membuat keputusan etis (Ethical Decision Making)

Kerangka kerja EDM menilai etis atau tidaknya suatu keputusan atau tindakan dengan menguji : Konsekuensi atau kemunculan keuntungan atau biaya bersih. Hak dan kewajiban yang terpengaruhKeadilan yang ada Motivasi atau kebajikan yang diharapkan. Tiga pertimbangan pertama dari empat pertimbangan diatas, yaitu konsekuensialisme, deontologi dan keadilan, diuji dengan menitikberatkan pada dampak suatu keputusan terhadap pemegang saham dan pemangku kepentingan lain yang terpengaruh, yang dikenal dengan analisis dampak pemangku kepentingan. Pertimbangan keempat, motivasi pengambil keputusan, adalah pendekatan yang dikenal dengan etika kebajikan. Keempat pertimbangan harus sungguh-sungguh diuji dan nilai etika yang sesuai harus diterapkan dalam keputusan dan implementasinya jika suatu keputusan atau tindakan dapat dipertahankan secara etis.

Dituntut untuk meningkatkan pendidikan etika dan EDM akibat skandal Enron, Arthur Andersen, dan WorldCom, dan berikutnya reformasi tata kelola, AACB Ethics Educations Task Force (2004) telah memanggil para pelajar bisnis untuk mengenal tiga pendekatan filosofis terhadap pengambilan keputusan etis : konsekuensialisme, deontologi dan virtue ethics.

Institusi bisnis mengenal adanya shareholder dan stakeholder.Orientasi perusahaan untuk memenuhi kebutuhan shareholder memang sudah sewajarnya sebagai tujuan suatu korporasi.Sebagaimana yang diajarkan di kuliah pengantar ilmu administrasi bisnis, tujuan beroperasinya perusahaan adalah to maximize wealth of shareholder, memaksimalkan kemakmuran para pemegang saham.Sementara, gaung agar dunia bisnis lebih memahami stakeholder interest sedang menggema kencang saat ini, mendorong para pelaku bisnis untuk melakukan reorientasi pada praktik-praktik bisnisnya.

Terlepas dari ranah konsep bahwa shareholder merupakan bagian dari stakeholder pula, Sebenarnya perkembangan arah orientasi pada concern pada stakeholder value merupakan gerak simultan yang berbeda. Jika shareholder value an sich lebih memprioritaskan pada pencapaian profit dalam satu periode, orientasi pada stakeholder mendrive perusahaan untuk lebih banyak mengalokasikan sumber daya nya pada berbagai tujuan, melibatkan berbagai pihak eksternal di luar jangkauan manajemen tradisional perusahaan, dan menghasilkan outcome yang belum terukur secara pasti kinerjanya. Mengapa?Karena stakeholder perusahaan meliputi berbagai elemen yang berkontribusi secara langsung atau tidak dalam praktik bisnis sehari-hari.Mereka termasuk consumer dan customer, business partner, shareholder, employee, government, community, NPO atau NGO. Bahkan, perusahaan-perusahaan di Jepang menambahkan unsur developing countries sebagai stakeholder mereka.

  Kepentingan fundamental stakeholder
Para decision maker menggabungkan kepentingan kelompok stakeholder dan menciptakaan tiga kepentingan yang mendasar, yaitu:

1.            Dapat menghasilkan keputusan yang dapat mengakomodir kepentingan mereka.
2.            Suatu keputusan sebaiknya mempertimbangkan pendistribusian yang adil antara keuntungan dan beban .
3.            Suatu keputusan hendaknya tidak bertentangan dengan hak-hak Stakeholder, termasuk hak dalam membuat keputusan.
Well-offnes : Keputusan sebaiknya menghasilkan lebih banyak keuntungan daripada Biaya
Fairness        : Pendistribusian hendaknya mempertimbangkan keseimbangan antara keuntungan dan biaya.
Right            : Hasil keputusan hendaknya tidak bertentangan dengan hak Stakeholder.

§  Kepentingan mendasar dari pemangku kepentingan
Pengambil keputusan mengkonsolidasikan kepentingan kelompok pemangku kepentingan kedalam tiga kepentingan yang umum atau mendasar, yaitu :
Kepentingan mereka seharusnya menjadi lebih baik sebagai hasil dari keputusan
Keputusan tersebut seharusnya menghasilkan pembagian yang adil dalam keuntungan dan beban
Keputusan tersebut seharusnya tidak menyinggung hak para pemangku kepentingan, termasuk para pembuat keputusan
Jadi, keputusan yang ditawarkan dapat dikatakan tidak etis jika keputusan tersebut gagal untuk memberikan keuntungan bersih, tidak adil, atau mengganggu hak para pemangku kepentingan.

