Pelaporan Audit


Standar Pelaporan Pertama (Kepatuhan terhadap Prinsip Akuntansi yang Berterima Umum)
Standar pelaporan pertama menyatakan :
“Laporan audit harus menyatakan apakah laporan keuangan telah disusun sesuai dengan prinsip akuntansi yang berterima umum”.
Makna menyajikan secara Wajar sesuai dengan Prinsip Akuntansi yang Berterima Umum
Standar pelaporan pertama mengharuskan auditor untuk menyatakan apakah laporan keuangan telah disusun sesuai dengan prinsip akuntansi yang berterima umum. Auditor dapat merumuskan pendapat wajar tanpa pengecualian sebagai berikut :
“Menurut pendapat kami, laporan keuangan yang kami sebutkan di atas menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan perusahaan ABC tanggal 31 Desember 2003, dan hasil usaha, serta arus kas yang berakhir pada tanggal tersebut, sesuai dengan prinsip akuntansi yang berterima umum”.
Pertimbangan auditor mengenai “kewajaran” atas penyajian laporan keuangan harus dilakukan dalam rerangka prinsip akuntansi yang berterima umum. Hal ini dimaksudkan untuk menghasilkan pedoman seragam untuk menilai penyajian posisi keuangan, hasil usaha dan arus kas dalam laporan keuangan. Pemberian pendapat auditor wajar tanpa pengecualian sesuai dengan prinsip akuntansi yang berterima umum harus didasarkan pada pertimbangan auditor menganai apakah :
Prinsip akuntansi yang dipilih dan diterapkan telah berterima umum
Prinsip akuntansi yang dipilih tepat untuk keadaan yang bersangkutan
Laporan keuanga beserta catatan atas laporan keuangan memberikan informasi yang memadai yang dapat mempengaruhi penggunaan, pemahaman, dan penafsirannya
Informasi yang disajikan dalam laporan keuangan diklasifikasikan dan diikhitasarkan dengan semestinya, tidak terlalu rinci maupun terlalu ringkas
Laporan keuangan mencerminkan peristiwa dan transaksi yang mendasarinya dalam sauatu cara yang menyajikan posisi keuangan, hasil usaha, dan arus kas dalam batas-batas yang rasional dan praktis untuk dicapai dalam laporan keuangan

Standar Pelaporan Kedua (Konsistensi Penerapan Prinsip Akuntansi Yang Berterima Umum)

