Persekutuan dan Pembentukan Usahanya

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Berbagai masalah akuntansi timbul didalam perusahaan yang dibentuk persekutuan. Perlakuan dan presedur akuntasi yang spesifik dan tidak bisa dijumpai pada perusahaan yang dibentuk perseroan terbatas, merupakan problema tersendiri sesuai dengan karakteristik persekutuan di dalam perseroan terbatas dimana terdapat pemisahaan yang tegas antara pemilik dengan menejemen, dipakai sebagai dasar landasan untuk meletakkan prinsip-prinsip akuntansi yang lazim.
Didalam persekutuan pemisahan antara pemilik dengan manajemen demikian itu hampir tidak ada, namun demikian penyelanggaran akutansinya harus berpedoman pada ketentuan-ketentuan yang diatur oleh prinsip-prinsip akuntansi yang lazim.
Dari segi akuntansinya persekutuan sebagai unit usaha harus dianggap mempunyai kedududkan terpisah dengan pemilik-pemiliknya.

1.2  Rumusan Masalah

Ø  Apa itu Persekutuan ?
Ø  Bagaimana akuntansi terhadap pernyataan modal  persekutuan ?
Ø  Bagaimana pembagian laba dalam persekutuan?

1.3  Tujuan

Ø  Mengetahui persekutuan .
Ø  Mengetahui akuntansi terhadap.persekutuan.
Ø  Mengetahui Pembagian laba dalam persekutuan


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Persekutuan
Persekutuan (Partnership) adalah suatu penggabungan diantara dua orang (badan) atau lebih untuk memiliki bersama-sama dan menjalankan suatu perusahaan guna mendapatkan keuntungan atau laba.
2.2 Karakteristik Persekutuan
Secara umum ada 5 yang menjadi karakteristik persekutuan yaitu :
a.        Berusaha Bersama-sama (Mutual Agency)
Setiap anggota merupakan agen dari pada persekutuan untuk mencapai tujuan usahanya.
b.        Jangka waktu terbatas (Limited life)
Persekutuan tetap ada selama orang-orang (badan-badan) yang mengadakan persekutuan itu ada dan masing-masing masih tetap menghendakinya. Setiap perubahan yang berhubungan dengan maksud mengkahiri penjanjian dari para anggota berarti membubarkan persekutuan. Penarikan modal atau kaitan seorang anggota otomatis membubarkan persekutuan.
c.         Tanggung jawab tidak terbatas (Unlimited Liability )
Tangung jawab seorang anggota terbatas pada jumlah yang ditanam di dalam usaha persekutuan. Apabila di dalam keadaan tertentu persekutuan tidak dapat membayar hutang-hutangnya karena jumlah kekayaan tidak cukup, maka kreditur berhak menagih pada salah satu seorang dari anggota persekutuan tersebut.
d.        Memiliki suatu bagian/hak di dalam persekutuan (Ownership of an Interest in a Partnership)
Kekayaan yang ditanam di dalam perusahaan tidak lebih dari hak milik yang  terpisah dari anggota  yang menjadi kekayaan persekutuan. Anggota yang menanamkan kekayaan ke dalam persekutuan berarti menyerahkan haknya untuk mengusahakan dan menggunakan kekayaannya itu, dan sepenuhnya rela untuk dipakai guna mencapai tujuan-tujuan persekutuan. Hak yang diberikan kepada persekutuan ini memberikan hak yang sama dengan anggota lainnya untuk memimpin dan menjalankan usaha persekutuan.
e.         Pengembalian bagian keuntungan persekutuan
Setiap anggota mendapat bagian dari  keuntungan persekutuan. Suatu persetujuan yang dibuat untuk membagi keuntungan  itu sendiri, tidak merupakan suatu bentuk persekutuan.   

2.3 Bentuk-Bentuk Persekutuan dan Perjanjian dalam Persekutuan.
Persekutuan dapat diklasifikasikan ke dalam :
Persekutuan Perdagangan
Adalah persekutuan yang usaha pokoknya adalah pembuatan, pembelian, dan penjualan barang dagangan.
Persekutuan Jasa-jasa
Adalah persekutuan yang bertujuan untuk memberikan jasa-jasa karena keahliannya, misalnya persekutuan antara akuntan, advokat dll.
Selain itu persekutuan dapat pula dibedakan antara :
Persekutuan Umum
Adalah suatu bentuk persekutuan dimana semua anggotanya dapat bertindak atas nama perusahaan dan kepadanya dapat diminta pertanggung jawaban atas kewajiban-kewajiban persekutuan. Masing-masing anggota disebut sekutu umum.
Persekutuan Terbatas
Suatu persekutuan dimana aktivitas angota tertentu dibatasi dan sebaliknya tanggung jawab masing-masing anggota akan dibatasi samapi jumlah tertentu, yang mungkin sejumlah investasi yag telah diberikannya. Anggota tersebut disebut sekutu terbatas.
Join Stock Companies
Adalah bentuk persekutuan dimana struktur modalnya berupa saham-saham yang dapat dipindah tangankan. Perpindahan hak atas saham-saham tersebut tidak boleh mengganggu kontinuitas usaha persekutuan. Tanggung jawab para anggota tidak terbatas seperti halnya pada persekutuan umum.
Perjanjian Dalam Persekutuan
Dalam persekutuan tentu harus ada perjanjian sebagai dasar pijakan pembentukan persekutuan tersebut. Pada perjanjian persektuan berisi tentang, nama persekutuan, anggota, tanggal berdiri, sifat serta bidang usaha, dan beberapa hal yang harus ada yaitu ;
1.      Besarnya investasi dari masing-masing anggota
2.      Hak dan kewajiban anggota
3.      Buku-buku catatan dan laporan keuangan
4.      Pembagian keuntungan
5.      Hal-hal khusus yang  menyangkut masalah pembebanan dan penerimaan imbalan jasa tertentu diantara para anggota.
6.      Penarikan kembali modal yang disetor
7.      Asuransi jiwa kematian salah satu anggota
8.      Penyelesaian apabila ada perselisihan ddiantara para anggota dan lain-lain. 


