh investor dimasa mendatang. Return ini penting dibandingkan dengan return historis karena return ekspektasian merupakan return yang diharapkan dari investasi yang akan dilakukan.Return ekspektasian (expected return) dapat dihitung berdasarkan nilai-nilai historis dengan menggunakan metode rata-rata (mean method). Formulasinya sebagai berikut :
Keterangan:
〖E(R〗_j) = expected Return saham i.
R_jt = return saham periode 1 sampai periode ke n.
n = periode pengamatan.

Investasi selalu mengandung risiko yang berkaitan dengan penyimpangan antara return yang terjadi (actual return) terhadap return yang diharapkan (expected return), sehingga investor harus mampu menghitung risiko dari suatu investasi . Risiko adalah perbedaan antara expected return dan realized return. Jika penyimpangan semakin besar maka akan semakin besar pula tingkat risikonya. Inti dari investasi adalah memperhitungkan kemungkinan melencengnya realized return terhadap expected return. Makin besar fluktuasi harga saham terhadap rerata (varian), semakin besar pula risikonya.
  1. Apabila dikaitkan dengan preferensi investor terhadap risiko, risiko dibedakan menjadi tiga, yaitu : investor yang suka terhadap risiko (risk seeker).
  2. investor yang netral terhadap risiko (risk neutrality).
  3. investor yang tidak suka terhadap risiko (risk averter).
Apabila investor dihadapkan dengan beberapa instrumen investasi dengan tingkat imbal hasil yang sama tetapi risiko yang berbeda, maka investor akan memilih instrumen investasi yang memiliki risiko yang besar, investor inilah yang disebut dengan investor yang suka terhadap risiko (risk seeker). Biasanya investor jenis ini mempunyai sikap agresif dan spekulatif dalam mengambil keputusan investasi.

Investor yang netral terhadap risiko (risk neutrality) adalah investor yang akan meminta kenaikan tingkat imbal hasil yang sama untuk setiap kenaikan risiko. Investor jenis ini umumnya cukup fleksibel dan berhati-hati dalam mengambil keputusan.

Investor yang tidak suka terhadap risiko (risk averter) merupakan investor yang apabila dihadapkan pada dua pilihan investasi yang memberikan tingkat imbal hasil yang sama dengan risiko yang berbeda, maka ia akan lebih suka mengambil investasi dengan risiko yang lebih rendah. Biasanya investor jenis ini cenderung selalu mempertimbangkan secara matang dan terencana atas keputusan  investasinya.

Risiko dapat dinyatakan dalam bentuk varian (variance). Menurut (Hartono,2013:258) mengemukakan bahwa: “Varian (variance) adalah kuadrat dari deviasi standar (standard deviation)”. Return dan risiko mempunyai hubungan yang positif, semakin besar risiko yang harus ditanggung, semakin besar return yang harus di kompensasikan. Sehingga dapat dikatakan bahwa Variance return adalah tingkat risiko yang terjadi dari suatu kegiatan investasi, terutama akibat transaksi saham di pasar bursa yang disebabkan adanya volatilitas harga saham.
Konsep perhitungan variance return dapat diformulasikan sebagai berikut :
Keterangan:
σ_j^2 = varians dari investasi pada saham j (variance return).
R_ij = return saham dari investasi pada saham j pada tahun t.
E(R_j) = merupakan ER(expected return) dari investasi saham.
n = merupakan periode pengamatan.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Wisayang tahun 2011 pada seham-saham pertambangan adalah adanya pengaruh negatif dari variance return terhadap jangka waktu investor memegang suatu saham yang dimilikinya (holding period). Hal ini menunjukkan bahwa investor cenderung untuk menahan saham lebih pendek pada perusahaan-perusahaan yang memiliki volatilitas yang tinggi. Semakin tinggi volatilitas perusahaan yang dicerminkan dengan varian return maka semakin tinggi pula risiko yang ditanggung investor yang berakibat lebih pendeknya saham akan ditahan oleh investor. Makin volatil saham badan usaha menunjukkan resiko yang diterima investor makin tinggi. Investor cenderung memilih resiko serendah mungkin.

