Aturan Jual Beli

Jual beli dalam bahasa inggris disebut dengan “Sale and Purchase” atau dalam bahasa Belanda disebut “Koop en Verkoop” merupakan sebuah kontrak/perjanjian.
Yang dimaksudkan dengan jual beli adalah suatu kontrak dimana satu pihak mengkiatkan dirinya untuk menyerahkan suatu benda, sedangkan pihak lainnya yang disebut dengan pihak pembeli mengikatkan dirinya untuk membayar harga dari benda tersebut sebesar yang telah disepakati bersama.
Pada setiap jual beli setidak-tidaknya terdapat dua belah pihak yaitu pihak penjual  yang mempunyai kewajiban menyerahkan barang objek jual beli, dan pihak pembeli yang berkewajiban membayar harga pembelian.
Sumber hukum dari kontrak jual beli adalah sebagai berikut :
1.Kitab undang-undang hukum perdata buku ketiga (3) tentang perikatan.
2.Undang-undang pertanahan seo=panjang menyangkut dengan jual beli tanah.
3.Hukum adat setempat terhadap jual beli yang terkait dengan masyarakat adat.
4.Yurisprudensi.
5.Perjanjian internasional sejauh yang menyangkut dengan jual beli internasional.
6.Kebiasaan perdagangan baik nasional maupun internasional.
7.Doktrin atau pendapat ahli.

Metode Pembayaran Dalam Transaksi Jual Beli
Pembayaran harga yang telah disepakati bersama merupakan kewajiban pihak pembeli dalam suatu kontrak jual beli.
Pembayaran dapat dilakukan dengan menggunakan cara pembayaran sebagai berikut :
1.Cara pembayaran tunai seketika.
2.Cara pembayaran dengan cicilan/kredit.
3.Cara pembayaran dengan menggunakan kartu kredit.
4.Cara pembayaran degan menggunakan kartu debit.
5.Cara pembayaran dengan menggunakan cek.
6.Cara pembayaran dengan menggunakan dasar konsinyasi.
Wanprestasi dan Ganti Rugi
Wanprestasi dalam suatu kontrak, biasanya meliputi :
1.Wanprestasi berupa tidak memenuhi prestasi.
2.Wanprestasi berupa terlambat memenuhi prestasi.
3.Wanprestasi berupa tidak sempurna memenuhi prestasi.

Wanprestasi bagi pembeli adalah ketika pembeli tidak melakukan kewajiban sesuai kontrak, antara lain karena tidak melakukan kewajiban utamanya dalam membayar harga barang yang telah dibelinya tersebut.
Wanprestasi dari pihak penjual antara lain sebagai berikut :
1.Tidak menyerahkan barng objek jual beli secara yang diatur dalam kontrak jual beli.
2.Pemilikan/penggunaan barang objek jual beli tidak aman bagi pembeli.
3.Ada cacat tersembunyi pada benda yang menjadi objek jual beli tersebut.

Adapun komponen-komponen ganti rugi adalah sebagi berikut :
1.Biaya
2.Rugi (dalam arti yang sempit)
3.Bunga

Salah satu model ganti rugi dari jual beli adalah model ganti rugi ekspektasi, yaitu yang diganti adalah “ hilangnya keuntungan yang diharapkan” dari jual beli tersebut akibat tidak dilakukannya prestasi oleh pihak lain.
Apabila pihak penjual yang melalkukan wanprestasi, maka ganti rugi ekspektasi akan mengambil formulasi sbb :

1.Formulasi pembelian dari pihak ketiga. Basarnya kerugian dihitung dengan pengurangan dengan harga untuk mendapatkan barang yang sama dari pihak ketiga. Ganti rugi dihitung dengan cara harga barang dalam hal membeli barang yang sama dari pihak ketiga dikurangi harga dalam kontrak dikurangi harga dalam kontrak ditambah biaya-biaya yang dikeluarkan dan dikurangi biaya-biaya yang tidak jadi dikeluarkan.
2.Formulasi harga pasar. Pihak pembeli tidak membeli barang dari pihak ketiga, jadi yang jadi pedoman bukan harga pembelian kembali tetapi harga pasar. Kerugian yang harus diganti adalah harga pasar dikurangi harga kontrak ditambah biaya dan dikurangi biaya yang tidak jadi dikeluarkan.

Jika pembeli yang melakukan wanprestasi maka formulasi ganti rugi berbentuk ekspektasi sbb :
1.Formulasi pembayaran harga barang. Maksudnya adalah bahwa harga barang seperti yang diperjanjikan dimintakan dari pembeli, sehingga sebagai konsekuensinya barang tersebut harus diserahkan kepada pembeli tersebut atau dipaksakan untuk diterima oleh sipembeli.
2.Formula penjualan kembali. Ganti rugi di berikan keada pihak penjual dengan perhitungan berupa selisih antara harga kontrak dengan harga penjualan kembali dari barang yang bersengkutan.
3.Formula harga pasar. Ganti rugi dihitung dengan cara harga dalam kontrak dikurangi dengan harga pasar dari barang tersebut. Dalam hal ini barang tetap berada pada tangan si penjual.
4.Formulasi kehilangan keuntungan. Harga dalam kontrak dikurangi modal/biaya produksi dan dikurangi lagi biaya-biaya yang telah dikeluarkan.