2.4 Penyertaan Modal dalam Persekutuan
Proses  akuntansi yang spesifik pada persekutuan adalah masalah pencatatan pengakuan dan pengukuran milik atau penyertaan (hak) masing-masing anggota dalam persekutuan. Hak masing-masing anggota diikhtisarkan dalam rekening modal masing-masing anggota sekutu.
Pembentukan Awal Persekutuan
Contoh :
Tuan Petruk, Gareng dan Semar sepakat mendirikan sebuah persekutuan dengan investasi masing-masing sebesar Rp. 7.500.000, Rp. 6.000.000 dan Rp. 8.000.000. dalam persekutuan tersebut mereka sepakat untuk melakukan pembagian keuntungan dengan perbandingan yang sama. Pada tahun pertama persekutuan mendapat keuntungan sebesar Rp. 3.000.000,-. Pencatatan atas modal dan kuntungan masing-masing sekutu adalah sebagai berikut :
Modal Petruk
Modal gareng
Modal Semar
Kekayaan Bersih
Keterangan
7.500.000
6.000.000
8.000.000
21.500.000
Investasi awal
1.000.000
1.000.000
1.000.000
3.000.0000
Keuntungan
8.500.000
7.000.000
9.000.000
24.500.000

Bentuk jurnal yang dibuat adalah :
Uraian
D
K
Kas
21.500.000
Modal Gareng
7.500.000
Modal Petruk
6.000.000
Modal Semar
8.000.000
Laba Rugi
6.000.000
Pribadi Gareng
1.000.000
Pribadi Petruk
1.000.000
Pribadi Semar
1.000.000

Apabila persekutuan tersebut menderita kerugian kerugian sebesar Rp. 18.000.000, dengan porsi pembagian rugi di bagi dengan perbandingan yang sama, maka :
Modal Petruk
Modal gareng
Modal Semar
Kekayaan Bersih
Keterangan
7.500.000
6.000.000
8.000.000
21.500.000
Investasi awal
(6.000.000)
(6.000.000)
(6.000.000)
(18.000.0000)
Rugi
1.500.000
0
2.000.000
3.500.000

Pada saat persekutuan akan dilikuidasi, maka Gareng tidak akan mendapatkan pengembalian modal karena modal tersebut sudah habis untuk membayar kerugian persekutuan, sedangkan Petruk dan Semar akan mendapatkan pengembalian sebesar sisa masing-masing modal setelah di potong dengan kerugian persekutuan.
2.5 Pembentukan dengan Menggabungkan Perusahaan yang Sudah Berjalan
Dalam kasus ini ada dua permasalahan yang bisa timbul yaitu :
ü  Apabila persekutuan akan melanjutkan pembukuan dari salah satu perusahan yang sudah ada atau membentuk pembukuan tersendiri.
ü  Apakah perubahan atau penilaian tertentu terhadap posisi aktiva, hutang dari masing-masing perusahaan yang akan digabungkan perlu diadakan atau tidak perlu diadakan.

Contoh :
Tuan Petruk, dan Gareng masing-masing sepakat untuk membentuk persekutuan  
Petruk telah memiliki perusahaan yang sudah berjalan, dimana Gareng bermaksud akan menggabungkan diri ke dalam perusahaan tersebut dengan setoran modal Gareng sebesar  Rp. 10.000.000,-.
Adapun neraca perusahaan yang dimiliki oleh Petruk adalah :
PETRUK
NERACA, PER 31 DESEMBER 2007
URAIAN
D
K
Kas
         4,500,000
Piutang Dagang
       12,000,000
Cadangan Kerugian Piutang
       (1,200,000)
Persediaan Barang Dagangan
       14,000,000
Suplies Kantor
         1,500,000
Peralatan Kantor
         5,000,000
Kendaraan
       15,000,000
Akumulasi Penyusutan Pralatan
         2,000,000
Akumulasi peyusutan Kendaraan
         4,500,000
Hutang
       37,300,000
Modal Petruk
       20,000,000
 Jumlah …………..
       57,300,000
       57,300,000

Dalam pembentukan persekutuan tersebut ke dua belah pihak sepakat dengan perjanjian sebagai berikut :
1.      Uang kas diambil seluruhnya oleh Petruk 
2.      Dari seluruh piutang dagang yang ada, sebesar Rp 4.000.000 dianggap tidak bisa tertagih dan cadangan kerugian ditetapkan sebesar 10% dari saldo piutang yang baru.
3.      Setelah diadakan penilaian kembali terhadap persediaan barang dagangan berdasarkan harga pasar, nilai persediaan menjadi Rp. 18.000.000
4.      Kendaraan dinilai sebesar Rp. 20.000.000 tetapi telah disusutkan sebesar 50%, sehingga menjadi Rp. 10.000.000 ;
5.      Good wil diberikan kepada Petruk atas prestasi perusahaannya sebesar Rp. 15.000.000

Persekutuan yang baru dibentuk melanjutkan pembukuan yang sudah ada
Mencatat penilaian kembali berbagai macam aktiva :
Cadangan Kerugian piutang ………     800.000
Persediaan Barang Dagangan ……..   4.000.000
Akumulasi Peny. Kendaraan ………  4.500.000
Good Will ………………………… 15.000.000 
            Piutang Dagang  ………………………………..     4.000.000
              Kendaraan ……………………………………...     5.000.000
              Modal Petruk ……………………………………  15.300.000
Jurnal :
Mencatat Setoran Modal Gareng
Kas ……………………………… 10.000.000
     Modal Gareng ………………………………….. 10.000.000
Mencatat pengambilan uang kas oleh Petruk
Modal Petruk …………………… 4.500.000
                 Kas ……………………………………………. 4.500.000
Pencatatan dengan membentuk buku-buku baru tersendiri
Mencatat kekayaan Petruk sebagai setoran modal
Piutang dagang …………. ….. 14.000.000,-
Persed. Brg. Dagangan ……… 18.000.000
Suplies kantor ……………….    1.500.000
Peralatan Kantor ……………     5.000.000
Kendaraan …………………... 10.000.000
Goodwil …………………….  15.000.000 
            Cadangan Kerugian …………………….          400.000,-
              Hutang ………………………………….     37.300.000
              Modal Petruk ……………………………     25.800.000
Mencatat setoran modal Gareng
Kas  ………………………… 10.000.000
      Modal Gareng …………………………..  10.000.000

Maka neraca persekutuan Petruk dan Gareng adalah sebagai berikut :
PERSEKUTUAN PETRUK DAN GARENG
NERACA, PER JANUARI 2008
URAIAN
D
K
Kas
         10,000,000
Piutang Dagang
       14,000,000
Cadangan Kerugian Piutang
       (400.00)
Persediaan Barang Dagangan
       18,000,000
Suplies Kantor
         1,500,000
Peralatan Kantor
         5,000,000
Kendaraan
       10,000,000
Akumulasi Penyusutan Pralatan
         0
Akumulasi peyusutan Kendaraan
         0
Goodwill
15.000.000
Hutang
       37,300,000
Modal Gareng
10.000.000
Modal Petruk
       25,800,000
 Jumlah …………..
73.100.000
73.100.000   




