Pengakuan Pendapatan Sebelum Penyerahan

Pengakuan Pendapatan Sebelum Penyerahan biasanya terjadi pada perusahaan kontraktor. Kontrak jangka panjang seperti kontrak jenis konstruksi, pengembangan pesawat terbang militer dan komersial, seringkali menetapkan bahwa penjual (kontraktor) dapat menagih pembeli pada selang waktu tertentu, ketika berbagai tahap dari proyek itu telah dicapai. Ada dua metode akuntansi yang sangat berbeda untuk kontrak konstruksi jangka panjang yang diakui oleh profesi akuntansi :
  1. Metode Persentase Penyelesaian (percentage-of-completion method)
  2. Metode Kontrak Selesai
Metode persentase penyelesaian harus digunakan jika estimasi kemajuan ke arah penyelesaian, pendapatan, serta biaya secara layak dapat dipercaya dan semua syarat berikut terpenuhi :
  1. Kontrak itu secara jelas menetapkan hak-hak yang dapat dipaksakan pemberlakuannya mengenai barang atau jasa yang akan diberikan dan diterima oleh pihak yang terlibat dalam kontrak, imbalan yang akan dipertukarkan, serta cara & syarat penyelesaian.
  2. Pembeli dapat diharapkan untuk memenuhi semua kewajiban dalam kontrak.
  3. Kontraktor dapat diharapkan untuk melaksanakan kewajiban kontraktual.
Metode Kontrak selesai harus digunakan hanya jika :
  1. punya kontrak jangka pendek,
  2. syarat-syarat metode persentase penyelesaian tidak terpenuhi,
  3. terdapat bahaya yg melekat dalam kontrak di luar risiko bisnis normal.
Mengukur Persentase Penyelesaian.
Ada berbagai metode yang sekarang digunakan untuk mengukur kemajuan suatu kontrak. Metode-metode ini dapat dikelompokkan dalam dua kategori, yaitu :
  1. Ukuran masukan (input measures)
  2. Ukuran keluaran (output measures)
  • Ukuran Masukan.
Mengakui pendapatan, biaya, dan laba kotor sesuai dengan tercapainya kemajuan ke arah penyelesaian kontrak jangka panjang. Untuk menerapkan metode ini, harus ada beberapa dasar atau standar untuk mengukur kemajuan ke arah penyelesaian pada tgl interim tertentu.
Metode untuk mengukur tingkat kemajuan penyelesaian :
  1. Metode biaya terhadap biaya (cost-to-cost method)
  2. Metode upaya yg diperluas (efforts expended method)
Metode Biaya ke biaya.Barangkali yang paling terkenal dari ukuran masukan adalah metode biaya ke biaya. Menurut metode ini, tingkat penyelesaian ditentukan dengan membandingkan biaya yang sudah dikeluarkan dengan taksiran terbaru mengenai jumlah total biaya yang diharapkan untuk menyelesaikan proyek. Untuk menentukan laba tahun berjalan, persentase yang dihasilkan dari perbandingan antara  biaya yang sudah dikeluarkan dengan jumlah total biaya yang diharapkan dikalikan dengan laba bersih yang diharapkan dari proyek ini.

Beberapa dari biaya yang dikeluarkan, terutama pada tahap-tahap awal kontrak, harus dilupakan dalam menerapkan metode ini karena biaya-biaya ini tidak secara langsung berhubungan dengan usaha yang dicurahkan untuk kontrak tersebut. Biaya-biaya ini meliputi unsur-unsur seperti biaya subkontrak untuk pekerjaan yang masih harus dilaksanakan dan standar pemakaian bahan yang belum dibuat.

Masalah yang paling sulit dalam metode ini adalah menaksir biaya yang akan dikeluarkan. Namun taksiran ini diperlukan dalam melaporkan laba tanpa memperhatikan bagaimana persentase penyelesaian itu dihitung.

Ukuran masukan (input measures) – biaya yang terjadi, jam kerja – dibuat sesuai dengan upaya yang dicurahkan dalam suatu kontrak. Ukuran keluaran (output measures) – jumlah ton yg diproduksi, jumlah lantai bangunan yang diselesaikan, jumlah mil jalan yang diselesaikan – dibuat menurut hasilnya.

Ukuran masukan yang populer digunakan untuk mengukur kemajuan adalah dasar biaya terhadap biaya (cost-to-cost basic).
Rumus  untuk  persentase penyelesaian cost-to-cost basic

Persentase penyelesaian x  Estimasi total pendapatan (atau Laba Kotor )     = Pendapatan (laba kotor) yg diakui sampai tanggal ini
Pendapatan (laba kotor) yg akan diakui sampai tgl ini - Pendapatan (laba kotor) yg  diakui periode sblmnya = Pendapatan (laba kotor periode berjalan).