§  Pengukuran dampak yang dapat diukur
Hanya Keuntungan atau kerugian
A dan eksternalitas (contohnya Cost-Benefit Analysis/CBA)
B dan probabilitas keluaran (contohnya Risk Benefit Analysis/RBA)
CBA atau RBA dan rangking pemangku kepentingan

§  Penilaian Dampak yang tidak terukur
Keadilan terhadap pemangku kepentingan
Hak pemangku kepentingan

§  Analisis dampak pemangku kepentingan pengambilan keputusan pendekatan
Beberapa pendekatan dikembangkan memanfaatkan analisis dampak pemangku kepentingan untuk memberikan bimbingan tentang kepatutan tindakan yang diusulkan untuk pengambil keputusan. Memilih pendekatan yang paling berguna tergantung pada apakah dampak keputusan pendek daripada jangka panjang, melibatkan eksternalitas dan / atau probabilitas, atau mengambil tempat dalam pengaturan perusahaan. Pendekatan dapat digabung disesuaikan untuk mengatasi situasi tertentu.

Analisis etis yang komprehensif melebihi model Tucker, Velasquez, dan Pastin dikembangkan untuk menggabungkan penilaian dari motivasi, kebajikan, dan karakter sifat dipamerkan dibandingkan dengan yang diharapkan oleh stakeholder.

 Model Pengukuran stakeholder impact
Keuntungan adalah kepentingan utama yang ingin didapat oleh para pemegang saham dan merupakan hal yang penting untuk mencerminkan ketahanan dan kesehatan suatu perusahaan.Pada waktu inflasi, keuntungan dapat merubah inventory di harga yang lebih tinggi.

§  Stakeholder Impact Analysis – alat untuk menilai keputusan dan tindakan
Sejak berkembangnya konsep utilitarianisme pada 1861, suatu pendekatan yang diterima untuk menilai keputusan dan hasil tindakan adalah dengan mengevaluasi hasil akhir atau konsekuensi dari tindakan, yang secara tradisional didasarkan pada dampak keputusan terhadap kepentingan pemilik perusahaan atau pemegang saham. Biasanya, dampak ini diukur dari keuntungan atau kerugian yang terjadi, karena keuntungan telah menjadi ukuran keberadaan yang ingin dimaksimalkan oleh pemegang saham. Pandangan tradisional ini sekarang berubah dalam dua jalan. Pertama, asumsi bahwa semua pemegang saham ingin memaksimalkan hanya keuntungan jangka pendek menunjukkan fokus yang terlalu sempit. Kedua, hak dan tuntutan kelompok-kelompok non-pemegang saham, seperti pekerja, konsumen/klien, supplier, pemerhati lingkungan, dan pemerintah yang mempunyai kepentingan dalam keluaran keputusan, atau didalam perusahaan itu sendiri, statusnya diakui dalam pengambilan keputusan perusahaan. Perusahaan modern sekarang akuntabel terhadap pemegang saham dan kelompok non-pemegang saham , yang keduanya menjadi pemangku kepentingan, kepada siapa respon perusahaan ditujukan. Biasanya, maksimalisasi keuntungan dalam jangka waktu lebih dari setahun memerlukan hubungan yang harmonis dengan kelompok pemangku kepentingan dan kepentingannya.

§ Pengkajian terhadap pengaruh yang tidak dapat dikuantifisir
            Keadilan bukan merupakan konsep yang absolut.hal ini merupakan petunjuk yang berasal dari suatu kejadian ekonomi yang berorientasi dalam mencari keuntungan dan biaya yang menjadi dasar dari keputusan tersebut. contohnya adalah keputusan untuk menaikan pajak lebih tinggi pada pendapatan tinggi, tetapi melihat secara adil sesuai dengan kapasitas mereka untuk membayar pajak. alasan dan perspektif diperlukan untuk menilai kewajaran dengan teliti.

 model keputusan etis
Ø  Ciri-Ciri Keputusan Etis
            keputusan etis yang mempunyai ciri antara lain :
1.      Harus mempertimbangkan apa yang benar dan apa yang salah.
2.      Harus mempertimbangkan mana yang baik dan mana yang buruk.
3.      Harus memperimbangkan pikiran dan hati nurani dalam menentukan mana yang baik dan mana yang buruk karena fungsi dari etika sebagai alat pengawas.

