Jasa lain kantor akuntan publik

Jasa Atestasi

Penugasan Atestasi

      Penugasan yang di dalamnya praktisi dikontrak untuk menerbitkan komunikasi tertulis yang menyatakan suatu kesimpulan tentang keandalan asersi tertulis yang menjadi tanggung jawab pihak lain.

      Contoh jasa professional yang dapat diberikan oleh para praktisi yang tidak termasuk dalam penugasan atestasi adalah :
1.      Penugasan konsultasi manajemen yang di dalam penugasan tersebut praktisi dikontrak untuk memberikan nasehat atau rekomendasi kepada kliennya.
2.      Penugasan yang di dalamnya praktisi dikontrak untuk membela kepentingan klien. Sebagai contoh, dalam masalah pemeriksaan/verifikasi pajak yang sedang ditangani oleh aparat Direktorat Jendrak Pajak.
3.      Penugasan pajak yang di dalamnya praktisi dikontrak untuk mengisi Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan atau untuk memberikan nasehat perpajakan.
4.      Penugasan yang di dalamnya praktisi dikontrak untuk melakukan kompilasi laporan keuangan, karena ia tidak diminta untuk memeriksa atau me-review bukti yang mendukung informasi yang diserahkan oleh klien dan tidak menyatak kesimpulan apapun atas kendalanya.
5.      Penugasan yang di dalamnya praktisi berperan utama hanya dalam membantu klien. Sebagai contoh, bertindak sebagai akuntan perusahaan dalam pembuatan informasi selain laporan keuangan.
6.      Penugasan yang di dalamnya praktisi dikontrak untuk bertindak sebagai saksi ahli dalam bidang akuntansi, auditing, perpajakan atau hal lain berdasarkan fakta-fakta tertentu yang disepakati dalam kontrak.
7.      Penugasan yang di dalamnya praktisi dikontrak untuk memberikan suatu pendapat sebagai seorang yang ahli mengenai suatu prinsip tertentu, seperti penerapan undang-undang pajak atau prinsip akuntansi, berdasarkan fakta khusus yang disediakan oleh pihak lain, sepanjang pendapat sebagai ahli tidak menyatakan kesimpulan mengenai keandalan fakta yang diberikan oleh pihak lain tersebut.

Pemeriksaan (Examination)

      Bila penyajian asersi disusun sesuai dengan kriteria yang dibuat yang telah disepakati bersama oleh pembuat asersi dan pemakainya, laporan praktisi harus berisi:

a.       Suatu pernyataan mengenai pembatasan penggunaan laporan tersebut karena laporan tersebut hanya diperuntukkan khusus bagi pihak yang sudah ditentukan.
b.      Suatu petunjuk, jika dapat diterapkan bahwa penyajian asersi akan berbeda secara material dari yang disajikan sekarang, jika kriteria yang dipakai untuk penyajian asersi tersebut dimaksudkan untuk dibagikan secara umum.
Review

      Laporan praktisi yang berisi keyakinan negative juga dapat berisi komentar atas atau penekanan terhadap hal-hal tertentu yang bersangkutan dengan penugasan atestasi atau penyajian asesrsi. Lebih lanjut, laporan praktisi harus :
a.       Menunjukkan bahwa pekerjaan dilaksanakan dengan luas yang lebih terbatas dibandingkan dengan suatu pemeriksaan.
b.      Menolak untuk memberikan keyakinan positif atas asersi tersebut.
Prosedur yang Disepakati Bersama (Agreed-upon Procedure)

      Kesimpulan yang dibuat oleh praktisi sebagai hasil penerapan prosedur yang disepakati bersama atas suatu penyajian asersi harus berbentuk ringkasan temuan, keyakinan, atau keduanya. Laporan praktisi harus berisi :
a.       Suatu pernyataan tentang pembatasan penggunaan laporan karena laporan tersebut hanya ditujukan untuk penggunaan oleh pihak yang telah disebutkan.
b.      Suatu daftar atau ringkasan prosedur khusus yang dilaksanakan untuk memberitahu pembaca laporan tentang dasar yang digunakan dalam melaporkan temuan atau keyakinan negative.