2.6 Pembagian laba (rugi) di dalam Persekutuan
Para angota persekutuan dapat membuat persetujuan pembagian laba (rugi) yang dianggap sesuai dengan kontribusi masing-masing anggota di dalam persekutuan. Terdapat berbagai cara yang dapat dipakai sebagai dasar pembagian laba (rugi) di dalam persekutuan. Dasar pembagian laba (rugi) yang dipilih harus dinyatakan di dalam perjanjian persekutuan. Adapun berbagai cara pembagian laba (rugi) yang akan dikemukakan disini adalah:
1.Dibagi sama.
2.Dengan perbandingan atas dasar perjanjian.
3.Dengan perbandingan penyertaan modal.
4.Mula-mula ditentukan bunga modal dari masing-masing anggota, selebihnya dibagi atas dasar perjanjian.
5. Mula-mula diberikan gaji sebagai pemilik dan bonus kepada anggota yang aktif bekerja, sisanya dibagi atas dasar perjanjian.
6. Mula-mula diterapkan bunga untuk modal dari anggota, kemudian gaji sebagai pemilik dan bonus untuk anggota-anggota yang dianggap berjasa dan sisanya dibagi atas dasar perjanjian bersama.
Contoh :
            Tuan F, G dan H telah mendirikan sebuah persekutuan dan pada tahun 1980 mendapatkan keuntungan sebesar Rp 150.000,00. Pada akhir tahun1980, diketahui posisi rekening pribadi (prive/personal/current account) dan rekening “modal” masing-masing anggota adalah sebagai berikut :

         Apabila disetujui laba (rugi) yang diperoleh dibagi sama :
Rugi & Laba               Rp 150.000,00
            Pribadi, F                          Rp 50.000,00
            Pribadi, G                               Rp 50.000,00 
            Pribadi, H                               Rp 50.000,00
Apabila  pembagian laba/rugi  dengan 
perbandingan  Tuan F : G : H = 3 : 5 :7
 
Rugi & Laba            Rp 150.000,00
            Pribadi, F                                  Rp 30.000,00
            Pribadi, G                                  Rp 50.000,00 
            Pribadi, H                                  Rp 70.000,00
 
   Perhitungan:  
Bagian laba Tuan F = 3/15 x 150.000       =  Rp  30.000,00
 Bagian laba Tuan G = 5/15 x 150.00        =  Rp   50.000,00
 Bagian laba Tuan H = 7/15 x 150.000      =  Rp   70.000,00
                           Total                                      Rp 150.000,00
Apabila  pembagian laba (rugi) sesuai perbandingan penyertaan modal dari masing-masing anggota
       Dalam hal ini ada 3 kemungkinan yang bias ditempuh, yaitu :
         Sesuai dengan perbandingan modal awal.
           Rugi & Laba                    Rp 150.000,00
            Pribadi, F                                        Rp 37.500,00
            Pribadi, G                                       Rp 50.000,00 
            Pribadi, H                                       Rp 62.500,00
         Sesuai dengan perbandingan modal akhir.
         Rugi & Laba                    Rp 150.000,00
                     Pribadi, F                                        Rp 40.000,00
                     Pribadi, G                                       Rp 50.000,00 
                     Pribadi, H                                       Rp 60.000,00
                         

         Sesuai dengan perbandingan modal rata-rata tahunan
             Rugi & Laba                  Rp 150.000,00
                     Pribadi, F                                        Rp 33.750,00
                     Pribadi, G                                       Rp 41.250,00 
                     Pribadi, H                                       Rp 75.000,00