Standar pelaporan kedua dapat disebut juga sebagai standar konsistensi. Standar pelaporan kedua menyatakan :
“Laporan audit harus menunjukkan keadaan yang didalamnya prinsip akuntansi tidak secara konsisten diterapkan dalam penyusunan laporan keuangan periode sekarang dalam hubungannya dengan prinsip akuntansi yang diterapkan dalam periode sebelumnya”.
Penerapan semestinya standar kedua ini menuntut auditor untuk memahami hubungan antara konsistensi dengan daya banding laporan keuangan. Perbandingan laporan keuangan di antara beberapa periode dapat dipengaruhi oleh :
  1. Perubahan akuntansi
  2. Kesalahan dalam laporan keuangan yang diterbitkan dalam periode sebelumnya
  3. Perubahan penggolongan atau reklasifikasi
  4. Ketidaktepatan estimasi tahun-tahun sebelumnya dan peristiwa serta kejadian dalam tahun berjalan
Perubahan dalam prinsip akuntansi meliputi perubahan dalam :
  1. Prinsip akuntansi
  2. Estimasi akuntansi
  3. Satuan usaha yang membuat laporan keuangan
Perubahan akuntansi dapat mempengaruhi konsistensi dan dapat pula tidak mempengaruhi konsistensi meliputi :
  1. Perubahan dalam prinsip akuntansi
  2. Perubahan dalam satuan usaha yang membuat laporan
  3. Laporan setalah terjadi penggabungan kepentingan
  4. Koreksi kesalahn penerapan dalam prinsip
  5. Perubahan dalam prinsip yang tidak dapat dipisahkan dari perubahan dalam estimasi akuntansi
  6. Perubahan dalam prinsip yang tidak dapat dipisahkan dari perubahan dalam penyajian arus kas
Perubahan akuntansi yang tidak mempengaruhi konsistensi meliputi :
  1. Perubahan kondisi bisnis (akuisisi atau pelepasan cabang)
  2. Pengenalan lini produk baru
  3. Perubahan akuntansi yang meliputi estimasi akuntansi
  4. Variasi penyajian laporan aliran kas
  5. Perubahan dalam klasifikasi dan reklasifikasi
  6. Koreksi kesalahan yang tidak melibatkan prinsip akuntansi
Perubahan akuntansi yang tidak mempengaruhi konsistensi tetapi memerlukan pengungkapan dalam catatan atas laporan keuangan meliputi :
  1. Perubahan dalam estimasi akuntansi
  2. Transaksi atau kejadian yang sangat berbeda
  3. Perubahan akuntansi yang diperkirakan baru berdampak material di masa yang akan datang
Standar Pelaporan Ketiga (Pengungkapan Memadai dalam Laporan Keuangan)
Standar pelaporan ketiga menyatakan :
“Pengungkapan informative dalam laporan keuangan harus dipandang memadai, kecuali dinyatakan lain dalam laporan audit”.
Pelaporan Auditor atas Informasi Segmen
Informasi segmen meliputi informasi menganai operasi perusahaan di berbagai daerah industry yang berbeda, operasi di berbagai daerah produksi dan pemasaran, operasi luar negeri dan penjualan ekspor, dan pelanggan utama. Untuk perusahaan yang mempunyai segmentasi seperti itu, prinsip akuntansi yang berterima umum mewajibkan perusahaan untuk memasukkan informasi mengenai segmen tersebut dalam laporan keuangan tahunan.
Pengungkapan informasi segmen memerlukan pemisahan unsur-unsur signifikan tertentu laporan keuangan satuan usaha seperti pendapatan, laba atau rugi usaha, aktiva, depresiasi, dan pengeluaran modal. Tujuan pencantuman informasi segmen sebagai bagian dari laporan keuangan adalah untuk membantu pemakai laporan keuangan dalam menganalisis dan memahami kinerja masa lalu dan prospek masa datang suatu perusahaan.
Laporan audit bentuk baku atas laporan keuangan yang disusun sesuai prinsip akuntansi yang berterima umum secara implisit berlaku juga untuk informasi segmen yang dimasukkan dalam laporan keuangan. Laporan audit bentuk baku tidak menunjuk ke informasi segmen, kecuali jika auditor dapat menyimpulkan bahwa suatu masalah atau salah saji yang berkaitan dengan informasi segmen adalah material terhadap laporan keuangan secara keseluruhan.

Standar Pelaporan Keempat (Pengaitan Nama Auditor dengan Laporan Keuangan)
Standar pelaporan keempat menyatakan :
“Laporan audit harus memuat suatu pernyataan pendapat mengenai laporan keuangan secara keseluruhan atau suatu asersi bahwa pernyataan demikian tidak dapat diberikan. Jika pendapat secara keseluruhan tidak dapat diberikan, maka alasannya harus dinyatakan. Dalam semua hal yang nama auditor dikaitkan dengan laporan keuangan, laporan auditor harus memuat petunjuk yang jelas mengenai sifat pekerjaan auditor, jika ada, dan tingkat tanggung jawab yang dipikulnya”.