Lain hal nya dengan penelitian yang dilakukan oleh saya mengenai pengaruh varian return terhadap holding period yang dilakukan di saham-saham LQ-45. karena variance return mencerminkan tingkat risiko yang terjadi akibat fluktuasi harga saham. Sedangkan saham-saham LQ-45 adalah saham unggulan, memiliki  kinerja  keuangan yang  baik,  dan  membagikan  dividen kepada  investor  setiap  tahunnya, sehingga variance return tidak berpengaruh terhadap holding period. Hal ini berarti diperoleh bahwa investor kurang memperhatikan variance return, karena pelaku pasar percaya terhadap prospek  saham  yang  tercatat  dalam  Indeks LQ-45 tersebut terjamin, sehingga risikonya menjadi lebih minim. namun memang dalam kenyataannya tidak semua perusahaan yang termasuk LQ-45 adalah perusahaan yang mempunyai kondisi keuangan yang baik.

Demikian ulasan mengenai variance return, semoga dapat bermanfaat.....

Return (Imbal hasil) merupakan hasil yang diperoleh dari investasi. Komponen return meliputi hal-hal sebagai berikut :
  1. keuntungan/kerugian dari penjualan modal (capital gain/loss) merupakan keuntungan/kerugian bagi investor yang diperoleh dari kelebihan harga jual/harga beli diatas harga beli/harga jual yang keduanya terjadi dalam pasar sekunder.
  2. Hasil (yield) merupakan pendapatan atau aliran kas yang diterima investor secara periodik, misalnya berupa dividen atau bunga. Hasil dinyatakan dalam presentase dari modal yang ditanamkan.
Return saham dibagi menjadi 2, yaitu return realisasian (Realized Return), dan return ekspektasian (expected return). Menurut (Hartono,2013:235) mengemukakan bahwa : “Return Realisasian (Realized Return) merupakan return yang telah terjadi”. Dihitung berdasarkan pada data historis. Pengukuran return realisasian yang banyak digunakan adalah return total (total return), return total merupakan return keseluruhan dari suatu investasi dalam satu periode tertentu . Return total dapat diformulasikan sebagai berikut :
Keterangan:
R_it = return saham i selama tahun ke-t.
P = merupakan harga saham penutupan hari ke-t.
P_(t-1) = merupakan harga saham penutupan hari ke t-1.
D_t = dividen saham i tahun ke-t.

Sedangkan return ekspektasian (expected return) adalah retun yang akan diperoleh investor dimasa mendatang. Return ini penting dibandingkan dengan return historis karena return ekspektasian merupakan return yang diharapkan dari investasi yang akan dilakukan.Return ekspektasian (expected return) dapat dihitung berdasarkan nilai-nilai historis dengan menggunakan metode rata-rata (mean method). Formulasinya sebagai berikut :
Keterangan:
〖E(R〗_j) = expected Return saham i.
R_jt = return saham periode 1 sampai periode ke n.
n = periode pengamatan.

Investasi selalu mengandung risiko yang berkaitan dengan penyimpangan antara return yang terjadi (actual return) terhadap return yang diharapkan (expected return), sehingga investor harus mampu menghitung risiko dari suatu investasi . Risiko adalah perbedaan antara expected return dan realized return. Jika penyimpangan semakin besar maka akan semakin besar pula tingkat risikonya. Inti dari investasi adalah memperhitungkan kemungkinan melencengnya realized return terhadap expected return. Makin besar fluktuasi harga saham terhadap rerata (varian), semakin besar pula risikonya.
  1. Apabila dikaitkan dengan preferensi investor terhadap risiko, risiko dibedakan menjadi tiga, yaitu : investor yang suka terhadap risiko (risk seeker).
  2. investor yang netral terhadap risiko (risk neutrality).
  3. investor yang tidak suka terhadap risiko (risk averter).
Apabila investor dihadapkan dengan beberapa instrumen investasi dengan tingkat imbal hasil yang sama tetapi risiko yang berbeda, maka investor akan memilih instrumen investasi yang memiliki risiko yang besar, investor inilah yang disebut dengan investor yang suka terhadap risiko (risk seeker). Biasanya investor jenis ini mempunyai sikap agresif dan spekulatif dalam mengambil keputusan investasi.