Masalah Gaji Pemilik, dan Bunga Modal.
         Di dalam akuntansi gaji pemilik dan bunga modal (sendiri) tidak diakui sebagai biaya (usaha) bagi perusahaan, karena pada umumnya ditentukan sepihak (oleh pemilik sendiri) dan bukan atas transaksi yang obyektif. Namun jika dapat diidentifikasikan dengan jasa dan bunga modal maka harus diperlukan sebagai biaya yang sebenarnya.
            Bagi manajemen lebih bermanfaat untuk memperlakukan gaji pemilik dan bunga modal (sendiri) sama halnya dengan biaya usaha. Untuk itu informasi laba (rugi) periodiknya lebih menggambarkan kemampuan perusahaan memperoleh laba yang sebenarnya.
contohnya sebgai berikut :
A dan B adalah anggota-anggota persekutuan yang membagi laba (rugi) dengan perbandingan yang sama. Kepada mereka sebagai pemilik diberi gaji masing-masing sebesar Rp. 75.000,00 per bulan untuk A dan Rp. 100.000,00 per bulan untuk B. menurut Laporan Perhitungan Rugi-laba dalm periode tahun buku 1980, perusahaan memperoleh laba sebesar Rp. 2.500.000,00.
Apabila gaji yang diberikan kepada A dan B diperlakukan sebagai faktor pembagian laba, maka laba sebesar Rp. 2.500.000,00 menurut laporan Perhitungan Rugi-Laba tersebut, akan mamberikan hak atas laba kepada masing-masing anggota sebagai berikut :
Akan tetapi apabila gaji yang dibayarkan kepada A dan B diperlakukan sebagai biaya usaha, maka pembagian laba sebesar Rp. 2.500.000 akan memberikan hak atas laba kepada masing-masing anggota sebesar Rp. 1.250.000
Dengan demikian jerlas B akan memilih untuk memperlakukan gaji yang telah diterimanya itu sebagai pembagian laba. Sedang bagi A lebih untung apabila gaji pemilik diperlakukan sabagai biaya usaha bagi perusahaan.
Gaji Pemilik dan atau Bunga Modal di atas jumlah laba bersih
Contohnya :
A dan B adalah anggota persekutuan mempunyai saldo modal masing-masing    
sebesar  Rp. 100.000,00 untuk A. dan Rp. 200.000,00 untuk B. pembagian  
laba diatur dengan ketentuan sebagai berikut :
Mula –mula di perhitungkan bunga modal sebesar 6% per tahun, sedang di
bagi dengan perbandingan yang sama.
Apabila dalam tahun 1980, perusahaan memperoleh laba sebesar Rp.
50.000,00 maka pembagian laba tersebut adalah :
Apabila laba dalam tahun 1980 sebesar Rp. 10.000 atau Rp. 8.000 (lebih kecil dari bunga modal) maka pembagian laba tersebut adalah :
Apabila  perusahaan rugi sebesar Rp. 4.000,00 dalam tahun 1980, maka bunga modal harus diperhitungkan terlebih dahulu sehingga diperoleh pembagian laba sebagai berikut :
Karena perusahaan  mengalami kerugian dan barang tidak membagikan laba kepada anggotanya, kecuali untuk bunga modal yang telah dibayarkan. Perhitungan pembagian laba(rugi) dalam tahun yang bersangkutan di bebankan langsung kepada saldo modal masing-masing anggota. Meskipun B masih berhak menerima pembagian laba Rp. 1.000 menurut perhitungan pembagian laba (rugi), tetapi tidak mungkin ia menagihnya kepada A. penurunan perhitungan kekayaan bersih persekutuan sebesar Rp. 22.000 (rugi usaha Rp. 4.000 di tambah bunga modal Rp. 18.000 akan diikuti dengan berkurangnya saldo modal masing-masing anggota sebesar Rp. 11.000 seperti terlihat pada tabel berikut ini :
Dengan demikian ada sebagian modal A sebesar Rp. 1.000 (yaitu selisih lebih rugi usaha dengan jumlah kerugian yang ditanggung oleh A = Rp. 4.000 – Rp. 5.000 ) terserap dan berpindah  menjadi haknya B sebagai partnernya. Hal ini juga terbukti dari jumlah uang yang telah diterima B sebesar Rp. 12.000 dari perusahaan, akan tatapi saldo modalnya hanya berkurang sebesar Rp. 11.000 dalam tahun buku 1980
Untuk menghindari keadaan sperti itu, maka biasanya di dalam perjanjian pembagian laba ditegaskan adanay pembatasan terhadap jumlah minimum laba yang di dapat. Berdasarkan ketentuan jumlah minimum laba tersebut biasanya di tentukan jumlah gaji pemilik dan bunga modal yang diperhitungkan sebagai faktor pembagian laba. Apabila diadakan batasan, berarti laba di bawah jumlah minimum yang ditetapkan atau jumlah kerugian harus dibagi berdasar ketentuan lain yang di tetapkan dalam perjanjian.
Misalnya dalam perjanjian pembagian laba(rugi) persekutuan A&B pada contoh di atas ditambah ketentuan sbb :
         >laba di bawah jumlah bunga modal yang diperhitungkan dibagi sesuai   
dengan perbandingan modal, sedang kerugian yang dibagi dengan perbandingan yang sama.
         >Kerugian yang diderita Rp. 4.000,00 dalam tahun 1980. dibagi rata jadi Rp. 2.000.
         >Penurunan kekayaan sebesar Rp. 22.000 diikuti berkurangnya saldo masing-masing anggota.
 Koreksi atas L / R tahun-tahun yang lalu
            Di dalam persekutuan, masalah yang dihadapi dalam koreksi laba (rugi) ialah pengaruhnya terhadap hak pemilikan dan bagian atas laba (rugi) kepada masing-masing pribadi anggota (pemilik). Hal ini menyangkut masalah koreksi dan penyesuaian terhadap alokasi laba (rugi) kepada msing-masing anggota pemilik.
Pada umumnya tiga alternatif berikut ini dapat dipakai untuk menyelesaikan penyesuaian alokasi atas laba (rugi) tahun-thaun yang lalu :
1. Jumlah koreksi laba (rugi) yang relatif kecil, cukup ditutup atau dibebebankan kepada laba (rugi) tahun yang berjalan, asal tidak mempengaruhi secara material terhadap hak-hak pemilikan (saldo modal) dari masing-masing anggota pemilik.
2. Apabila jumlah koreksi cukup besar,dan sulit diidentifikasikan,dapat dibebankan kepada laba (rugi) tahun yang berjalan atau dialokasikan sebagian kepada laba (rugi) tahun-tahun yang lalu sesuai dengan kehendak para anggota pemilik.
3. Apabila koreksi laba (rugi) cukup besar,dan dapat diidentifikasikan.Misalnya ada kesalahan perhitungan beban penyusutan aktiva tetap,  maka perhitungan dan alokasi kembali laba (rugi) kepada masing-masing pemilik harus dilakukan.
         Neraca
          Sebagian besar ketentuan di dalam penyusunan neraca pesekutuan tidak berbeda dengan neraca perusahaan pada umumnya. Kecuali penyajian pada sisi passive di dalam neraca persekutuan menggunakan dasar “konsep pemilik (proprietary concept)”, dengan menonjolkan hak pemilikan tiap-tiap anggota melalui rekening modalnya secara terpisah.
Perubahan Ratio Pembagian Laba (rugi)
            Apabila para anggota pemilik bersepakat untuk mengadakan perubahan ketentuan pembagian laba (rugi) perusahaan, maka terlebih dahulu harus diadakan penilaian kembali terhadap aktiva perusahaan sebelum ketentuan yang baru mulai berlaku. Hal ini dianggap penting agar perimbangan hak-hak pemlikan setelah berlakunya ketentuan yang baru tetap dapat dipertahankan. Peubahan ketentuan pembagian laba (rugi) tanpa diikuti penilaian kembali aktiva, kemungkinan akan mengakibatkan keuntungan pada sebagian pemilik dan kerugian bagi sebagian pemilik lainya dari posisi aktiva sebelum ketentuan baru itu mulai berlaku. Dengan kata lain perubahan ketentuan pembagian laba, kemungkinan berlaku surut.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Persekutuan (Partnership) adalah suatu penggabungan diantara dua orang (badan) atau lebih untuk memiliki bersama-sama dan menjalankan suatu perusahaan guna mendapatkan keuntungan atau laba.
            Karakteristik Persekutuan, secara umum ada 5 yang menjadi karakteristik persekutuan yaitu : Berusaha Bersama-sama (Mutual Agency), Jangka waktu terbatas (Limited life), Tanggung jawab tidak terbatas (Unlimited Liability ), Memiliki suatu bagian/hak di dalam persekutuan (Ownership of an Interest in a Partnership), Pengembalian bagian keuntungan persekutuan.
Persekutuan dapat diklasifikasikan ke dalam: Persekutuan Perdagangan , Persekutuan Jasa-jasa. Selain itu persekutuan dapat pula dibedakan antara : Persekutuan Umum, Persekutuan Terbatas , Join Stock Companies.
Dalam persekutuan tentu harus ada perjanjian sebagai dasar pijakan pembentukan persekutuan tersebut. Pada perjanjian persektuan berisi tentang, nama persekutuan, anggota, tanggal berdiri, sifat serta bidang usaha.
Proses  akuntansi yang spesifik pada persekutuan adalah masalah pencatatan pengakuan dan pengukuran milik atau penyertaan (hak) masing-masing anggota dalam persekutuan. Hak masing-masing anggota diikhtisarkan dalam rekening modal masing-masing anggota sekutu.
3.2 Saran
Pada kenyataannya, pembuatan makalah ini bersifat sangat sederhana dan simpel. Pembuatan makalah ini masih memerlukan kritikan dan saran bagi pembahasan materi ini. Maka saran dan kritikan dari teman mahasiswa sangat kami butuhkan untuk perbaikkan makalah ini menjadi lebih baik.