§  Model pengambilan keputusan
a.     Model Keputusan Optimasi,
          merupakan suatu model pengambilan keputusan yang menguraikan bagaimana individu-individu menguraikan bagaimana seharusnya individu-individu berperilaku agar memaksimalkan suatu hasil.
Langkah-langkah dalam model optimasi :
1.      Memastikan pentingnya suatu keputusan
2.      Mengenali kreteria keputusan
3.      Memberikan prioritas / bobot pada kreteria keputasan yang diambil
4.      Mengembangkan alternatif-alternatif keputusan
5.      Mengevaluasi alternatif keputusan  
6.       Memastikan alternatif keputusan yang terbaik
b.    Model Keputusan Alternatif
             Model keputusan umtuk membantu menjelaskan dan meramal perilaku-perilaku yang tidak rasional jika dipandang dibawah pengandaian-pengandaian optimasi.

c.     Model Cukup-Memuaskan,
            Suatu model pengambilan keputusan yang cara pengambilan keputusannya memilih pemecahan pertama cukup baik yaitu memuaskan dan cukup. Hakikat dari model cukup-memuaskan adalah cara menghadapi masalah-masalah yang rumit,menanggapi pengambilan keputusan dengan mengurangi atau mengecilkan masalah ke tingkatan yang mudah dipahami.
            Kemudian individu-individu dapat berperilaku rasional yang dinamakan rasionalitas berikat yang merupakan individu-individu mengambilkeputusan dengan merancang bangun model-model yang disederhanakan yang mengekstrak perwajahan yang mutlak diperlukan dari problem-problem tanpa menangkap semua kerumitan Salah satu aspek yang menarika dalam model cukup-memuaskan adalah alternatif-alternatif yang dipertimbangkan bersifat kritis dalam menentukan alternatif pilihan.

d.    Model Favorit Implisit,
            Suatu pengambilan keputusan secara implisit dengan memilih alternatif yang lebih disukai dan mengesampingkan evaluasi dari alternatif-alternatif yang lain.

e.     Model Intuitif,
            Merupakan suatu proses yang diciptakan dalam pengalaman yang terbaik.
Faktor-faktor kita mengambil keputusan secara intuitif :
1.    Mempunyai keyakinan
2.    Mempunyai prseden yang sedikit
3.    Mempunyai variabel-variabel yang kurang dapat diperkirakan secara ilmiah
4.    .Mempunyai keterbatasan fakta
5.    Tidakmempunyai pedoman yang jelas
6.    Tidak mempunyai data analitis
7.     Mempunyai argumentasi dengan beberapa alternatif pilihan yang terbaik
8.     Kecepatan dalam mengambil keputusan ketika waktu yang tersedia terbatas