Standar pelaporan keempat ini bertujuan untuk mencegah terjadinya salah tafsir tentang tingkat tanggung jawab yang dipikul auditor bila namnya dikaitkan dengan laporan keuangan. Auditor harus menyatakan bahwa ia tidak dapat memberikan pendapatnya atas laporan keuangan yang tidak diaudit tetapi namanya dikaitkan dengan laporan keuangan tersebut. Auditor juga harus menyatakan bahwa ia tidak dapat memberikan pendapatnya meskipun melakukan beberapa prosedur audit tetapi ia tidak independen terhadap klien.
Seorang auditor dikaitkan namanya dengan laporan keuangan apabila ia mengijinkan namanya dicantumkan dalam suatu laporan, dokumen, atau komunikasi tertulis yang berisi laporan keuangan tersebut. Pengaitan nama auditor dengan laporan keuangan juga mencakup peristiwa penyerahan laporan keuangan yang disusun atau yang dibantu penyusunannya kepada klien atau pihak lain meski namanya tidak dicantumkan.

Apabila auditor dikaitkan namanya dengan suatu laporan keuangan, namun belum mengaudit atau menelaahnya, auditor harus menerbitkan laporan yang menyatakan bahwa ia tidak memberikan pendapat atas laporan keuangan tersebut. Hal ini perlu ditempuh auditor untuk mematuhi standar pelaporan keempat. Di samping itu, setiap halaman laporan keuangan harus secara jelas diberi tanda “unaudited (tidak diaudit)”. Auditor tidak wajib melaksanakan prosedur apapun apabila akuntan menerbitkanbentuk pernyataan tidak memberikan pendapat semacam itu. Auditor hanya perlu membaca laporan keuangan tersebut untuk menemukan salah saji yang material.

Laporan Auditor Atas Laporan Keuangan Auditan
Laporan Audit Bentuk Baku
Unsur pokok laporan audit bentuk baku adalah sebagai berikut :
  1. Judul laporan yang berbunyi “Laporan Auditor Independen”
  2. Pihak yang dituju
  3. Paragraph pengantar (Introductory paragraph)
  4. Paragraph lingkup audit (scope paragraph)
  5. Paragraph pendapat (opinion paragraph)
  6. Tanda tangan auditor, nama , dan nomor register negara auditor
  7. Tanggal
Penyimpangan dari Laporan Audit Bentuk Baku
Penyimpangan dari laporan audit bentuk baku dapat dibagi kedalam dua kategori :
Penambahan bahasa penjelas dalam laporan audit baku yang memberikan pendapat wajar tanpa pengecualian
Pernyataan pendapat selai pendapat wajar tanpa pengecualian

Jenis Pendapat Auditor
Ada lima jenis pendapat yang dapat diberikan oleh auditor, yaitu :
  1. Pendapat wajar tanpa pengecualian (unqualified opinion)
  2. Pendapat wajar tanpa pengecualian dengan tambahan bahasa penjelasan
  3. Pendapat wajar dengan pengecualian (qualified opinion)
  4. Pendapat tidak wajar (adverse opinion)
  5. Pernyataan tidak memberikan pendapat (disclaimer of opinion atau no opinion)
Pendapat Wajar tanpa Pengecualian
Pendapat wajar tanpa pengecualian dapat diberikan auditor apabila audit telah dilaksanakan atau diselesaikan sesuai dengan standar pengadutitan, penyajian laporan keuangan dengan prinsip akuntansi yang berterima umum, dan tidak terdapat kondisi atau keadaan tertentu yang memerlukan bahasa penjelasan.