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Berbagai masalah akuntansi timbul didalam perusahaan yang dibentuk persekutuan. Perlakuan dan presedur akuntasi yang spesifik dan tidak bisa dijumpai pada perusahaan yang dibentuk perseroan terbatas, merupakan problema tersendiri sesuai dengan karakteristik persekutuan di dalam perseroan terbatas dimana terdapat pemisahaan yang tegas antara pemilik dengan menejemen, dipakai sebagai dasar landasan untuk meletakkan prinsip-prinsip akuntansi yang lazim.
Didalam persekutuan pemisahan antara pemilik dengan manajemen demikian itu hampir tidak ada, namun demikian penyelanggaran akutansinya harus berpedoman pada ketentuan-ketentuan yang diatur oleh prinsip-prinsip akuntansi yang lazim.
Dari segi akuntansinya persekutuan sebagai unit usaha harus dianggap mempunyai kedududkan terpisah dengan pemilik-pemiliknya.

1.2  Rumusan Masalah

Ø  Apa itu Persekutuan ?
Ø  Bagaimana akuntansi terhadap pernyataan modal  persekutuan ?
Ø  Bagaimana pembagian laba dalam persekutuan?

1.3  Tujuan

Ø  Mengetahui persekutuan .
Ø  Mengetahui akuntansi terhadap.persekutuan.
Ø  Mengetahui Pembagian laba dalam persekutuan


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Persekutuan
Persekutuan (Partnership) adalah suatu penggabungan diantara dua orang (badan) atau lebih untuk memiliki bersama-sama dan menjalankan suatu perusahaan guna mendapatkan keuntungan atau laba.
2.2 Karakteristik Persekutuan
Secara umum ada 5 yang menjadi karakteristik persekutuan yaitu :
a.        Berusaha Bersama-sama (Mutual Agency)
Setiap anggota merupakan agen dari pada persekutuan untuk mencapai tujuan usahanya.
b.        Jangka waktu terbatas (Limited life)
Persekutuan tetap ada selama orang-orang (badan-badan) yang mengadakan persekutuan itu ada dan masing-masing masih tetap menghendakinya. Setiap perubahan yang berhubungan dengan maksud mengkahiri penjanjian dari para anggota berarti membubarkan persekutuan. Penarikan modal atau kaitan seorang anggota otomatis membubarkan persekutuan.
c.         Tanggung jawab tidak terbatas (Unlimited Liability )
Tangung jawab seorang anggota terbatas pada jumlah yang ditanam di dalam usaha persekutuan. Apabila di dalam keadaan tertentu persekutuan tidak dapat membayar hutang-hutangnya karena jumlah kekayaan tidak cukup, maka kreditur berhak menagih pada salah satu seorang dari anggota persekutuan tersebut.
d.        Memiliki suatu bagian/hak di dalam persekutuan (Ownership of an Interest in a Partnership)
Kekayaan yang ditanam di dalam perusahaan tidak lebih dari hak milik yang  terpisah dari anggota  yang menjadi kekayaan persekutuan. Anggota yang menanamkan kekayaan ke dalam persekutuan berarti menyerahkan haknya untuk mengusahakan dan menggunakan kekayaannya itu, dan sepenuhnya rela untuk dipakai guna mencapai tujuan-tujuan persekutuan. Hak yang diberikan kepada persekutuan ini memberikan hak yang sama dengan anggota lainnya untuk memimpin dan menjalankan usaha persekutuan.
e.         Pengembalian bagian keuntungan persekutuan
Setiap anggota mendapat bagian dari  keuntungan persekutuan. Suatu persetujuan yang dibuat untuk membagi keuntungan  itu sendiri, tidak merupakan suatu bentuk persekutuan.   

2.3 Bentuk-Bentuk Persekutuan dan Perjanjian dalam Persekutuan.
Persekutuan dapat diklasifikasikan ke dalam :
Persekutuan Perdagangan
Adalah persekutuan yang usaha pokoknya adalah pembuatan, pembelian, dan penjualan barang dagangan.
Persekutuan Jasa-jasa
Adalah persekutuan yang bertujuan untuk memberikan jasa-jasa karena keahliannya, misalnya persekutuan antara akuntan, advokat dll.
Selain itu persekutuan dapat pula dibedakan antara :
Persekutuan Umum
Adalah suatu bentuk persekutuan dimana semua anggotanya dapat bertindak atas nama perusahaan dan kepadanya dapat diminta pertanggung jawaban atas kewajiban-kewajiban persekutuan. Masing-masing anggota disebut sekutu umum.
Persekutuan Terbatas
Suatu persekutuan dimana aktivitas angota tertentu dibatasi dan sebaliknya tanggung jawab masing-masing anggota akan dibatasi samapi jumlah tertentu, yang mungkin sejumlah investasi yag telah diberikannya. Anggota tersebut disebut sekutu terbatas.
Join Stock Companies
Adalah bentuk persekutuan dimana struktur modalnya berupa saham-saham yang dapat dipindah tangankan. Perpindahan hak atas saham-saham tersebut tidak boleh mengganggu kontinuitas usaha persekutuan. Tanggung jawab para anggota tidak terbatas seperti halnya pada persekutuan umum.
Perjanjian Dalam Persekutuan
Dalam persekutuan tentu harus ada perjanjian sebagai dasar pijakan pembentukan persekutuan tersebut. Pada perjanjian persektuan berisi tentang, nama persekutuan, anggota, tanggal berdiri, sifat serta bidang usaha, dan beberapa hal yang harus ada yaitu ;
1.      Besarnya investasi dari masing-masing anggota
2.      Hak dan kewajiban anggota
3.      Buku-buku catatan dan laporan keuangan
4.      Pembagian keuntungan
5.      Hal-hal khusus yang  menyangkut masalah pembebanan dan penerimaan imbalan jasa tertentu diantara para anggota.
6.      Penarikan kembali modal yang disetor
7.      Asuransi jiwa kematian salah satu anggota
8.      Penyelesaian apabila ada perselisihan ddiantara para anggota dan lain-lain. 