Metode upaya yang diperluas.Metode upaya yang diperluas didasarkan pada ukuran tertentu dari pekerjaan yang dilaksanakan. Ukuran itu meliputi jam kerja, upah buruh, jam mesin, atau kuantitas bahan. Dalam hal-hal tersebut, tingkat penyelesaian diukur dengan cara yang sama dengan yang digunakan dalam pendekatan biaya ke biaya, rasio dari usaha yang dicurahkan terhadap taksiran seluruh usaha yang akan dicurahkan untuk menyelesaikan kontrak. Sebagai contoh, jika ukuran dari pekerjaan yang dilaksanakan adalah jam kerja, maka rasio dari jam kerja yang sudah dilaksanakan terhadap taksiran seluruh jam kerja akan memberikan persentase yang akan digunkan dalam mengukur laba yang dihasilkan.
  • Ukuran Keluaran
Ukuran keluaran dibuat dengan hasil yang dicapai. Termasuk dalam kategori ini adalah metode-metode yang didasarkan pada unit yang dihasilkan dan pertambahan nilai (values added). Sebagai contoh, jika kontrak menghendaki unit keluaran, seperti panjang jalan yang sudah diselesaikan terhadap panjang jalan menurut kontrak. Para arsitek atau insinyur kadang-kadang diminta untuk mengevaluasi berbagai pekerjaan kemudian menaksir berapa persentase pekerjaan yang selesai. Taksiran ini dalam kenyataannya adalah ukuran keluaran dan biasanya didasarkan pada kemajuan fisik yang sudah tercapai atas suatu kontrak.

Akuntansi untuk Jenis Kontrak-kontrak Pembangunan Jangka Panjang
Terdapat perbedaan yang relative kecil dalam akuntansi untuk jenis kontrak –kontrak jangka panjang menurut metode persentase penyelesaian dan menurut metode kontrak selesai. Hanya waktu pengakuan pendapatan dan pengakuan penandingan biaya (matching cost) yang berbeda. Semua biaya langsung dan biaya tidak langsung yang dapat dialokasikan dibebankan pada suatu akun persediaan yaitu Konstruksi dalam Pelaksanaan (Construction in Progress), begitu biaya-biaya ini muncul. Akun persediaan juga meningkat dengan adanya laba yang diakui selama periode pembangunan.

Biasanya kontrak-kontrak mensyaratkan pengajuan faktur oleh kontraktor dan pembayaran faktur ini oleh pelanggan. Jumlah faktur ini biasanya ditentukan oleh syarat-syarat kontrak, dan mungkin dihubungkan dengan biaya-biaya yang benar-benar telah dikeluarkan.

Pada umumnya, kontrak-kontrak ini mengharuskan adanya pemeriksaan sebelum penyerahan akhir dilakukan. Sebagai perlindungan bagi pelanggan, perjanjian kontrak seringkali menetapkan suatu jumlah yang akan ditahan dan dikeluarkan dari kemajuan pengajuan faktur (progress billings). Penahanan ini biasanya berbentuk suatu persentase dari kemajuan pengajuan pengajuan faktur, berkisar antara 10 – 20 %, dan akan dibayar pada penerimaan akhir barang yang  dibangun. Faktur, termasuk jumlah yang ditahan, didebit pada perkiraan atau akun Piutang Dagang dan dikredit pada akun Kredit yang Ditangguhkan atau Penagihan Konstruksi dalam Pelaksanaan. Dengan demikian, pengajuan faktur pada hakikatnya memindahkan nilai harta dari persediaan ke piutang, tetapi karena kontrak bersifat jangka panjang, biaya-biaya pembangunan harus tetap tercermin dalam akun-akun.

Contoh: akuntansi kontrak konstruksi jangka panjang (long-term construction).