Pendapat Wajar tanpa Pengecualian dengan Bahasa Penjelasan yang Ditambahkan dalam Laporan Audit Bentuk Baku.
Kondisi atau keadaan yang memerlukan bahasa penjelasan tambahan antara lain dapat diuraikan sebagai berikut :
  1. Pendapat auditor sebagian didasarkan atas laporan auditor independen lain. Auditor harus menjelaskan hal ini dalam paragraph pengantar untuk menegaskan pemisahan tanggung jawab dalam pelaksanaan audit.
  2. Adanya penyimpangan dari prinsip akuntansi yang ditetapkan oleh IAI. Penyimpangan tersebut adalah penyimpangan yang terpaksa dilakukan agar tidak menyesatkan pemakai laporan keuangan auditan. Auditor harus menjelaskan penyimpangan yang dilakukan berikut taksiran pengaruh maupun alasannya penyimpangan dilakukan dalam satu paragraph khusus.
  3. Laporan keuangan dipengaruhi oleh ketidakpastiaan yang material.
  4. Auditor meragukan kemampuan satuan usaha dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya.
  5. Auditor menemukan adanya suatu perubahan material dalam penggunaan prinsip dan metode akuntansi.
Pendapat Wajar dengan Pengecualian
Pendapat ini diberikan apabila :
  1. Tidak ada bukti kompeten yang cukup atau adanya pembatasan lingkup audit yang material tetapi tidak mempengaruhi laporan keuangan secara keseluruhan.
  2. Auditor yakin bahwa laporan keuangan berisi penyimpangan dari prinsip akuntansi yang berterima umum yang berdampak material tetapi tidak mempengaruhi laporan keuangan secara keseluruhan. Penyimpangan tersebut dapat berupa pengungkapan yang tidak memadai, maupun perubahan dalam prinsip akuntansi.
Pendapat Tidak Wajar
Pendapat ini menyatakan bahwa laporan keuangan tidak menyajikan secara wajar keuangan, hasil usaha, dan arus kas sesuai dengan prinsip akuntansi yang berterima umum. Auditor harus menjelaskan alasan pendukung pendapat tidak wajar, dan dampak utama dari hal yang menyebabkan pendapat diberikan terhadap laporan keuangan. Penjelasan tersebut harus dinyatakan dalam paragraph terpisah sebelum paragraph pendapat.

Penyataan Tidak Memberikan Pendapat
Pernyataan auditor untuk tidak memberikan pendapat layak diberikan apabila :
  1. Ada pembatasan lingkup audit yang sangat material baik oleh klien maupun karena kondisi tertentu
  2. Auditor tidak independen terhadap klien
Pendapat Tidak Penuh (Piecemeal Opinion)
Pendapat ini sebenarnya buka merupakan suatu jenis pendapat tersendiri. Pendapat tidak penuh adalah pendapat atas unsur tertentu dalam laporan keuangan. Pendapat ini tidak boleh dinyatakan apabila auditor menyatakan tidak memberikan pendapat atau ia menyatakan pendapat tidak wajar atas laporan keuangan secara keseluruhan.

Faktor Tertentu Pertimbangan Pelaporan
Bagian Audit Dilaksanakan Oleh Auditor Independen Lain
Untuk itu auditor harus mempertimbangkan beberapa hal berikut :
  1. Materialitas bagian laporan keuangan auditannya dibandingkan dengan auditor kedua.
  2. Luas pengetahuannya mengenai laporan keuangan secara keseluruhan disbanding auditor kedua.
  3. Pentingnya komponen-komponen yang diauditnya dalam hubungannya dengan perusahaan secara keseluruhan.
  4. Informasi Lain dalam Dokumen yang Berisi Laporan Keuangan Auditan
Yang dimaksud informasi lain dalam pembahasan ini adalah dokumen sebagai tambahan laporan keuangan auditan dan laporan auditor independen yang terdapat dalam :
  1. Laporan keuangan tahunan yang ditujukan kepada pemegang saham, kreditur, dan pemegang manfaat lain.
  2. Laporan keuangan tahunan yang diserahkan kepada badan pengatur menurut ketentuan peraturan pasar modal.
  3. Laporan keuangan organisasi social yang digunakan untuk menghimpun sumbangan yang akan didistribusikan kepada masyarakat luas.
  4. Dokumen lain yang auditor diminta klien untuk menaruh perhatian.
Pelaporan atas Laporan Keuangan Ringkasan dan Data Keuangan Pilihan
Laporan keuangan ringkasan disajikan dalam format yang sangat tidak rinci disbanding laporan keuangan yang lengkap yang menyajikan posisi keuangan, hasil usaha, dan arus kas sesuai dengan prinsip akuntansi yang berterima umum. Auditor dapat ditugasi untuk menyusun dan melaporkan laporan keuangan ringkasan yang berasal dari laporan keuangan auditan.