2.4 Penyertaan Modal dalam Persekutuan
Proses  akuntansi yang spesifik pada persekutuan adalah masalah pencatatan pengakuan dan pengukuran milik atau penyertaan (hak) masing-masing anggota dalam persekutuan. Hak masing-masing anggota diikhtisarkan dalam rekening modal masing-masing anggota sekutu.
Pembentukan Awal Persekutuan
Contoh :
Tuan Petruk, Gareng dan Semar sepakat mendirikan sebuah persekutuan dengan investasi masing-masing sebesar Rp. 7.500.000, Rp. 6.000.000 dan Rp. 8.000.000. dalam persekutuan tersebut mereka sepakat untuk melakukan pembagian keuntungan dengan perbandingan yang sama. Pada tahun pertama persekutuan mendapat keuntungan sebesar Rp. 3.000.000,-. Pencatatan atas modal dan kuntungan masing-masing sekutu adalah sebagai berikut :
Modal Petruk
Modal gareng
Modal Semar
Kekayaan Bersih
Keterangan
7.500.000
6.000.000
8.000.000
21.500.000
Investasi awal
1.000.000
1.000.000
1.000.000
3.000.0000
Keuntungan
8.500.000
7.000.000
9.000.000
24.500.000

Bentuk jurnal yang dibuat adalah :
Uraian
D
K
Kas
21.500.000
Modal Gareng
7.500.000
Modal Petruk
6.000.000
Modal Semar
8.000.000
Laba Rugi
6.000.000
Pribadi Gareng
1.000.000
Pribadi Petruk
1.000.000
Pribadi Semar
1.000.000

Apabila persekutuan tersebut menderita kerugian kerugian sebesar Rp. 18.000.000, dengan porsi pembagian rugi di bagi dengan perbandingan yang sama, maka :
Modal Petruk
Modal gareng
Modal Semar
Kekayaan Bersih
Keterangan
7.500.000
6.000.000
8.000.000
21.500.000
Investasi awal
(6.000.000)
(6.000.000)
(6.000.000)
(18.000.0000)
Rugi
1.500.000
0
2.000.000
3.500.000

Pada saat persekutuan akan dilikuidasi, maka Gareng tidak akan mendapatkan pengembalian modal karena modal tersebut sudah habis untuk membayar kerugian persekutuan, sedangkan Petruk dan Semar akan mendapatkan pengembalian sebesar sisa masing-masing modal setelah di potong dengan kerugian persekutuan.
2.5 Pembentukan dengan Menggabungkan Perusahaan yang Sudah Berjalan
Dalam kasus ini ada dua permasalahan yang bisa timbul yaitu :
ü  Apabila persekutuan akan melanjutkan pembukuan dari salah satu perusahan yang sudah ada atau membentuk pembukuan tersendiri.
ü  Apakah perubahan atau penilaian tertentu terhadap posisi aktiva, hutang dari masing-masing perusahaan yang akan digabungkan perlu diadakan atau tidak perlu diadakan.

Contoh :
Tuan Petruk, dan Gareng masing-masing sepakat untuk membentuk persekutuan  
Petruk telah memiliki perusahaan yang sudah berjalan, dimana Gareng bermaksud akan menggabungkan diri ke dalam perusahaan tersebut dengan setoran modal Gareng sebesar  Rp. 10.000.000,-.
Adapun neraca perusahaan yang dimiliki oleh Petruk adalah :
PETRUK
NERACA, PER 31 DESEMBER 2007
URAIAN
D
K
Kas
         4,500,000
Piutang Dagang
       12,000,000
Cadangan Kerugian Piutang
       (1,200,000)
Persediaan Barang Dagangan
       14,000,000
Suplies Kantor
         1,500,000
Peralatan Kantor
         5,000,000
Kendaraan
       15,000,000
Akumulasi Penyusutan Pralatan
         2,000,000
Akumulasi peyusutan Kendaraan
         4,500,000
Hutang
       37,300,000
Modal Petruk
       20,000,000
 Jumlah …………..
       57,300,000
       57,300,000

Dalam pembentukan persekutuan tersebut ke dua belah pihak sepakat dengan perjanjian sebagai berikut :
1.      Uang kas diambil seluruhnya oleh Petruk 
2.      Dari seluruh piutang dagang yang ada, sebesar Rp 4.000.000 dianggap tidak bisa tertagih dan cadangan kerugian ditetapkan sebesar 10% dari saldo piutang yang baru.
3.      Setelah diadakan penilaian kembali terhadap persediaan barang dagangan berdasarkan harga pasar, nilai persediaan menjadi Rp. 18.000.000
4.      Kendaraan dinilai sebesar Rp. 20.000.000 tetapi telah disusutkan sebesar 50%, sehingga menjadi Rp. 10.000.000 ;
5.      Good wil diberikan kepada Petruk atas prestasi perusahaannya sebesar Rp. 15.000.000

Persekutuan yang baru dibentuk melanjutkan pembukuan yang sudah ada
Mencatat penilaian kembali berbagai macam aktiva :
Cadangan Kerugian piutang ………     800.000
Persediaan Barang Dagangan ……..   4.000.000
Akumulasi Peny. Kendaraan ………  4.500.000
Good Will ………………………… 15.000.000 
            Piutang Dagang  ………………………………..     4.000.000
              Kendaraan ……………………………………...     5.000.000
              Modal Petruk ……………………………………  15.300.000
Jurnal :
Mencatat Setoran Modal Gareng
Kas ……………………………… 10.000.000
     Modal Gareng ………………………………….. 10.000.000
Mencatat pengambilan uang kas oleh Petruk
Modal Petruk …………………… 4.500.000
                 Kas ……………………………………………. 4.500.000
Pencatatan dengan membentuk buku-buku baru tersendiri
Mencatat kekayaan Petruk sebagai setoran modal
Piutang dagang …………. ….. 14.000.000,-
Persed. Brg. Dagangan ……… 18.000.000
Suplies kantor ……………….    1.500.000
Peralatan Kantor ……………     5.000.000
Kendaraan …………………... 10.000.000
Goodwil …………………….  15.000.000 
            Cadangan Kerugian …………………….          400.000,-
              Hutang ………………………………….     37.300.000
              Modal Petruk ……………………………     25.800.000
Mencatat setoran modal Gareng
Kas  ………………………… 10.000.000
      Modal Gareng …………………………..  10.000.000

Maka neraca persekutuan Petruk dan Gareng adalah sebagai berikut :
PERSEKUTUAN PETRUK DAN GARENG
NERACA, PER JANUARI 2008
URAIAN
D
K
Kas
         10,000,000
Piutang Dagang
       14,000,000
Cadangan Kerugian Piutang
       (400.00)
Persediaan Barang Dagangan
       18,000,000
Suplies Kantor
         1,500,000
Peralatan Kantor
         5,000,000
Kendaraan
       10,000,000
Akumulasi Penyusutan Pralatan
         0
Akumulasi peyusutan Kendaraan
         0
Goodwill
15.000.000
Hutang
       37,300,000
Modal Gareng
10.000.000
Modal Petruk
       25,800,000
 Jumlah …………..
73.100.000
73.100.000   