§  Kebiasan yang keliru pada para pembuat keputusan :
1.      Berfokus pada keuntungan jangka pendek dan kepentingan pemegang saham.
Seringkali, dampak yang paling signifikan (pemegang saham, pemegang saham) dari suatu tindakan yang diusulkan adalah mereka bahwa permukaan di masa depan dan mereka dengan nonshareholder stakeholder pertama. Hanya setelah kelompok ini bereaksi terhadap pemegang saham menanggung biaya kesalahan. Obat untuk miopia ini adalah untuk memastikan cakrawala waktu yang cukup untuk analisis, dan untuk mempertimbangkan eksternalitas akun berdasarkan biaya-manfaat, meskipun dampaknya diukur awalnya oleh sekelompok nonshareholder.
2.      Berfokus pada keuntungan jangka pendek dan pemegang saham
Seringkali, dampak yang paling signifikan (pemegang saham, pemegang saham) dari suatu tindakan yang diusulkan adalah mereka bahwa permukaan di masa depan dan mereka dengan nonshareholder stakeholder pertama. Hanya setelah kelompok ini bereaksi terhadap pemegang saham menanggung biaya kesalahan. Obat untuk miopia ini adalah untuk memastikan cakrawala waktu yang cukup untuk analisis, dan untuk mempertimbangkan eksternalitas akun berdasarkan biaya-manfaat, meskipun dampaknya diukur awalnya oleh sekelompok nonshareholder.
3.      Berfokus hanya pada legalitas
banyak manajer yang hanya peduli dengan apakah suatu tindakan sesuai dengan aturan. Hukum, beranggapan bahwa  "Jika itu sesuai aturan hukum, berarti tindakannya etis."
Sayangnya, banyak menemukan mereka perlu boikot pelanggan, menurunnya karyawan, meningkatkan peraturan pemerintah untuk menutupi celah-celah dan denda. Beberapa tidak peduli karena mereka hanya dimaksudkan untuk tinggal dengan perusahaan ini untuk waktu yang singkat
4.      Keadilan yang terbatas
Kadang-kadang pengambil keputusan bersikap adil hanya untuk kelompok yang disukai. Dan mereka tak punya kemampuan mengendalikan opini umum dan ujung ujungnya  membayar untuk mengawasi mereka. Banyak eksekutif telah menunda masalah dan  mengabaikan atas resiko. Cara yang terbaik untuk menjamin suatu keputusan itu etis bila berlaku adil untuk semua pemangku kepentingan.
5.      Pembatasan hak yang teliti
Pengambil keputusan seharusnya meneliti dampak terhadap hak seluruh pemangku kepentingan.
6.      Konflik kepentingan
Perkiraan/prasangka  bukan satu-satunya alasan untuk menunjukkan penilaian tindakan yang diusulkan. Penghakiman dapat diliputi oleh konflik kepentingan --- kepentingan pribadi dari pembuat keputusan terhadap kepentingan terbaik perusahaan atau sekelompok pengambilan keputusan adalah penyimpangan  terhadap kepentingan terbaik perusahaan
7.      Keterkaitan pemangku kepentingan
Seringkali pembuat keputusan gagal mengantisipasi bahwa apa yang mereka putuskan untuk satu kelompok akan mempengaruhi kelompok yang lain.
8.      Kegagalan untuk mengidentifikasi semua kelompok stakeholder
Kebutuhan untuk mengidentifikasi semua stakeholder dan kelompok kepentingan sebelum mengevaluasi dampak dari masing-masing bukti diri. Namun, ini merupakan langkah yang diambil untuk diberikan berulang kali, dengan hasil bahwa isu-isu penting tidak diketahui. Sebuah pendekatan yang berguna untuk membantu masalah ini adalah untuk berspekulasi tentang bagaimana buruk itu bisa pergi dari tindakan yang diusulkan dan mencoba untuk menilai bagaimana media bereaksi. Hal ini sering mengarah pada identifikasi kelompok yang paling rentan stakeholder.
9.      Kegagalan memberi peringkat pada kepentingan stakeholder
Kecenderungan untuk memperlakukan semua kepentingan stakeholders sama tingkat pentingnya. Namun, sering  memperlaakukan kepentingan yang mendesak yang paling penting. Mengabaikan ini tidak benar dan dapat menyebabkan keputusan kurang optimal dan tidak etis.
10.  Meninggalkan kebaikan, kejujuran dan hak.
Seperti dijelaskan sebelumnya,, bahwa keputusan etis yang komprehensif tidak bisa dilakukan jika salah satu dari tiga aspek terlupakan.
11.  Kegagalan mempertimbangkan motivasi untuk sebuah keputusan
Selama bertahun-tahun, pengusaha dan profesional yang tidak peduli tentang motivasi untuk tindakan, seperti consenquences dapat diterima. Sayangnya, banyak produsen telah kehilangan melihat kebutuhan untuk meningkatkan jaringan global untuk semua pengambilan manfaat (atau sebanyak mungkin) dan keputusan dibuat bahwa manfaat sendiri, atau hanya sedikit kurang beruntung pendek dan jangka panjang lainnya . Cupet ini, murni SEFT - pengambil keputusan organisasi yang berminat mewakili risiko tinggi untuk pemerintahan.
12.  Kegagalan untuk memperhitungkan kebajikan yang seharusnya ditunjukkan
Anggota dewan, eksekutif dan akuntan profesional diharapkan untuk bertindak dengan itikad baik dan pembuangan kewajiban fidusia kepada orang-orang mengandalkan mereka. Mengabaikan kebajikan diharapkan dari mereka dapat menyebabkan ketidakjujuran, kurangnya integritas dalam penyusunan laporan, kegagalan untuk bertindak atas nama stakeholder, dan kegagalan untuk debit keberanian dalam menghadapi orang lain yang terlibat dalam tindakan tidak etis, atau meniup peluit bila diperlukan.

§  Isu-isu yang berkembang dalam pengambilan keputusan
a.     Memperbaiki pengambilan Keputusan yang etis .