Harus menggunakan metoda  Percentage-of-Completion jika estimasi kemajuan pekerjaan, pendapatan, dan cost reasonably dependable dan  seluruh kondisi berikut ada:
  1. Kontrak secara jelas menetapkan enforceable rights terkait dengan barang atau jasa oleh masing-masing pihak, pertimbangan yang akan diubah setiap saat, dan hal-hal yang terkait dengan pembayaran .
  2. Pembeli dapat diharapkan memenuhi seluruh kewajibannya.
  3. Kontraktor dapat diharapkan melaksanakan pekerjaan sesuai kontrak.
Perusahaan harus menggunakan metoda  Kontrak Selesai jika  satu diantara kondisi berikut ini terpenuhi :
  1. Perusahaan memiliki kontrak jangka pendek, atau
  2. Perusahaan tidak dapat memenuhi kondisi untuk menggunakan metoda persentase penyelesaian, atau
  3. Ada inherent hazards dalam kontrak di luar kondisi normal, yang menimbulkan risiko bisnis. 
Pengakuan Pendapatan Sebelum Penyerahan biasanya terjadi pada perusahaan kontraktor. Kontrak jangka panjang seperti kontrak jenis konstruksi, pengembangan pesawat terbang militer dan komersial, seringkali menetapkan bahwa penjual (kontraktor) dapat menagih pembeli pada selang waktu tertentu, ketika berbagai tahap dari proyek itu telah dicapai. Ada dua metode akuntansi yang sangat berbeda untuk kontrak konstruksi jangka panjang yang diakui oleh profesi akuntansi :
  1. Metode Persentase Penyelesaian (percentage-of-completion method)
  2. Metode Kontrak Selesai
Metode persentase penyelesaian harus digunakan jika estimasi kemajuan ke arah penyelesaian, pendapatan, serta biaya secara layak dapat dipercaya dan semua syarat berikut terpenuhi :
  1. Kontrak itu secara jelas menetapkan hak-hak yang dapat dipaksakan pemberlakuannya mengenai barang atau jasa yang akan diberikan dan diterima oleh pihak yang terlibat dalam kontrak, imbalan yang akan dipertukarkan, serta cara & syarat penyelesaian.
  2. Pembeli dapat diharapkan untuk memenuhi semua kewajiban dalam kontrak.
  3. Kontraktor dapat diharapkan untuk melaksanakan kewajiban kontraktual.
Metode Kontrak selesai harus digunakan hanya jika :
  1. punya kontrak jangka pendek,
  2. syarat-syarat metode persentase penyelesaian tidak terpenuhi,
  3. terdapat bahaya yg melekat dalam kontrak di luar risiko bisnis normal.
Mengukur Persentase Penyelesaian.
Ada berbagai metode yang sekarang digunakan untuk mengukur kemajuan suatu kontrak. Metode-metode ini dapat dikelompokkan dalam dua kategori, yaitu :
  1. Ukuran masukan (input measures)
  2. Ukuran keluaran (output measures)
  • Ukuran Masukan.
Mengakui pendapatan, biaya, dan laba kotor sesuai dengan tercapainya kemajuan ke arah penyelesaian kontrak jangka panjang. Untuk menerapkan metode ini, harus ada beberapa dasar atau standar untuk mengukur kemajuan ke arah penyelesaian pada tgl interim tertentu.
Metode untuk mengukur tingkat kemajuan penyelesaian :
  1. Metode biaya terhadap biaya (cost-to-cost method)
  2. Metode upaya yg diperluas (efforts expended method)
Metode Biaya ke biaya.Barangkali yang paling terkenal dari ukuran masukan adalah metode biaya ke biaya. Menurut metode ini, tingkat penyelesaian ditentukan dengan membandingkan biaya yang sudah dikeluarkan dengan taksiran terbaru mengenai jumlah total biaya yang diharapkan untuk menyelesaikan proyek. Untuk menentukan laba tahun berjalan, persentase yang dihasilkan dari perbandingan antara  biaya yang sudah dikeluarkan dengan jumlah total biaya yang diharapkan dikalikan dengan laba bersih yang diharapkan dari proyek ini.

Beberapa dari biaya yang dikeluarkan, terutama pada tahap-tahap awal kontrak, harus dilupakan dalam menerapkan metode ini karena biaya-biaya ini tidak secara langsung berhubungan dengan usaha yang dicurahkan untuk kontrak tersebut. Biaya-biaya ini meliputi unsur-unsur seperti biaya subkontrak untuk pekerjaan yang masih harus dilaksanakan dan standar pemakaian bahan yang belum dibuat.

Masalah yang paling sulit dalam metode ini adalah menaksir biaya yang akan dikeluarkan. Namun taksiran ini diperlukan dalam melaporkan laba tanpa memperhatikan bagaimana persentase penyelesaian itu dihitung.

Ukuran masukan (input measures) – biaya yang terjadi, jam kerja – dibuat sesuai dengan upaya yang dicurahkan dalam suatu kontrak. Ukuran keluaran (output measures) – jumlah ton yg diproduksi, jumlah lantai bangunan yang diselesaikan, jumlah mil jalan yang diselesaikan – dibuat menurut hasilnya.

Ukuran masukan yang populer digunakan untuk mengukur kemajuan adalah dasar biaya terhadap biaya (cost-to-cost basic).
Rumus  untuk  persentase penyelesaian cost-to-cost basic

Persentase penyelesaian x  Estimasi total pendapatan (atau Laba Kotor )     = Pendapatan (laba kotor) yg diakui sampai tanggal ini
Pendapatan (laba kotor) yg akan diakui sampai tgl ini - Pendapatan (laba kotor) yg  diakui periode sblmnya = Pendapatan (laba kotor periode berjalan).