2.6 Pembagian laba (rugi) di dalam Persekutuan
Para angota persekutuan dapat membuat persetujuan pembagian laba (rugi) yang dianggap sesuai dengan kontribusi masing-masing anggota di dalam persekutuan. Terdapat berbagai cara yang dapat dipakai sebagai dasar pembagian laba (rugi) di dalam persekutuan. Dasar pembagian laba (rugi) yang dipilih harus dinyatakan di dalam perjanjian persekutuan. Adapun berbagai cara pembagian laba (rugi) yang akan dikemukakan disini adalah:
1.Dibagi sama.
2.Dengan perbandingan atas dasar perjanjian.
3.Dengan perbandingan penyertaan modal.
4.Mula-mula ditentukan bunga modal dari masing-masing anggota, selebihnya dibagi atas dasar perjanjian.
5. Mula-mula diberikan gaji sebagai pemilik dan bonus kepada anggota yang aktif bekerja, sisanya dibagi atas dasar perjanjian.
6. Mula-mula diterapkan bunga untuk modal dari anggota, kemudian gaji sebagai pemilik dan bonus untuk anggota-anggota yang dianggap berjasa dan sisanya dibagi atas dasar perjanjian bersama.
Contoh :
            Tuan F, G dan H telah mendirikan sebuah persekutuan dan pada tahun 1980 mendapatkan keuntungan sebesar Rp 150.000,00. Pada akhir tahun1980, diketahui posisi rekening pribadi (prive/personal/current account) dan rekening “modal” masing-masing anggota adalah sebagai berikut :

         Apabila disetujui laba (rugi) yang diperoleh dibagi sama :
Rugi & Laba               Rp 150.000,00
            Pribadi, F                          Rp 50.000,00
            Pribadi, G                               Rp 50.000,00 
            Pribadi, H                               Rp 50.000,00
Apabila  pembagian laba/rugi  dengan 
perbandingan  Tuan F : G : H = 3 : 5 :7
 
Rugi & Laba            Rp 150.000,00
            Pribadi, F                                  Rp 30.000,00
            Pribadi, G                                  Rp 50.000,00 
            Pribadi, H                                  Rp 70.000,00
 
   Perhitungan:  
Bagian laba Tuan F = 3/15 x 150.000       =  Rp  30.000,00
 Bagian laba Tuan G = 5/15 x 150.00        =  Rp   50.000,00
 Bagian laba Tuan H = 7/15 x 150.000      =  Rp   70.000,00
                           Total                                      Rp 150.000,00
Apabila  pembagian laba (rugi) sesuai perbandingan penyertaan modal dari masing-masing anggota
       Dalam hal ini ada 3 kemungkinan yang bias ditempuh, yaitu :
         Sesuai dengan perbandingan modal awal.
           Rugi & Laba                    Rp 150.000,00
            Pribadi, F                                        Rp 37.500,00
            Pribadi, G                                       Rp 50.000,00 
            Pribadi, H                                       Rp 62.500,00
         Sesuai dengan perbandingan modal akhir.
         Rugi & Laba                    Rp 150.000,00
                     Pribadi, F                                        Rp 40.000,00
                     Pribadi, G                                       Rp 50.000,00 
                     Pribadi, H                                       Rp 60.000,00
                         

         Sesuai dengan perbandingan modal rata-rata tahunan
             Rugi & Laba                  Rp 150.000,00
                     Pribadi, F                                        Rp 33.750,00
                     Pribadi, G                                       Rp 41.250,00 
                     Pribadi, H                                       Rp 75.000,00