Tiga kreteria keputusan yang etis :
1.    Manfaat utilitarian
2.    Fokus pada hak
3.    Fokus pada keadilan

b.    Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Pengambilan Keputusan Etis :

1.      Tahap Perkembangan Moral,
            Sesustu penilaian dari kapasitas seseorang untuk menimbang-nimbang apakah yang secara besar, makin tinggi perkembangan moral seseorang makin kurang bergantung ia pada pengaruh-pengaruh luar dan makin cendurung berlaku etis.

2.      Lingkungan organisasi,
            Merujuk ke persepsi karyawan mengenai pengharapan organissasional.

3.      Tempat Kedudukan Kendali,
            Hal ini tidak lepas dengan struktur organisasi. Keputusan Yang Etis Suatu Keharusan Mengapa keputusan yang etis suatu keharusan, karena setiap individu, maupun kelompok, lembaga, dihadapkan kepada pilihan-pilihan yang perlu dilakukan atau diambil, yang sewaktu-waktu sukar ditentukan. Secara tak terelakan manusia setiap saat mengambil keputusan dan memikul tanggungjawabnya. Yang kita butuhkan adalah pengambilan keputusan secara aktif bukan pasif membiarkan keputusan ditetapkan oleh orang lain.
            Dalam kasus tertentu keputusan perlu diambil secara aktif, dengan alasan telah dipertimbangkan secara matang, karena tidak baik menyerah kepada nasib. Keputusan Yang Dipengaruhi Tabiat Tabiat adalah susunan batin seseorang yang memberikan arah dan ketertiban kepada keinginan, kesukaan dan kebahagiaan. Susunan itu dibentuk oleh interaksi antara diri seseorang dengan lingkungan sosialnya. Tabiat tidak sama dengan watak. Watak adalah bentuk diri kita secara alamiah dan dibawa mulai dari lahir.Watak bersifat tetap.Sedangkan tabiat berkembang dan berubah sepanjang hidup kita. Watak adalah bahan mentah tabiat kita.Cara kita mengolah bahan mentah itu adalah tanggungjawab kita. Tabiat beda dengan kepribadian (personality). Seperti tabiat, kepribadian juga bersifat kontinuitas, tetapi dapat juga berkembang dan berubah.
            Namun kepribadian lebih luas.Tabiat hanya mengandung sifat-sifat moral dalam diri kita. Sedangkan keperibadian mengandung sifat emosional, mental dan sifat moral.Misalnya rasa rendah diri, pendiam. Faktor Yang Mempengaruhi Tabiat Adapun yang salah satu yang mempengaruhi tabiat antara lain : faktor pembawaan yakni sifat-sifat yang kita warisi dari bapak, ibu, nenek moyang. Faktor lingkungan sosial, keluarga dan kebudayaan. Yakni setiap masyarakat mempunyai pandangan setntang tabiat mana yang patut dihargai dan siapa yang patut dipercayai. faktor pengalaman dan hubungan kita dengan orang lain faktor keputusan dan perbuatan kita sendiri, motivasi perbuatan kita. Ada hubungan timbal balik antara tabiat dan perbuatan.Tabiat mempengaruhi perbuatan, perbuatan mempengaruhi tabiat. Contoh. Orang dengan tabiat jujur cenderung tidak berdusta. Orang yang berdusta cenderung tidak jujur. Faktor iman kita, yakni hubungan kita dengan Allah Tuhan Yang Maha Esa.
            Ajaran agama menjadi pengarah yang pokok dalam pembentukan tabiat kita Lingkungan Sosial Setiap masyarakat mempunyai adat yang terdiri dari nilai, norma, sistem hukum, dan aturan. Adat berfungsi sebagai tata kelakuan yang mengatur, mengendalikan, dan memberikan arah kepada kelakuan dan perbuatan manusia dalam masyarakat. Contoh lingkungan sosial ; Seorang Pegawai segan mencela atau mengkritik keputusan atasan karena tekanan ekonomi, ia takut kehilangan pekerjaan atau tidak dinaikkan pangkatnya.
            Yang terpenting adalah etika atau norma yang kita peroleh dari keluarga, ibu-bapak, dan saudara, seharusnya meresap ke dalam diri kita sebelum kita dihadapkan dan mampu menilai pengaruh lingkungan sosial. Hubungan Antara Tabiat Dan Lingkungan Sosial Etika atau norma dan nilai-nilai masyarakat akan merasap ke dalam diri kita. Hubungan kita dengan orang lain (sosial) turut serta membentuk identitas kita. Namun kepribadian kita bukan semata-mata dipengaruhui oleh masyarakat atau lingkungan sosial.Sebagai manusia yang mempunyai pikiran dan perasaan, bukan objek yang menenerima segala sesuatu.Tabiat memiliki identitas sendiri dan berdiri dalam lingkungannya.Memang kita dipengaruhi oleh lingkungan kita, tetapi kelakuan dan pandangan kita ikut serta melanjutkan dan mengubah lingkungan kita sendiri.