Standar Pelaporan Pertama (Kepatuhan terhadap Prinsip Akuntansi yang Berterima Umum)
Standar pelaporan pertama menyatakan :
“Laporan audit harus menyatakan apakah laporan keuangan telah disusun sesuai dengan prinsip akuntansi yang berterima umum”.
Makna menyajikan secara Wajar sesuai dengan Prinsip Akuntansi yang Berterima Umum
Standar pelaporan pertama mengharuskan auditor untuk menyatakan apakah laporan keuangan telah disusun sesuai dengan prinsip akuntansi yang berterima umum. Auditor dapat merumuskan pendapat wajar tanpa pengecualian sebagai berikut :
“Menurut pendapat kami, laporan keuangan yang kami sebutkan di atas menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan perusahaan ABC tanggal 31 Desember 2003, dan hasil usaha, serta arus kas yang berakhir pada tanggal tersebut, sesuai dengan prinsip akuntansi yang berterima umum”.
Pertimbangan auditor mengenai “kewajaran” atas penyajian laporan keuangan harus dilakukan dalam rerangka prinsip akuntansi yang berterima umum. Hal ini dimaksudkan untuk menghasilkan pedoman seragam untuk menilai penyajian posisi keuangan, hasil usaha dan arus kas dalam laporan keuangan. Pemberian pendapat auditor wajar tanpa pengecualian sesuai dengan prinsip akuntansi yang berterima umum harus didasarkan pada pertimbangan auditor menganai apakah :
Prinsip akuntansi yang dipilih dan diterapkan telah berterima umum
Prinsip akuntansi yang dipilih tepat untuk keadaan yang bersangkutan
Laporan keuanga beserta catatan atas laporan keuangan memberikan informasi yang memadai yang dapat mempengaruhi penggunaan, pemahaman, dan penafsirannya
Informasi yang disajikan dalam laporan keuangan diklasifikasikan dan diikhitasarkan dengan semestinya, tidak terlalu rinci maupun terlalu ringkas
Laporan keuangan mencerminkan peristiwa dan transaksi yang mendasarinya dalam sauatu cara yang menyajikan posisi keuangan, hasil usaha, dan arus kas dalam batas-batas yang rasional dan praktis untuk dicapai dalam laporan keuangan

Standar Pelaporan Kedua (Konsistensi Penerapan Prinsip Akuntansi Yang Berterima Umum)

