Cara Mengambil Keputusan Menjual Atau Membeli Saham : Holding Period

Di Bursa Efek Indonesia banyak instrumen-instrumen investasi yang dapat dipilih investor, namun pada umumnya yang paling banyak ditawarkan perusahaan, paling banyak diminati investor, dan mendominasi  volume transaksi perdagangan adalah saham biasa. Disamping  memiliki  kebebasan  dalam  menentukan  jenis  saham  yang dikehendaki  untuk  sarana  investasi,  investor  juga  memiliki kebebasan  dalam menentukan  jumlah  lembar  saham  yang  ingin  dimiliki  serta rentang  waktu  atau lamanya memegang saham tersebut. Bagi investor pemula tidak sedikit yang merasa kesulitan dalam mengambil keputusan mengenai periode lamanya memegang saham?... nah kali ini saya akan membahas hal tersebut dalam artikel yang berjudul Cara Mengambil Keputusan Menjual Atau Membeli Saham : Holding Period.

Holding Period Adalah rata-rata panjangnya waktu yang digunakan investor untuk menyimpan atau menahan suatu saham selama periode waktu tertentu. Investor mempunyai risiko dalam berinvestasi saham yang mereka jual-belikan dipasar modal. Periode lamanya investor memegang suatu saham dilakukan untuk mendapatkan keuntungan berupa capital gain dan dividend yield.

Dalam prektiknya, setiap investor mempunyai selera sendiri-sendiri (appetite) terhadap saham-saham yang dibelinya. Ada yang suka saham properti, ritel, semen, pertambangan, minyak, dan gas bumi dan lain-lain.

Jika investor memperkirakan harga saham yang dimilikinya akan meningkat maka investor cenderung untuk memegang sahamnya hingga saham tersebut benar-benar naik. Sebalikya, Jika investor memperkirakan harga saham akan turun maka investor akan menjual saham yang dimilikinya. Hal ini dilakukan para investor untuk meminimalkan risiko yang akan di hadapinya.

Secara umum keputusan membeli atau menjual saham ditentukan oleh perbandingan antara perkiraan nilai intrinsik dengan harga pasarnya, dengan kriteria sebagai berikut :
  1. jika harga pasar saham lebih rendah dari nilai intrinsiknya, saham tersebut sebaiknya dibeli dan ditahan sementara dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan capital gain (keuntungan dari penjualan modal) jika kemudian harganya kembali naik.
  2. jika harga saham tersebut sama dengan nilai intrinsiknya, jangan melakukan transaksi. Karena saham tersebut dalam keadaan seimbang, transaksi pembelian atau penjualan saham tidak akan ada untung yang di peroleh.
  3. jika harga pasar saham lebih tinggi dari nilai intrinsiknya, saham tersebut sebaiknya dijual untuk menghindari kerugian karena harganya kemudian akan turun menyesuaikan nilainya.
Aturan umum tersebut sangat sederhana dan mudah di pahami, namun cukup sulit di praktikan. kesulitannya adalah dalam menentukan nilai intrinsiknya. Oleh karena itu, proses perhitungan tersebut harus dilakukan secara berkesinambungan.

Fenomena mengenai perilaku holding period terjadi terhadap saham PT Astra Agro Lestari Tbk. (AALI) di Bursa Efek Indonesia. Saham AALI adalah salah satu saham yang tergolong dalam saham LQ-45 dan selalu tercatat pada periode 2011-2013. berikut adalah grafik fluktuasi holding period saham AALI :
holding period saham AALI

Kondisi holding period yang terjadi pada saham PT Astra Agro Lestari Tbk bulan Januari- Desember 2013. Berdasarkan data tesebut, holding Period saham perusahaan AALI pada bulan Januari-Desember 2013 mengalami kondisi yang berfluktuatif. Holding period terlama terjadi pada bulan Januari, yaitu selama 75,72 bulan dan holding period terpendek pada bulan September yaitu selama 29,72 bulan.

Rata-rata holding period investor untuk setiap tahun dapat dihitung dengan membagi jumlah saham beredar pada saham perusahaan i per akhir tahun t dengan rata-rata  volume  perdagangan  saham  i  tahun  t  yang dapat diformulasikan sebagai berikut:

Keputusan  untuk  menahan saham  dipengaruhi  oleh  beberapa faktor yaitu market  value dan  Variance  Return. Market  value  adalah  harga  saham yang  terjadi  di  pasar pada periode tertentu yang  ditentukan  oleh  pelaku  pasar. Sedangkan Variance Return merupakan  proksi  dari  tingkat  risiko  yang  diakibatkan  oleh fluktuasi  harga  saham.