Jasa Atestasi Yang Berkaitan Dengan Penugasan Jasa Konsultasi Manajemen

Jasa Atestasi sebagai bagian suatu penugasan Jasa Konsultasi Manajemen

      Bila praktisi memberikan jasa atestasi sebagai bagian dari penugasan jasa konsultasi manajemen (JKM), Pernyataan Standar Atestasi ini hanya berlaku terbatas untuk jasa atestasi saja. Jika praktisi menentukan bahwa jasa atestasi dilaksanakan sebagai bagian dari penugasan Jasa Konsultasi Manajemen, praktisi harus memberitahu klien menganai perbedaan yang relevan antara dua tipe jasa tersebut dan harus memperoleh persetujuan dari klien bahwa jasa atestasi harus dilaksanakan berdasarkan persyaratan professional yang memadai. Surat Perjanjian JKM atau perubahannya harus menyebutkan persyaratan pelaksanaan jasa atestasi tersebut. Praktisi harus melakukan tindakan itu karena persyaratan professional untuk jasa atestasi berbeda dengan persyaratan JKM.

Asersi, Kriteria, dan Bukti

      Suatu jasa atestasi dapat mencakup asersi tertulis, evaluasi terhadap kriteria, atau bukti atestasi yang dikembangkan selama atau sebelum penugasan JKM. Asersi tertulis yang dibuat oleh pihak lain yang dikembangkan atas dasar nasehat dan bantuan praktisi sebagai hasil penugasan JKM dapat merupakan subjek penugasan atestasi, sepanjang asersi tersebut tergantung atas tindakan, rencana, atau asumsi pihak lain tersebut, yang berada dalam posisi untuk mempertimbangkan kecermatan informasi. Kriteria yang dikembangkan dengan bantuan praktisi dapat digunakan untuk mengevaluasi suatu asersi dalam penugasan atestasi.

Evaluasi Non Atestasi atas Asersi Tertulis

      Evaluasi atas pernyataan yang terdapat dalam asersi tertulis pihak lain dalam pelaksanaan JKM tidak dengan sendirinya merupakan pelaksanaan jasa atetasi. Sebagai contoh, dalam pelaksanaan penugasan untuk membantu klien untuk memilih suatu computer yang memenuhi kebutuhan klien, praktisi mungkin mengevaluasi asersi tertulis dari satu atau lebih pemasok, dengan melaksanakan beberapa prosedur yang sama dengan yang diperlukan dalam jasa atestasi. Studi yang dilaksanakan praktisi tentang kesesuaian computer dengan kebutuhan klien tidak hanya terbatas pada apa yang tercantum dalam asersi tertulis pemasok. Beberapa atau semua informasi yang disediakan oleh pemasok dan informasi lain, akan dievaluasi oleh praktisi untuk memberikan rekomendasi system computer yang sesuai dengan kebutuhan klien. Penilaian ini diperlukan untuk memungkinkan praktisi mencapai tujuan yang ditetapkan dengan penugasan JKM.


Jasa Kompilasi dan Review

Kompilasi Laporan Keuangan :

      Sebelum menerbitkan laporannya, akuntan harus membaca laporan keuangan yang telah dikompilasi dan mempertimbangkan laporan keuang tersebut layak bila ditinjau dari segi bentuknya dan bebas dari kekeliruan material yang nyata. Dalam hubungan ini, istilah kekeliruan diartikan sebagai kesalahan dalam kompilasi laporan keuangan, termasuk kesalahan hitung dan keslahan dalam penerapan prinsip akuntansi, termasuk pengungkapan nyang kurang memadai.

      Laporan keuangan yang dikompilasi tanpa diaudit atau review oleh akuntan harus disertai dengan suatu laporan akuntan yang menyatakan bahwa :
a)      Kompilasi telah dilakukan sesuai dengan standar.
b)      Kompilasi terbatas pada penyajian dalam bentuk informasi laporan keuangan yang merupakan representasi manajemen atau pemilik.
c)      Laporan keuang belum diaudit atau di-review dan dengan demikian akuntan tidak menyatakan pendapat atau bentuk keyakinan lain apapun.
Review atas Laporan Keuangan

      Laporan keuangan yang di-review oleh akuntan harus disertai dengan laporan akuntan yang menyatakan bahwa :
1.      Review dilaksanakan sesuai dengan standar yang ditetapkan Ikatan Akuntan Indonesia,
2.      Semua informasi yang dimasukkan dalam laporan keuangan adalah penyajian manajemen satua usaha tersebut.
3.      Review terutama mencakup pengajuan pertanyaan kepada para pejabat penting perusahaan dan prosedur analitis yang diterapkan terhadap data keuangan.
4.      Lingkup review jauh lebih sempit dibandingkan dengan lingkup audit yang tujuannya untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan secara keseluruhan dan dengan demikian ntidak dinyatakan pendapat semacam itu dalam suatu review.
5.      Akuntan tidak mengetahui adanya suatu modifikasi material yang harus dilakukan atas laporan keuangan agar laporan tersebut sesuai dengan prinsip akuntansi yang berterima umum.