Standar pelaporan kedua dapat disebut juga sebagai standar konsistensi. Standar pelaporan kedua menyatakan :
“Laporan audit harus menunjukkan keadaan yang didalamnya prinsip akuntansi tidak secara konsisten diterapkan dalam penyusunan laporan keuangan periode sekarang dalam hubungannya dengan prinsip akuntansi yang diterapkan dalam periode sebelumnya”.
Penerapan semestinya standar kedua ini menuntut auditor untuk memahami hubungan antara konsistensi dengan daya banding laporan keuangan. Perbandingan laporan keuangan di antara beberapa periode dapat dipengaruhi oleh :
  1. Perubahan akuntansi
  2. Kesalahan dalam laporan keuangan yang diterbitkan dalam periode sebelumnya
  3. Perubahan penggolongan atau reklasifikasi
  4. Ketidaktepatan estimasi tahun-tahun sebelumnya dan peristiwa serta kejadian dalam tahun berjalan
Perubahan dalam prinsip akuntansi meliputi perubahan dalam :
  1. Prinsip akuntansi
  2. Estimasi akuntansi
  3. Satuan usaha yang membuat laporan keuangan
Perubahan akuntansi dapat mempengaruhi konsistensi dan dapat pula tidak mempengaruhi konsistensi meliputi :
  1. Perubahan dalam prinsip akuntansi
  2. Perubahan dalam satuan usaha yang membuat laporan
  3. Laporan setalah terjadi penggabungan kepentingan
  4. Koreksi kesalahn penerapan dalam prinsip
  5. Perubahan dalam prinsip yang tidak dapat dipisahkan dari perubahan dalam estimasi akuntansi
  6. Perubahan dalam prinsip yang tidak dapat dipisahkan dari perubahan dalam penyajian arus kas
Perubahan akuntansi yang tidak mempengaruhi konsistensi meliputi :
  1. Perubahan kondisi bisnis (akuisisi atau pelepasan cabang)
  2. Pengenalan lini produk baru
  3. Perubahan akuntansi yang meliputi estimasi akuntansi
  4. Variasi penyajian laporan aliran kas
  5. Perubahan dalam klasifikasi dan reklasifikasi
  6. Koreksi kesalahan yang tidak melibatkan prinsip akuntansi
Perubahan akuntansi yang tidak mempengaruhi konsistensi tetapi memerlukan pengungkapan dalam catatan atas laporan keuangan meliputi :
  1. Perubahan dalam estimasi akuntansi
  2. Transaksi atau kejadian yang sangat berbeda
  3. Perubahan akuntansi yang diperkirakan baru berdampak material di masa yang akan datang
Standar Pelaporan Ketiga (Pengungkapan Memadai dalam Laporan Keuangan)
Standar pelaporan ketiga menyatakan :
“Pengungkapan informative dalam laporan keuangan harus dipandang memadai, kecuali dinyatakan lain dalam laporan audit”.
Pelaporan Auditor atas Informasi Segmen
Informasi segmen meliputi informasi menganai operasi perusahaan di berbagai daerah industry yang berbeda, operasi di berbagai daerah produksi dan pemasaran, operasi luar negeri dan penjualan ekspor, dan pelanggan utama. Untuk perusahaan yang mempunyai segmentasi seperti itu, prinsip akuntansi yang berterima umum mewajibkan perusahaan untuk memasukkan informasi mengenai segmen tersebut dalam laporan keuangan tahunan.
Pengungkapan informasi segmen memerlukan pemisahan unsur-unsur signifikan tertentu laporan keuangan satuan usaha seperti pendapatan, laba atau rugi usaha, aktiva, depresiasi, dan pengeluaran modal. Tujuan pencantuman informasi segmen sebagai bagian dari laporan keuangan adalah untuk membantu pemakai laporan keuangan dalam menganalisis dan memahami kinerja masa lalu dan prospek masa datang suatu perusahaan.
Laporan audit bentuk baku atas laporan keuangan yang disusun sesuai prinsip akuntansi yang berterima umum secara implisit berlaku juga untuk informasi segmen yang dimasukkan dalam laporan keuangan. Laporan audit bentuk baku tidak menunjuk ke informasi segmen, kecuali jika auditor dapat menyimpulkan bahwa suatu masalah atau salah saji yang berkaitan dengan informasi segmen adalah material terhadap laporan keuangan secara keseluruhan.

Standar Pelaporan Keempat (Pengaitan Nama Auditor dengan Laporan Keuangan)
Standar pelaporan keempat menyatakan :
“Laporan audit harus memuat suatu pernyataan pendapat mengenai laporan keuangan secara keseluruhan atau suatu asersi bahwa pernyataan demikian tidak dapat diberikan. Jika pendapat secara keseluruhan tidak dapat diberikan, maka alasannya harus dinyatakan. Dalam semua hal yang nama auditor dikaitkan dengan laporan keuangan, laporan auditor harus memuat petunjuk yang jelas mengenai sifat pekerjaan auditor, jika ada, dan tingkat tanggung jawab yang dipikulnya”.

Standar pelaporan keempat ini bertujuan untuk mencegah terjadinya salah tafsir tentang tingkat tanggung jawab yang dipikul auditor bila namnya dikaitkan dengan laporan keuangan. Auditor harus menyatakan bahwa ia tidak dapat memberikan pendapatnya atas laporan keuangan yang tidak diaudit tetapi namanya dikaitkan dengan laporan keuangan tersebut. Auditor juga harus menyatakan bahwa ia tidak dapat memberikan pendapatnya meskipun melakukan beberapa prosedur audit tetapi ia tidak independen terhadap klien.
Seorang auditor dikaitkan namanya dengan laporan keuangan apabila ia mengijinkan namanya dicantumkan dalam suatu laporan, dokumen, atau komunikasi tertulis yang berisi laporan keuangan tersebut. Pengaitan nama auditor dengan laporan keuangan juga mencakup peristiwa penyerahan laporan keuangan yang disusun atau yang dibantu penyusunannya kepada klien atau pihak lain meski namanya tidak dicantumkan.