§  Pengukuran pengaruh yang dapat dikuantifisir (Quantifiable Impact)

1.      Laba
Keuntungan adalah kepentingan utama yang ingin didapat oleh para pemegang saham dan merupakan hal yang penting untuk mencerminkan ketahanan dan kesehatan suatu perusahaan. Pada waktu inflasi, keuntungan dapat merubah inventory di harga yang lebih tinggi.
2.      Item yang tidak termasuk dalam profit tapi dapat diukur secara langsung
3.      Item yang tidak termasuk dalam profit dan dapat diukur secara langsung
4.       Memikirkan masa depan sejak dini
5.      Penyaluran dengan hasil yang ragu-ragu
6.      Mangidentifikasikan stakeholders dan meranking kepentingan mereka

§  Pengkajian terhadap pengaruh yang tidak dapat dikuantifisir (Non Quantifiable Impact)
Keadilan bukan merupakan konsep yang absolut. hal ini merupakan petunjuk yang berasal dari suatu kejadian ekonomi yang berorientasi dalam mencari keuntungan dan biaya yang menjadi dasar dari keputusan tersebut.
Ø  Kejujuran diantara stakeholders
Pendistribusian hendaknya mempertimbangkan keseimbangan antara keuntungan dan biaya.
Ø  Hak stakeholders
Hasil keputusan hendaknya tidak bertentangan dengan hak stakeholders.

§  Langkah-langkah untuk mengambil Keputusan yang Beretika
Mengidentifikasi fakta dan seluruh kelompok pemangku kepentingan serta kepentingannya yang terpengaruh
Merangking pemangku kepentingan dan kepentingannya, mengidentifikasi yang terpenting dan memberikan bobot terhadapnya lebih dari isu yang lain dalam analisis

§  Pendekatan penambilan keputusan komprehensif
Ø  ü Pendekatan 5 pertanyaan
Lima pertanyaan yang ditanyakan tentang sebuah keputusan yang diusulkan yaitu:
Keputusan
Kepentingan yang diperiksa stakeholders
  1. Menguntungkan?
  2. Legal?
  1. Jujur?
  2. Hak?
  3. Dapat?
Shareholders (biasanya jangka pendek )
Masyarakat luas (menurut hukum dapat dilakukan
dengan baik)
Kejujuran untuk semua
Hak lain untuk semua
Hak tertentu
  1. ü Pendekatan standar moral
Pendekatan standar moral untuk analisis dampak stakeholders membangun secara langsung pada tiga prinsip fundamental stakeholders yaitu:
Standar Moral
Pertanyaan Keputusan yang Diusulkan
Bermanfaat:
Memperbesar pendapatan bersih untuk masyarakat secara keselurhan.
Hak Individu:
Kehormatan dan perlindungan.
Keadilan:
Distribusi yang baik pendapatan dan beban.
Apakah tidakan memperbesar pandapatan sosial dan memperkecil kerugian sosial?
Apakah tidakan dengan setiap hak orang lain?
Akankah tindakan hanya menimbulkan pendapatan dan beban?
  1. ü Pendekatan postin
Dalam bukunya: “The Hard Problem of Management : Gaining The Ethical Edge”, Mark Postin (1986) menuliskan idenya tentang pendekatan terhadap analisis etika yang menjelaskan empat aspek kunci etika yaitu:
a. Ground rule ethics
Postin menyarankan agar dilakukan pengujian terhadap kebijakan atau tindakan di masa lalu.
b. End-point ethics
Postin menyarankan penerapan seluruh perlakuan atau tindakan.
c. Rule ethics
Mengindikasikan nilai-nilai peraturan, mulai dari prinsip-prinsip etika sampai dengan permasalahan etika.
d. Social contract ethics
Memformulasikan keputusan ke dalam kontrak.
Masalah Yang Lazim
Pelajaran yang dapat dipetik dari zaman Inggris yaitu frekuensi pengambil keputusan yang tidak peka akan masalah umum, tidak dapat mempertalikan suatu nilai yang cukup tinggi pada penggunaan akan suatu asset atau sumber daya dan untuk itu akan membuat suatu keputuasan yang salah. Peringatan untuk masalah ini seharusnya memperbaiki permasalahan ini dan memperbaiki kualitas keputusan.