Masalah Gaji Pemilik, dan Bunga Modal.
         Di dalam akuntansi gaji pemilik dan bunga modal (sendiri) tidak diakui sebagai biaya (usaha) bagi perusahaan, karena pada umumnya ditentukan sepihak (oleh pemilik sendiri) dan bukan atas transaksi yang obyektif. Namun jika dapat diidentifikasikan dengan jasa dan bunga modal maka harus diperlukan sebagai biaya yang sebenarnya.
            Bagi manajemen lebih bermanfaat untuk memperlakukan gaji pemilik dan bunga modal (sendiri) sama halnya dengan biaya usaha. Untuk itu informasi laba (rugi) periodiknya lebih menggambarkan kemampuan perusahaan memperoleh laba yang sebenarnya.
contohnya sebgai berikut :
A dan B adalah anggota-anggota persekutuan yang membagi laba (rugi) dengan perbandingan yang sama. Kepada mereka sebagai pemilik diberi gaji masing-masing sebesar Rp. 75.000,00 per bulan untuk A dan Rp. 100.000,00 per bulan untuk B. menurut Laporan Perhitungan Rugi-laba dalm periode tahun buku 1980, perusahaan memperoleh laba sebesar Rp. 2.500.000,00.
Apabila gaji yang diberikan kepada A dan B diperlakukan sebagai faktor pembagian laba, maka laba sebesar Rp. 2.500.000,00 menurut laporan Perhitungan Rugi-Laba tersebut, akan mamberikan hak atas laba kepada masing-masing anggota sebagai berikut :
Akan tetapi apabila gaji yang dibayarkan kepada A dan B diperlakukan sebagai biaya usaha, maka pembagian laba sebesar Rp. 2.500.000 akan memberikan hak atas laba kepada masing-masing anggota sebesar Rp. 1.250.000
Dengan demikian jerlas B akan memilih untuk memperlakukan gaji yang telah diterimanya itu sebagai pembagian laba. Sedang bagi A lebih untung apabila gaji pemilik diperlakukan sabagai biaya usaha bagi perusahaan.
Gaji Pemilik dan atau Bunga Modal di atas jumlah laba bersih
Contohnya :
A dan B adalah anggota persekutuan mempunyai saldo modal masing-masing    
sebesar  Rp. 100.000,00 untuk A. dan Rp. 200.000,00 untuk B. pembagian  
laba diatur dengan ketentuan sebagai berikut :
Mula –mula di perhitungkan bunga modal sebesar 6% per tahun, sedang di
bagi dengan perbandingan yang sama.
Apabila dalam tahun 1980, perusahaan memperoleh laba sebesar Rp.
50.000,00 maka pembagian laba tersebut adalah :
Apabila laba dalam tahun 1980 sebesar Rp. 10.000 atau Rp. 8.000 (lebih kecil dari bunga modal) maka pembagian laba tersebut adalah :
Apabila  perusahaan rugi sebesar Rp. 4.000,00 dalam tahun 1980, maka bunga modal harus diperhitungkan terlebih dahulu sehingga diperoleh pembagian laba sebagai berikut :
Karena perusahaan  mengalami kerugian dan barang tidak membagikan laba kepada anggotanya, kecuali untuk bunga modal yang telah dibayarkan. Perhitungan pembagian laba(rugi) dalam tahun yang bersangkutan di bebankan langsung kepada saldo modal masing-masing anggota. Meskipun B masih berhak menerima pembagian laba Rp. 1.000 menurut perhitungan pembagian laba (rugi), tetapi tidak mungkin ia menagihnya kepada A. penurunan perhitungan kekayaan bersih persekutuan sebesar Rp. 22.000 (rugi usaha Rp. 4.000 di tambah bunga modal Rp. 18.000 akan diikuti dengan berkurangnya saldo modal masing-masing anggota sebesar Rp. 11.000 seperti terlihat pada tabel berikut ini :
Dengan demikian ada sebagian modal A sebesar Rp. 1.000 (yaitu selisih lebih rugi usaha dengan jumlah kerugian yang ditanggung oleh A = Rp. 4.000 – Rp. 5.000 ) terserap dan berpindah  menjadi haknya B sebagai partnernya. Hal ini juga terbukti dari jumlah uang yang telah diterima B sebesar Rp. 12.000 dari perusahaan, akan tatapi saldo modalnya hanya berkurang sebesar Rp. 11.000 dalam tahun buku 1980
Untuk menghindari keadaan sperti itu, maka biasanya di dalam perjanjian pembagian laba ditegaskan adanay pembatasan terhadap jumlah minimum laba yang di dapat. Berdasarkan ketentuan jumlah minimum laba tersebut biasanya di tentukan jumlah gaji pemilik dan bunga modal yang diperhitungkan sebagai faktor pembagian laba. Apabila diadakan batasan, berarti laba di bawah jumlah minimum yang ditetapkan atau jumlah kerugian harus dibagi berdasar ketentuan lain yang di tetapkan dalam perjanjian.
Misalnya dalam perjanjian pembagian laba(rugi) persekutuan A&B pada contoh di atas ditambah ketentuan sbb :
         >laba di bawah jumlah bunga modal yang diperhitungkan dibagi sesuai   
dengan perbandingan modal, sedang kerugian yang dibagi dengan perbandingan yang sama.
         >Kerugian yang diderita Rp. 4.000,00 dalam tahun 1980. dibagi rata jadi Rp. 2.000.
         >Penurunan kekayaan sebesar Rp. 22.000 diikuti berkurangnya saldo masing-masing anggota.
 Koreksi atas L / R tahun-tahun yang lalu
            Di dalam persekutuan, masalah yang dihadapi dalam koreksi laba (rugi) ialah pengaruhnya terhadap hak pemilikan dan bagian atas laba (rugi) kepada masing-masing pribadi anggota (pemilik). Hal ini menyangkut masalah koreksi dan penyesuaian terhadap alokasi laba (rugi) kepada msing-masing anggota pemilik.
Pada umumnya tiga alternatif berikut ini dapat dipakai untuk menyelesaikan penyesuaian alokasi atas laba (rugi) tahun-thaun yang lalu :
1. Jumlah koreksi laba (rugi) yang relatif kecil, cukup ditutup atau dibebebankan kepada laba (rugi) tahun yang berjalan, asal tidak mempengaruhi secara material terhadap hak-hak pemilikan (saldo modal) dari masing-masing anggota pemilik.
2. Apabila jumlah koreksi cukup besar,dan sulit diidentifikasikan,dapat dibebankan kepada laba (rugi) tahun yang berjalan atau dialokasikan sebagian kepada laba (rugi) tahun-tahun yang lalu sesuai dengan kehendak para anggota pemilik.
3. Apabila koreksi laba (rugi) cukup besar,dan dapat diidentifikasikan.Misalnya ada kesalahan perhitungan beban penyusutan aktiva tetap,  maka perhitungan dan alokasi kembali laba (rugi) kepada masing-masing pemilik harus dilakukan.
         Neraca
          Sebagian besar ketentuan di dalam penyusunan neraca pesekutuan tidak berbeda dengan neraca perusahaan pada umumnya. Kecuali penyajian pada sisi passive di dalam neraca persekutuan menggunakan dasar “konsep pemilik (proprietary concept)”, dengan menonjolkan hak pemilikan tiap-tiap anggota melalui rekening modalnya secara terpisah.
Perubahan Ratio Pembagian Laba (rugi)
            Apabila para anggota pemilik bersepakat untuk mengadakan perubahan ketentuan pembagian laba (rugi) perusahaan, maka terlebih dahulu harus diadakan penilaian kembali terhadap aktiva perusahaan sebelum ketentuan yang baru mulai berlaku. Hal ini dianggap penting agar perimbangan hak-hak pemlikan setelah berlakunya ketentuan yang baru tetap dapat dipertahankan. Peubahan ketentuan pembagian laba (rugi) tanpa diikuti penilaian kembali aktiva, kemungkinan akan mengakibatkan keuntungan pada sebagian pemilik dan kerugian bagi sebagian pemilik lainya dari posisi aktiva sebelum ketentuan baru itu mulai berlaku. Dengan kata lain perubahan ketentuan pembagian laba, kemungkinan berlaku surut.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Persekutuan (Partnership) adalah suatu penggabungan diantara dua orang (badan) atau lebih untuk memiliki bersama-sama dan menjalankan suatu perusahaan guna mendapatkan keuntungan atau laba.
            Karakteristik Persekutuan, secara umum ada 5 yang menjadi karakteristik persekutuan yaitu : Berusaha Bersama-sama (Mutual Agency), Jangka waktu terbatas (Limited life), Tanggung jawab tidak terbatas (Unlimited Liability ), Memiliki suatu bagian/hak di dalam persekutuan (Ownership of an Interest in a Partnership), Pengembalian bagian keuntungan persekutuan.
Persekutuan dapat diklasifikasikan ke dalam: Persekutuan Perdagangan , Persekutuan Jasa-jasa. Selain itu persekutuan dapat pula dibedakan antara : Persekutuan Umum, Persekutuan Terbatas , Join Stock Companies.
Dalam persekutuan tentu harus ada perjanjian sebagai dasar pijakan pembentukan persekutuan tersebut. Pada perjanjian persektuan berisi tentang, nama persekutuan, anggota, tanggal berdiri, sifat serta bidang usaha.
Proses  akuntansi yang spesifik pada persekutuan adalah masalah pencatatan pengakuan dan pengukuran milik atau penyertaan (hak) masing-masing anggota dalam persekutuan. Hak masing-masing anggota diikhtisarkan dalam rekening modal masing-masing anggota sekutu.
3.2 Saran
Pada kenyataannya, pembuatan makalah ini bersifat sangat sederhana dan simpel. Pembuatan makalah ini masih memerlukan kritikan dan saran bagi pembahasan materi ini. Maka saran dan kritikan dari teman mahasiswa sangat kami butuhkan untuk perbaikkan makalah ini menjadi lebih baik.

Related Posts

Persekutuan dan Pembentukan Usahanya
4/ 5
Oleh

Contact Me

Name

Email *

Message *