Apabila auditor dikaitkan namanya dengan suatu laporan keuangan, namun belum mengaudit atau menelaahnya, auditor harus menerbitkan laporan yang menyatakan bahwa ia tidak memberikan pendapat atas laporan keuangan tersebut. Hal ini perlu ditempuh auditor untuk mematuhi standar pelaporan keempat. Di samping itu, setiap halaman laporan keuangan harus secara jelas diberi tanda “unaudited (tidak diaudit)”. Auditor tidak wajib melaksanakan prosedur apapun apabila akuntan menerbitkanbentuk pernyataan tidak memberikan pendapat semacam itu. Auditor hanya perlu membaca laporan keuangan tersebut untuk menemukan salah saji yang material.

Laporan Auditor Atas Laporan Keuangan Auditan
Laporan Audit Bentuk Baku
Unsur pokok laporan audit bentuk baku adalah sebagai berikut :
  1. Judul laporan yang berbunyi “Laporan Auditor Independen”
  2. Pihak yang dituju
  3. Paragraph pengantar (Introductory paragraph)
  4. Paragraph lingkup audit (scope paragraph)
  5. Paragraph pendapat (opinion paragraph)
  6. Tanda tangan auditor, nama , dan nomor register negara auditor
  7. Tanggal
Penyimpangan dari Laporan Audit Bentuk Baku
Penyimpangan dari laporan audit bentuk baku dapat dibagi kedalam dua kategori :
Penambahan bahasa penjelas dalam laporan audit baku yang memberikan pendapat wajar tanpa pengecualian
Pernyataan pendapat selai pendapat wajar tanpa pengecualian

Jenis Pendapat Auditor
Ada lima jenis pendapat yang dapat diberikan oleh auditor, yaitu :
  1. Pendapat wajar tanpa pengecualian (unqualified opinion)
  2. Pendapat wajar tanpa pengecualian dengan tambahan bahasa penjelasan
  3. Pendapat wajar dengan pengecualian (qualified opinion)
  4. Pendapat tidak wajar (adverse opinion)
  5. Pernyataan tidak memberikan pendapat (disclaimer of opinion atau no opinion)
Pendapat Wajar tanpa Pengecualian
Pendapat wajar tanpa pengecualian dapat diberikan auditor apabila audit telah dilaksanakan atau diselesaikan sesuai dengan standar pengadutitan, penyajian laporan keuangan dengan prinsip akuntansi yang berterima umum, dan tidak terdapat kondisi atau keadaan tertentu yang memerlukan bahasa penjelasan.