Membentuk Lebih Banyak Tindakan Etika
Salah satu keuntunga dari penggunaan suatu kerangka seperti 5 pertanyaan, standar moral, postin’s, atau pendekatan umum adalah bahwa suatu aspek tak etis dari suatu keputusan dapat diidentifikasikan dan lalu dimodifikasikan dalam rangka untuk membuat suatu dampak secara keseluruhan dari keputusan sehingga dapat diterima.
Kesulitan Dalam Membuat Keputusan yang Beretika Umum
Pengalaman menunjukkan bahwa ada beberapa kesulitan yang berulang-ulang di mana pembuat keputusan tidak menyadarinya. Ini termasuk:
Fokus pada laba jangka pendek dan fokus yang kuat terhadap shareholder.
Fokus pada legalitas/hukum.
Batasan akan kejujuran.
Batasan akan hak penelitian.
Konflik kepentingan.
Shareholder yang saling berhubungan.
Kegagalan untuk mengidentifikasi semua kelompok stakeholder.
Kegagalan untuk menggolongkan kepentingan spesifik stakeholder.
Menghilangkan kekayaan, kejujuran, atau hak.

Kerangka kerja EDM menilai etis atau tidaknya suatu keputusan atau tindakan dengan menguji : Konsekuensi atau kemunculan keuntungan atau biaya bersih. Hak dan kewajiban yang terpengaruhKeadilan yang ada Motivasi atau kebajikan yang diharapkan. Tiga pertimbangan pertama dari empat pertimbangan diatas, yaitu konsekuensialisme, deontologi dan keadilan, diuji dengan menitikberatkan pada dampak suatu keputusan terhadap pemegang saham dan pemangku kepentingan lain yang terpengaruh, yang dikenal dengan analisis dampak pemangku kepentingan. Pertimbangan keempat, motivasi pengambil keputusan, adalah pendekatan yang dikenal dengan etika kebajikan. Keempat pertimbangan harus sungguh-sungguh diuji dan nilai etika yang sesuai harus diterapkan dalam keputusan dan implementasinya jika suatu keputusan atau tindakan dapat dipertahankan secara etis.

Dituntut untuk meningkatkan pendidikan etika dan EDM akibat skandal Enron, Arthur Andersen, dan WorldCom, dan berikutnya reformasi tata kelola, AACB Ethics Educations Task Force (2004) telah memanggil para pelajar bisnis untuk mengenal tiga pendekatan filosofis terhadap pengambilan keputusan etis : konsekuensialisme, deontologi dan virtue ethics.

Institusi bisnis mengenal adanya shareholder dan stakeholder.Orientasi perusahaan untuk memenuhi kebutuhan shareholder memang sudah sewajarnya sebagai tujuan suatu korporasi.Sebagaimana yang diajarkan di kuliah pengantar ilmu administrasi bisnis, tujuan beroperasinya perusahaan adalah to maximize wealth of shareholder, memaksimalkan kemakmuran para pemegang saham.Sementara, gaung agar dunia bisnis lebih memahami stakeholder interest sedang menggema kencang saat ini, mendorong para pelaku bisnis untuk melakukan reorientasi pada praktik-praktik bisnisnya.

Terlepas dari ranah konsep bahwa shareholder merupakan bagian dari stakeholder pula, Sebenarnya perkembangan arah orientasi pada concern pada stakeholder value merupakan gerak simultan yang berbeda. Jika shareholder value an sich lebih memprioritaskan pada pencapaian profit dalam satu periode, orientasi pada stakeholder mendrive perusahaan untuk lebih banyak mengalokasikan sumber daya nya pada berbagai tujuan, melibatkan berbagai pihak eksternal di luar jangkauan manajemen tradisional perusahaan, dan menghasilkan outcome yang belum terukur secara pasti kinerjanya. Mengapa?Karena stakeholder perusahaan meliputi berbagai elemen yang berkontribusi secara langsung atau tidak dalam praktik bisnis sehari-hari.Mereka termasuk consumer dan customer, business partner, shareholder, employee, government, community, NPO atau NGO. Bahkan, perusahaan-perusahaan di Jepang menambahkan unsur developing countries sebagai stakeholder mereka.