Force Majeure dan masalah Resiko
Force majeure adalah suatu keadaan dimana pihak debitur dalam suatu kontrak terhalang untuk melaksanakan prestasinya karena keadaan atau peristiwa yang tidak terduga pada saat dibuatnya kontrak tersebut, keadaan atau peristiwa tersebut tidak dapat dipertanggungjawabkan kepada debitur sementara debitur juga tidak mempunyai itikad buruk.
Maksudnya bahwa peristiwa yang menyebabkan force majeure tersebut tidak termasuk dalam asumsi dasar dari para pihak sewaktu membuat kontrak tersebut.
Contoh dari hal-halyang menyebabkan terjadinya force majeure adalah banjir, angin puting beliung, gempa bumu, demo mogok buruh dll.
Dalam hal terhalangnya prestasi pembeli datau penjual karena hal-hal seperti tersebut diatas, maka dalam hal ini berlakulah ketentuan tentang force majeure.
Ketentuan hukum yang umum tentang force majeure menentukan tidak ada satu orangpun dapat dimintakan pertanggungjawaban hukumnya ketika terjadi diluar kesalahan dan kewenangan para pihak.
Yang menjadi persoalan hukum, siapakah yang menanggung resiko dari force majeure tersebut?
Berbeda dengan sistem pengaturan resiko dalam kontrak lain pada umumnya, maka hukum terntang jual beli (menurut KUHP) dengan tegas ditentukan bahwa begitu kontrak jual beli sudah ditanda tangani, maka resiko sudah beralih ke pihak pembeli meskipun barang belum diserah terimakan.
Selain itu, penentuan siapa yang akan menanggung resiko juga harus dilihat dari bentuk penyerahan benda yaitu apakah dengan tegas ditentukan bahwa benda tersebut diterima pembeli ditempat pembeli misalnya sehingga kewajiban pengangkutan barang, termasuk kewajiban menanggung resiko jika barang hilang ditengah jalan, menjadi tanggung jawab penjual.
Jual beli dalam bahasa inggris disebut dengan “Sale and Purchase” atau dalam bahasa Belanda disebut “Koop en Verkoop” merupakan sebuah kontrak/perjanjian.
Yang dimaksudkan dengan jual beli adalah suatu kontrak dimana satu pihak mengkiatkan dirinya untuk menyerahkan suatu benda, sedangkan pihak lainnya yang disebut dengan pihak pembeli mengikatkan dirinya untuk membayar harga dari benda tersebut sebesar yang telah disepakati bersama.
Pada setiap jual beli setidak-tidaknya terdapat dua belah pihak yaitu pihak penjual  yang mempunyai kewajiban menyerahkan barang objek jual beli, dan pihak pembeli yang berkewajiban membayar harga pembelian.
Sumber hukum dari kontrak jual beli adalah sebagai berikut :
1.Kitab undang-undang hukum perdata buku ketiga (3) tentang perikatan.
2.Undang-undang pertanahan seo=panjang menyangkut dengan jual beli tanah.
3.Hukum adat setempat terhadap jual beli yang terkait dengan masyarakat adat.
4.Yurisprudensi.
5.Perjanjian internasional sejauh yang menyangkut dengan jual beli internasional.
6.Kebiasaan perdagangan baik nasional maupun internasional.
7.Doktrin atau pendapat ahli.

Metode Pembayaran Dalam Transaksi Jual Beli
Pembayaran harga yang telah disepakati bersama merupakan kewajiban pihak pembeli dalam suatu kontrak jual beli.
Pembayaran dapat dilakukan dengan menggunakan cara pembayaran sebagai berikut :
1.Cara pembayaran tunai seketika.
2.Cara pembayaran dengan cicilan/kredit.
3.Cara pembayaran dengan menggunakan kartu kredit.
4.Cara pembayaran degan menggunakan kartu debit.
5.Cara pembayaran dengan menggunakan cek.
6.Cara pembayaran dengan menggunakan dasar konsinyasi.
Wanprestasi dan Ganti Rugi
Wanprestasi dalam suatu kontrak, biasanya meliputi :
1.Wanprestasi berupa tidak memenuhi prestasi.
2.Wanprestasi berupa terlambat memenuhi prestasi.
3.Wanprestasi berupa tidak sempurna memenuhi prestasi.