Metode upaya yang diperluas.Metode upaya yang diperluas didasarkan pada ukuran tertentu dari pekerjaan yang dilaksanakan. Ukuran itu meliputi jam kerja, upah buruh, jam mesin, atau kuantitas bahan. Dalam hal-hal tersebut, tingkat penyelesaian diukur dengan cara yang sama dengan yang digunakan dalam pendekatan biaya ke biaya, rasio dari usaha yang dicurahkan terhadap taksiran seluruh usaha yang akan dicurahkan untuk menyelesaikan kontrak. Sebagai contoh, jika ukuran dari pekerjaan yang dilaksanakan adalah jam kerja, maka rasio dari jam kerja yang sudah dilaksanakan terhadap taksiran seluruh jam kerja akan memberikan persentase yang akan digunkan dalam mengukur laba yang dihasilkan.
  • Ukuran Keluaran
Ukuran keluaran dibuat dengan hasil yang dicapai. Termasuk dalam kategori ini adalah metode-metode yang didasarkan pada unit yang dihasilkan dan pertambahan nilai (values added). Sebagai contoh, jika kontrak menghendaki unit keluaran, seperti panjang jalan yang sudah diselesaikan terhadap panjang jalan menurut kontrak. Para arsitek atau insinyur kadang-kadang diminta untuk mengevaluasi berbagai pekerjaan kemudian menaksir berapa persentase pekerjaan yang selesai. Taksiran ini dalam kenyataannya adalah ukuran keluaran dan biasanya didasarkan pada kemajuan fisik yang sudah tercapai atas suatu kontrak.

Akuntansi untuk Jenis Kontrak-kontrak Pembangunan Jangka Panjang
Terdapat perbedaan yang relative kecil dalam akuntansi untuk jenis kontrak –kontrak jangka panjang menurut metode persentase penyelesaian dan menurut metode kontrak selesai. Hanya waktu pengakuan pendapatan dan pengakuan penandingan biaya (matching cost) yang berbeda. Semua biaya langsung dan biaya tidak langsung yang dapat dialokasikan dibebankan pada suatu akun persediaan yaitu Konstruksi dalam Pelaksanaan (Construction in Progress), begitu biaya-biaya ini muncul. Akun persediaan juga meningkat dengan adanya laba yang diakui selama periode pembangunan.

Biasanya kontrak-kontrak mensyaratkan pengajuan faktur oleh kontraktor dan pembayaran faktur ini oleh pelanggan. Jumlah faktur ini biasanya ditentukan oleh syarat-syarat kontrak, dan mungkin dihubungkan dengan biaya-biaya yang benar-benar telah dikeluarkan.

Pada umumnya, kontrak-kontrak ini mengharuskan adanya pemeriksaan sebelum penyerahan akhir dilakukan. Sebagai perlindungan bagi pelanggan, perjanjian kontrak seringkali menetapkan suatu jumlah yang akan ditahan dan dikeluarkan dari kemajuan pengajuan faktur (progress billings). Penahanan ini biasanya berbentuk suatu persentase dari kemajuan pengajuan pengajuan faktur, berkisar antara 10 – 20 %, dan akan dibayar pada penerimaan akhir barang yang  dibangun. Faktur, termasuk jumlah yang ditahan, didebit pada perkiraan atau akun Piutang Dagang dan dikredit pada akun Kredit yang Ditangguhkan atau Penagihan Konstruksi dalam Pelaksanaan. Dengan demikian, pengajuan faktur pada hakikatnya memindahkan nilai harta dari persediaan ke piutang, tetapi karena kontrak bersifat jangka panjang, biaya-biaya pembangunan harus tetap tercermin dalam akun-akun.

Contoh: akuntansi kontrak konstruksi jangka panjang (long-term construction).

Harus menggunakan metoda  Percentage-of-Completion jika estimasi kemajuan pekerjaan, pendapatan, dan cost reasonably dependable dan  seluruh kondisi berikut ada:
  1. Kontrak secara jelas menetapkan enforceable rights terkait dengan barang atau jasa oleh masing-masing pihak, pertimbangan yang akan diubah setiap saat, dan hal-hal yang terkait dengan pembayaran .
  2. Pembeli dapat diharapkan memenuhi seluruh kewajibannya.
  3. Kontraktor dapat diharapkan melaksanakan pekerjaan sesuai kontrak.
Perusahaan harus menggunakan metoda  Kontrak Selesai jika  satu diantara kondisi berikut ini terpenuhi :
  1. Perusahaan memiliki kontrak jangka pendek, atau
  2. Perusahaan tidak dapat memenuhi kondisi untuk menggunakan metoda persentase penyelesaian, atau
  3. Ada inherent hazards dalam kontrak di luar kondisi normal, yang menimbulkan risiko bisnis. 

Related Posts

Pengakuan Pendapatan Sebelum Penyerahan
4/ 5
Oleh

Contact Me

Name

Email *

Message *