    Jasa Atestasi

    Penugasan Atestasi

          Penugasan yang di dalamnya praktisi dikontrak untuk menerbitkan komunikasi tertulis yang menyatakan suatu kesimpulan tentang keandalan asersi tertulis yang menjadi tanggung jawab pihak lain.

          Contoh jasa professional yang dapat diberikan oleh para praktisi yang tidak termasuk dalam penugasan atestasi adalah :
    1.      Penugasan konsultasi manajemen yang di dalam penugasan tersebut praktisi dikontrak untuk memberikan nasehat atau rekomendasi kepada kliennya.
    2.      Penugasan yang di dalamnya praktisi dikontrak untuk membela kepentingan klien. Sebagai contoh, dalam masalah pemeriksaan/verifikasi pajak yang sedang ditangani oleh aparat Direktorat Jendrak Pajak.
    3.      Penugasan pajak yang di dalamnya praktisi dikontrak untuk mengisi Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan atau untuk memberikan nasehat perpajakan.
    4.      Penugasan yang di dalamnya praktisi dikontrak untuk melakukan kompilasi laporan keuangan, karena ia tidak diminta untuk memeriksa atau me-review bukti yang mendukung informasi yang diserahkan oleh klien dan tidak menyatak kesimpulan apapun atas kendalanya.
    5.      Penugasan yang di dalamnya praktisi berperan utama hanya dalam membantu klien. Sebagai contoh, bertindak sebagai akuntan perusahaan dalam pembuatan informasi selain laporan keuangan.
    6.      Penugasan yang di dalamnya praktisi dikontrak untuk bertindak sebagai saksi ahli dalam bidang akuntansi, auditing, perpajakan atau hal lain berdasarkan fakta-fakta tertentu yang disepakati dalam kontrak.
    7.      Penugasan yang di dalamnya praktisi dikontrak untuk memberikan suatu pendapat sebagai seorang yang ahli mengenai suatu prinsip tertentu, seperti penerapan undang-undang pajak atau prinsip akuntansi, berdasarkan fakta khusus yang disediakan oleh pihak lain, sepanjang pendapat sebagai ahli tidak menyatakan kesimpulan mengenai keandalan fakta yang diberikan oleh pihak lain tersebut.

    Pemeriksaan (Examination)

          Bila penyajian asersi disusun sesuai dengan kriteria yang dibuat yang telah disepakati bersama oleh pembuat asersi dan pemakainya, laporan praktisi harus berisi:

    a.       Suatu pernyataan mengenai pembatasan penggunaan laporan tersebut karena laporan tersebut hanya diperuntukkan khusus bagi pihak yang sudah ditentukan.
    b.      Suatu petunjuk, jika dapat diterapkan bahwa penyajian asersi akan berbeda secara material dari yang disajikan sekarang, jika kriteria yang dipakai untuk penyajian asersi tersebut dimaksudkan untuk dibagikan secara umum.
    Review

          Laporan praktisi yang berisi keyakinan negative juga dapat berisi komentar atas atau penekanan terhadap hal-hal tertentu yang bersangkutan dengan penugasan atestasi atau penyajian asesrsi. Lebih lanjut, laporan praktisi harus :
    a.       Menunjukkan bahwa pekerjaan dilaksanakan dengan luas yang lebih terbatas dibandingkan dengan suatu pemeriksaan.
    b.      Menolak untuk memberikan keyakinan positif atas asersi tersebut.
    Prosedur yang Disepakati Bersama (Agreed-upon Procedure)

          Kesimpulan yang dibuat oleh praktisi sebagai hasil penerapan prosedur yang disepakati bersama atas suatu penyajian asersi harus berbentuk ringkasan temuan, keyakinan, atau keduanya. Laporan praktisi harus berisi :
    a.       Suatu pernyataan tentang pembatasan penggunaan laporan karena laporan tersebut hanya ditujukan untuk penggunaan oleh pihak yang telah disebutkan.
    b.      Suatu daftar atau ringkasan prosedur khusus yang dilaksanakan untuk memberitahu pembaca laporan tentang dasar yang digunakan dalam melaporkan temuan atau keyakinan negative.

    Jasa Atestasi Yang Berkaitan Dengan Penugasan Jasa Konsultasi Manajemen

    Jasa Atestasi sebagai bagian suatu penugasan Jasa Konsultasi Manajemen

          Bila praktisi memberikan jasa atestasi sebagai bagian dari penugasan jasa konsultasi manajemen (JKM), Pernyataan Standar Atestasi ini hanya berlaku terbatas untuk jasa atestasi saja. Jika praktisi menentukan bahwa jasa atestasi dilaksanakan sebagai bagian dari penugasan Jasa Konsultasi Manajemen, praktisi harus memberitahu klien menganai perbedaan yang relevan antara dua tipe jasa tersebut dan harus memperoleh persetujuan dari klien bahwa jasa atestasi harus dilaksanakan berdasarkan persyaratan professional yang memadai. Surat Perjanjian JKM atau perubahannya harus menyebutkan persyaratan pelaksanaan jasa atestasi tersebut. Praktisi harus melakukan tindakan itu karena persyaratan professional untuk jasa atestasi berbeda dengan persyaratan JKM.