Wanprestasi bagi pembeli adalah ketika pembeli tidak melakukan kewajiban sesuai kontrak, antara lain karena tidak melakukan kewajiban utamanya dalam membayar harga barang yang telah dibelinya tersebut.
Wanprestasi dari pihak penjual antara lain sebagai berikut :
1.Tidak menyerahkan barng objek jual beli secara yang diatur dalam kontrak jual beli.
2.Pemilikan/penggunaan barang objek jual beli tidak aman bagi pembeli.
3.Ada cacat tersembunyi pada benda yang menjadi objek jual beli tersebut.

Adapun komponen-komponen ganti rugi adalah sebagi berikut :
1.Biaya
2.Rugi (dalam arti yang sempit)
3.Bunga

Salah satu model ganti rugi dari jual beli adalah model ganti rugi ekspektasi, yaitu yang diganti adalah “ hilangnya keuntungan yang diharapkan” dari jual beli tersebut akibat tidak dilakukannya prestasi oleh pihak lain.
Apabila pihak penjual yang melalkukan wanprestasi, maka ganti rugi ekspektasi akan mengambil formulasi sbb :

1.Formulasi pembelian dari pihak ketiga. Basarnya kerugian dihitung dengan pengurangan dengan harga untuk mendapatkan barang yang sama dari pihak ketiga. Ganti rugi dihitung dengan cara harga barang dalam hal membeli barang yang sama dari pihak ketiga dikurangi harga dalam kontrak dikurangi harga dalam kontrak ditambah biaya-biaya yang dikeluarkan dan dikurangi biaya-biaya yang tidak jadi dikeluarkan.
2.Formulasi harga pasar. Pihak pembeli tidak membeli barang dari pihak ketiga, jadi yang jadi pedoman bukan harga pembelian kembali tetapi harga pasar. Kerugian yang harus diganti adalah harga pasar dikurangi harga kontrak ditambah biaya dan dikurangi biaya yang tidak jadi dikeluarkan.

Jika pembeli yang melakukan wanprestasi maka formulasi ganti rugi berbentuk ekspektasi sbb :
1.Formulasi pembayaran harga barang. Maksudnya adalah bahwa harga barang seperti yang diperjanjikan dimintakan dari pembeli, sehingga sebagai konsekuensinya barang tersebut harus diserahkan kepada pembeli tersebut atau dipaksakan untuk diterima oleh sipembeli.
2.Formula penjualan kembali. Ganti rugi di berikan keada pihak penjual dengan perhitungan berupa selisih antara harga kontrak dengan harga penjualan kembali dari barang yang bersengkutan.
3.Formula harga pasar. Ganti rugi dihitung dengan cara harga dalam kontrak dikurangi dengan harga pasar dari barang tersebut. Dalam hal ini barang tetap berada pada tangan si penjual.
4.Formulasi kehilangan keuntungan. Harga dalam kontrak dikurangi modal/biaya produksi dan dikurangi lagi biaya-biaya yang telah dikeluarkan.

Force Majeure dan masalah Resiko
Force majeure adalah suatu keadaan dimana pihak debitur dalam suatu kontrak terhalang untuk melaksanakan prestasinya karena keadaan atau peristiwa yang tidak terduga pada saat dibuatnya kontrak tersebut, keadaan atau peristiwa tersebut tidak dapat dipertanggungjawabkan kepada debitur sementara debitur juga tidak mempunyai itikad buruk.
Maksudnya bahwa peristiwa yang menyebabkan force majeure tersebut tidak termasuk dalam asumsi dasar dari para pihak sewaktu membuat kontrak tersebut.
Contoh dari hal-halyang menyebabkan terjadinya force majeure adalah banjir, angin puting beliung, gempa bumu, demo mogok buruh dll.
Dalam hal terhalangnya prestasi pembeli datau penjual karena hal-hal seperti tersebut diatas, maka dalam hal ini berlakulah ketentuan tentang force majeure.
Ketentuan hukum yang umum tentang force majeure menentukan tidak ada satu orangpun dapat dimintakan pertanggungjawaban hukumnya ketika terjadi diluar kesalahan dan kewenangan para pihak.
Yang menjadi persoalan hukum, siapakah yang menanggung resiko dari force majeure tersebut?
Berbeda dengan sistem pengaturan resiko dalam kontrak lain pada umumnya, maka hukum terntang jual beli (menurut KUHP) dengan tegas ditentukan bahwa begitu kontrak jual beli sudah ditanda tangani, maka resiko sudah beralih ke pihak pembeli meskipun barang belum diserah terimakan.
Selain itu, penentuan siapa yang akan menanggung resiko juga harus dilihat dari bentuk penyerahan benda yaitu apakah dengan tegas ditentukan bahwa benda tersebut diterima pembeli ditempat pembeli misalnya sehingga kewajiban pengangkutan barang, termasuk kewajiban menanggung resiko jika barang hilang ditengah jalan, menjadi tanggung jawab penjual.

Related Posts

Aturan Jual Beli
4/ 5
Oleh

Contact Me

Name

Email *

Message *