Pendapat Wajar tanpa Pengecualian dengan Bahasa Penjelasan yang Ditambahkan dalam Laporan Audit Bentuk Baku.
Kondisi atau keadaan yang memerlukan bahasa penjelasan tambahan antara lain dapat diuraikan sebagai berikut :
  1. Pendapat auditor sebagian didasarkan atas laporan auditor independen lain. Auditor harus menjelaskan hal ini dalam paragraph pengantar untuk menegaskan pemisahan tanggung jawab dalam pelaksanaan audit.
  2. Adanya penyimpangan dari prinsip akuntansi yang ditetapkan oleh IAI. Penyimpangan tersebut adalah penyimpangan yang terpaksa dilakukan agar tidak menyesatkan pemakai laporan keuangan auditan. Auditor harus menjelaskan penyimpangan yang dilakukan berikut taksiran pengaruh maupun alasannya penyimpangan dilakukan dalam satu paragraph khusus.
  3. Laporan keuangan dipengaruhi oleh ketidakpastiaan yang material.
  4. Auditor meragukan kemampuan satuan usaha dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya.
  5. Auditor menemukan adanya suatu perubahan material dalam penggunaan prinsip dan metode akuntansi.
Pendapat Wajar dengan Pengecualian
Pendapat ini diberikan apabila :
  1. Tidak ada bukti kompeten yang cukup atau adanya pembatasan lingkup audit yang material tetapi tidak mempengaruhi laporan keuangan secara keseluruhan.
  2. Auditor yakin bahwa laporan keuangan berisi penyimpangan dari prinsip akuntansi yang berterima umum yang berdampak material tetapi tidak mempengaruhi laporan keuangan secara keseluruhan. Penyimpangan tersebut dapat berupa pengungkapan yang tidak memadai, maupun perubahan dalam prinsip akuntansi.
Pendapat Tidak Wajar
Pendapat ini menyatakan bahwa laporan keuangan tidak menyajikan secara wajar keuangan, hasil usaha, dan arus kas sesuai dengan prinsip akuntansi yang berterima umum. Auditor harus menjelaskan alasan pendukung pendapat tidak wajar, dan dampak utama dari hal yang menyebabkan pendapat diberikan terhadap laporan keuangan. Penjelasan tersebut harus dinyatakan dalam paragraph terpisah sebelum paragraph pendapat.

Penyataan Tidak Memberikan Pendapat
Pernyataan auditor untuk tidak memberikan pendapat layak diberikan apabila :
  1. Ada pembatasan lingkup audit yang sangat material baik oleh klien maupun karena kondisi tertentu
  2. Auditor tidak independen terhadap klien
Pendapat Tidak Penuh (Piecemeal Opinion)
Pendapat ini sebenarnya buka merupakan suatu jenis pendapat tersendiri. Pendapat tidak penuh adalah pendapat atas unsur tertentu dalam laporan keuangan. Pendapat ini tidak boleh dinyatakan apabila auditor menyatakan tidak memberikan pendapat atau ia menyatakan pendapat tidak wajar atas laporan keuangan secara keseluruhan.

Faktor Tertentu Pertimbangan Pelaporan
Bagian Audit Dilaksanakan Oleh Auditor Independen Lain
Untuk itu auditor harus mempertimbangkan beberapa hal berikut :
  1. Materialitas bagian laporan keuangan auditannya dibandingkan dengan auditor kedua.
  2. Luas pengetahuannya mengenai laporan keuangan secara keseluruhan disbanding auditor kedua.
  3. Pentingnya komponen-komponen yang diauditnya dalam hubungannya dengan perusahaan secara keseluruhan.
  4. Informasi Lain dalam Dokumen yang Berisi Laporan Keuangan Auditan
Yang dimaksud informasi lain dalam pembahasan ini adalah dokumen sebagai tambahan laporan keuangan auditan dan laporan auditor independen yang terdapat dalam :
  1. Laporan keuangan tahunan yang ditujukan kepada pemegang saham, kreditur, dan pemegang manfaat lain.
  2. Laporan keuangan tahunan yang diserahkan kepada badan pengatur menurut ketentuan peraturan pasar modal.
  3. Laporan keuangan organisasi social yang digunakan untuk menghimpun sumbangan yang akan didistribusikan kepada masyarakat luas.
  4. Dokumen lain yang auditor diminta klien untuk menaruh perhatian.
Pelaporan atas Laporan Keuangan Ringkasan dan Data Keuangan Pilihan
Laporan keuangan ringkasan disajikan dalam format yang sangat tidak rinci disbanding laporan keuangan yang lengkap yang menyajikan posisi keuangan, hasil usaha, dan arus kas sesuai dengan prinsip akuntansi yang berterima umum. Auditor dapat ditugasi untuk menyusun dan melaporkan laporan keuangan ringkasan yang berasal dari laporan keuangan auditan.

Related Posts

Pelaporan Audit
4/ 5
Oleh

Contact Me

Name

Email *

Message *