Itulah ulasan mengenai Cara Mengambil Keputusan Menjual Atau Membeli Saham : Holding Period. Baca juga faktor-faktor yang mempengaruhi holding period tersebut : market value dan varience return.
Di Bursa Efek Indonesia banyak instrumen-instrumen investasi yang dapat dipilih investor, namun pada umumnya yang paling banyak ditawarkan perusahaan, paling banyak diminati investor, dan mendominasi  volume transaksi perdagangan adalah saham biasa. Disamping  memiliki  kebebasan  dalam  menentukan  jenis  saham  yang dikehendaki  untuk  sarana  investasi,  investor  juga  memiliki kebebasan  dalam menentukan  jumlah  lembar  saham  yang  ingin  dimiliki  serta rentang  waktu  atau lamanya memegang saham tersebut. Bagi investor pemula tidak sedikit yang merasa kesulitan dalam mengambil keputusan mengenai periode lamanya memegang saham?... nah kali ini saya akan membahas hal tersebut dalam artikel yang berjudul Cara Mengambil Keputusan Menjual Atau Membeli Saham : Holding Period.

Holding Period Adalah rata-rata panjangnya waktu yang digunakan investor untuk menyimpan atau menahan suatu saham selama periode waktu tertentu. Investor mempunyai risiko dalam berinvestasi saham yang mereka jual-belikan dipasar modal. Periode lamanya investor memegang suatu saham dilakukan untuk mendapatkan keuntungan berupa capital gain dan dividend yield.

Dalam prektiknya, setiap investor mempunyai selera sendiri-sendiri (appetite) terhadap saham-saham yang dibelinya. Ada yang suka saham properti, ritel, semen, pertambangan, minyak, dan gas bumi dan lain-lain.

Jika investor memperkirakan harga saham yang dimilikinya akan meningkat maka investor cenderung untuk memegang sahamnya hingga saham tersebut benar-benar naik. Sebalikya, Jika investor memperkirakan harga saham akan turun maka investor akan menjual saham yang dimilikinya. Hal ini dilakukan para investor untuk meminimalkan risiko yang akan di hadapinya.

Secara umum keputusan membeli atau menjual saham ditentukan oleh perbandingan antara perkiraan nilai intrinsik dengan harga pasarnya, dengan kriteria sebagai berikut :
  1. jika harga pasar saham lebih rendah dari nilai intrinsiknya, saham tersebut sebaiknya dibeli dan ditahan sementara dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan capital gain (keuntungan dari penjualan modal) jika kemudian harganya kembali naik.
  2. jika harga saham tersebut sama dengan nilai intrinsiknya, jangan melakukan transaksi. Karena saham tersebut dalam keadaan seimbang, transaksi pembelian atau penjualan saham tidak akan ada untung yang di peroleh.
  3. jika harga pasar saham lebih tinggi dari nilai intrinsiknya, saham tersebut sebaiknya dijual untuk menghindari kerugian karena harganya kemudian akan turun menyesuaikan nilainya.
Aturan umum tersebut sangat sederhana dan mudah di pahami, namun cukup sulit di praktikan. kesulitannya adalah dalam menentukan nilai intrinsiknya. Oleh karena itu, proses perhitungan tersebut harus dilakukan secara berkesinambungan.

Fenomena mengenai perilaku holding period terjadi terhadap saham PT Astra Agro Lestari Tbk. (AALI) di Bursa Efek Indonesia. Saham AALI adalah salah satu saham yang tergolong dalam saham LQ-45 dan selalu tercatat pada periode 2011-2013. berikut adalah grafik fluktuasi holding period saham AALI :
holding period saham AALI

Kondisi holding period yang terjadi pada saham PT Astra Agro Lestari Tbk bulan Januari- Desember 2013. Berdasarkan data tesebut, holding Period saham perusahaan AALI pada bulan Januari-Desember 2013 mengalami kondisi yang berfluktuatif. Holding period terlama terjadi pada bulan Januari, yaitu selama 75,72 bulan dan holding period terpendek pada bulan September yaitu selama 29,72 bulan.

Rata-rata holding period investor untuk setiap tahun dapat dihitung dengan membagi jumlah saham beredar pada saham perusahaan i per akhir tahun t dengan rata-rata  volume  perdagangan  saham  i  tahun  t  yang dapat diformulasikan sebagai berikut:

Keputusan  untuk  menahan saham  dipengaruhi  oleh  beberapa faktor yaitu market  value dan  Variance  Return. Market  value  adalah  harga  saham yang  terjadi  di  pasar pada periode tertentu yang  ditentukan  oleh  pelaku  pasar. Sedangkan Variance Return merupakan  proksi  dari  tingkat  risiko  yang  diakibatkan  oleh fluktuasi  harga  saham.

Itulah ulasan mengenai Cara Mengambil Keputusan Menjual Atau Membeli Saham : Holding Period. Baca juga faktor-faktor yang mempengaruhi holding period tersebut : market value dan varience return.

Related Posts

Cara Mengambil Keputusan Menjual Atau Membeli Saham : Holding Period
4/ 5
Oleh

Contact Me

Name

Email *

Message *