Investor yang netral terhadap risiko (risk neutrality) adalah investor yang akan meminta kenaikan tingkat imbal hasil yang sama untuk setiap kenaikan risiko. Investor jenis ini umumnya cukup fleksibel dan berhati-hati dalam mengambil keputusan.

Investor yang tidak suka terhadap risiko (risk averter) merupakan investor yang apabila dihadapkan pada dua pilihan investasi yang memberikan tingkat imbal hasil yang sama dengan risiko yang berbeda, maka ia akan lebih suka mengambil investasi dengan risiko yang lebih rendah. Biasanya investor jenis ini cenderung selalu mempertimbangkan secara matang dan terencana atas keputusan  investasinya.

Risiko dapat dinyatakan dalam bentuk varian (variance). Menurut (Hartono,2013:258) mengemukakan bahwa: “Varian (variance) adalah kuadrat dari deviasi standar (standard deviation)”. Return dan risiko mempunyai hubungan yang positif, semakin besar risiko yang harus ditanggung, semakin besar return yang harus di kompensasikan. Sehingga dapat dikatakan bahwa Variance return adalah tingkat risiko yang terjadi dari suatu kegiatan investasi, terutama akibat transaksi saham di pasar bursa yang disebabkan adanya volatilitas harga saham.
Konsep perhitungan variance return dapat diformulasikan sebagai berikut :
Keterangan:
σ_j^2 = varians dari investasi pada saham j (variance return).
R_ij = return saham dari investasi pada saham j pada tahun t.
E(R_j) = merupakan ER(expected return) dari investasi saham.
n = merupakan periode pengamatan.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Wisayang tahun 2011 pada seham-saham pertambangan adalah adanya pengaruh negatif dari variance return terhadap jangka waktu investor memegang suatu saham yang dimilikinya (holding period). Hal ini menunjukkan bahwa investor cenderung untuk menahan saham lebih pendek pada perusahaan-perusahaan yang memiliki volatilitas yang tinggi. Semakin tinggi volatilitas perusahaan yang dicerminkan dengan varian return maka semakin tinggi pula risiko yang ditanggung investor yang berakibat lebih pendeknya saham akan ditahan oleh investor. Makin volatil saham badan usaha menunjukkan resiko yang diterima investor makin tinggi. Investor cenderung memilih resiko serendah mungkin.

Lain hal nya dengan penelitian yang dilakukan oleh saya mengenai pengaruh varian return terhadap holding period yang dilakukan di saham-saham LQ-45. karena variance return mencerminkan tingkat risiko yang terjadi akibat fluktuasi harga saham. Sedangkan saham-saham LQ-45 adalah saham unggulan, memiliki  kinerja  keuangan yang  baik,  dan  membagikan  dividen kepada  investor  setiap  tahunnya, sehingga variance return tidak berpengaruh terhadap holding period. Hal ini berarti diperoleh bahwa investor kurang memperhatikan variance return, karena pelaku pasar percaya terhadap prospek  saham  yang  tercatat  dalam  Indeks LQ-45 tersebut terjamin, sehingga risikonya menjadi lebih minim. namun memang dalam kenyataannya tidak semua perusahaan yang termasuk LQ-45 adalah perusahaan yang mempunyai kondisi keuangan yang baik.

Demikian ulasan mengenai variance return, semoga dapat bermanfaat.....

Related Posts

Pengaruh Variance Return Terhadap Holding Period
4/ 5
Oleh

Contact Me

Name

Email *

Message *