    Asersi, Kriteria, dan Bukti

          Suatu jasa atestasi dapat mencakup asersi tertulis, evaluasi terhadap kriteria, atau bukti atestasi yang dikembangkan selama atau sebelum penugasan JKM. Asersi tertulis yang dibuat oleh pihak lain yang dikembangkan atas dasar nasehat dan bantuan praktisi sebagai hasil penugasan JKM dapat merupakan subjek penugasan atestasi, sepanjang asersi tersebut tergantung atas tindakan, rencana, atau asumsi pihak lain tersebut, yang berada dalam posisi untuk mempertimbangkan kecermatan informasi. Kriteria yang dikembangkan dengan bantuan praktisi dapat digunakan untuk mengevaluasi suatu asersi dalam penugasan atestasi.

    Evaluasi Non Atestasi atas Asersi Tertulis

          Evaluasi atas pernyataan yang terdapat dalam asersi tertulis pihak lain dalam pelaksanaan JKM tidak dengan sendirinya merupakan pelaksanaan jasa atetasi. Sebagai contoh, dalam pelaksanaan penugasan untuk membantu klien untuk memilih suatu computer yang memenuhi kebutuhan klien, praktisi mungkin mengevaluasi asersi tertulis dari satu atau lebih pemasok, dengan melaksanakan beberapa prosedur yang sama dengan yang diperlukan dalam jasa atestasi. Studi yang dilaksanakan praktisi tentang kesesuaian computer dengan kebutuhan klien tidak hanya terbatas pada apa yang tercantum dalam asersi tertulis pemasok. Beberapa atau semua informasi yang disediakan oleh pemasok dan informasi lain, akan dievaluasi oleh praktisi untuk memberikan rekomendasi system computer yang sesuai dengan kebutuhan klien. Penilaian ini diperlukan untuk memungkinkan praktisi mencapai tujuan yang ditetapkan dengan penugasan JKM.


    Jasa Kompilasi dan Review

    Kompilasi Laporan Keuangan :

          Sebelum menerbitkan laporannya, akuntan harus membaca laporan keuangan yang telah dikompilasi dan mempertimbangkan laporan keuang tersebut layak bila ditinjau dari segi bentuknya dan bebas dari kekeliruan material yang nyata. Dalam hubungan ini, istilah kekeliruan diartikan sebagai kesalahan dalam kompilasi laporan keuangan, termasuk kesalahan hitung dan keslahan dalam penerapan prinsip akuntansi, termasuk pengungkapan nyang kurang memadai.

          Laporan keuangan yang dikompilasi tanpa diaudit atau review oleh akuntan harus disertai dengan suatu laporan akuntan yang menyatakan bahwa :
    a)      Kompilasi telah dilakukan sesuai dengan standar.
    b)      Kompilasi terbatas pada penyajian dalam bentuk informasi laporan keuangan yang merupakan representasi manajemen atau pemilik.
    c)      Laporan keuang belum diaudit atau di-review dan dengan demikian akuntan tidak menyatakan pendapat atau bentuk keyakinan lain apapun.
    Review atas Laporan Keuangan

          Laporan keuangan yang di-review oleh akuntan harus disertai dengan laporan akuntan yang menyatakan bahwa :
    1.      Review dilaksanakan sesuai dengan standar yang ditetapkan Ikatan Akuntan Indonesia,
    2.      Semua informasi yang dimasukkan dalam laporan keuangan adalah penyajian manajemen satua usaha tersebut.
    3.      Review terutama mencakup pengajuan pertanyaan kepada para pejabat penting perusahaan dan prosedur analitis yang diterapkan terhadap data keuangan.
    4.      Lingkup review jauh lebih sempit dibandingkan dengan lingkup audit yang tujuannya untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan secara keseluruhan dan dengan demikian ntidak dinyatakan pendapat semacam itu dalam suatu review.
    5.      Akuntan tidak mengetahui adanya suatu modifikasi material yang harus dilakukan atas laporan keuangan agar laporan tersebut sesuai dengan prinsip akuntansi yang berterima umum.

      Related Posts

      Jasa lain kantor akuntan publik
      4/ 5
      Oleh

      Contact Me

      Name

      Email *

      Message *