  Kepentingan fundamental stakeholder
Para decision maker menggabungkan kepentingan kelompok stakeholder dan menciptakaan tiga kepentingan yang mendasar, yaitu:

1.            Dapat menghasilkan keputusan yang dapat mengakomodir kepentingan mereka.
2.            Suatu keputusan sebaiknya mempertimbangkan pendistribusian yang adil antara keuntungan dan beban .
3.            Suatu keputusan hendaknya tidak bertentangan dengan hak-hak Stakeholder, termasuk hak dalam membuat keputusan.
Well-offnes : Keputusan sebaiknya menghasilkan lebih banyak keuntungan daripada Biaya
Fairness        : Pendistribusian hendaknya mempertimbangkan keseimbangan antara keuntungan dan biaya.
Right            : Hasil keputusan hendaknya tidak bertentangan dengan hak Stakeholder.

§  Kepentingan mendasar dari pemangku kepentingan
Pengambil keputusan mengkonsolidasikan kepentingan kelompok pemangku kepentingan kedalam tiga kepentingan yang umum atau mendasar, yaitu :
Kepentingan mereka seharusnya menjadi lebih baik sebagai hasil dari keputusan
Keputusan tersebut seharusnya menghasilkan pembagian yang adil dalam keuntungan dan beban
Keputusan tersebut seharusnya tidak menyinggung hak para pemangku kepentingan, termasuk para pembuat keputusan
Jadi, keputusan yang ditawarkan dapat dikatakan tidak etis jika keputusan tersebut gagal untuk memberikan keuntungan bersih, tidak adil, atau mengganggu hak para pemangku kepentingan.

§  Pengukuran dampak yang dapat diukur
Hanya Keuntungan atau kerugian
A dan eksternalitas (contohnya Cost-Benefit Analysis/CBA)
B dan probabilitas keluaran (contohnya Risk Benefit Analysis/RBA)
CBA atau RBA dan rangking pemangku kepentingan

§  Penilaian Dampak yang tidak terukur
Keadilan terhadap pemangku kepentingan
Hak pemangku kepentingan

§  Analisis dampak pemangku kepentingan pengambilan keputusan pendekatan
Beberapa pendekatan dikembangkan memanfaatkan analisis dampak pemangku kepentingan untuk memberikan bimbingan tentang kepatutan tindakan yang diusulkan untuk pengambil keputusan. Memilih pendekatan yang paling berguna tergantung pada apakah dampak keputusan pendek daripada jangka panjang, melibatkan eksternalitas dan / atau probabilitas, atau mengambil tempat dalam pengaturan perusahaan. Pendekatan dapat digabung disesuaikan untuk mengatasi situasi tertentu.

Analisis etis yang komprehensif melebihi model Tucker, Velasquez, dan Pastin dikembangkan untuk menggabungkan penilaian dari motivasi, kebajikan, dan karakter sifat dipamerkan dibandingkan dengan yang diharapkan oleh stakeholder.

 Model Pengukuran stakeholder impact
Keuntungan adalah kepentingan utama yang ingin didapat oleh para pemegang saham dan merupakan hal yang penting untuk mencerminkan ketahanan dan kesehatan suatu perusahaan.Pada waktu inflasi, keuntungan dapat merubah inventory di harga yang lebih tinggi.

§  Stakeholder Impact Analysis – alat untuk menilai keputusan dan tindakan
Sejak berkembangnya konsep utilitarianisme pada 1861, suatu pendekatan yang diterima untuk menilai keputusan dan hasil tindakan adalah dengan mengevaluasi hasil akhir atau konsekuensi dari tindakan, yang secara tradisional didasarkan pada dampak keputusan terhadap kepentingan pemilik perusahaan atau pemegang saham. Biasanya, dampak ini diukur dari keuntungan atau kerugian yang terjadi, karena keuntungan telah menjadi ukuran keberadaan yang ingin dimaksimalkan oleh pemegang saham. Pandangan tradisional ini sekarang berubah dalam dua jalan. Pertama, asumsi bahwa semua pemegang saham ingin memaksimalkan hanya keuntungan jangka pendek menunjukkan fokus yang terlalu sempit. Kedua, hak dan tuntutan kelompok-kelompok non-pemegang saham, seperti pekerja, konsumen/klien, supplier, pemerhati lingkungan, dan pemerintah yang mempunyai kepentingan dalam keluaran keputusan, atau didalam perusahaan itu sendiri, statusnya diakui dalam pengambilan keputusan perusahaan. Perusahaan modern sekarang akuntabel terhadap pemegang saham dan kelompok non-pemegang saham , yang keduanya menjadi pemangku kepentingan, kepada siapa respon perusahaan ditujukan. Biasanya, maksimalisasi keuntungan dalam jangka waktu lebih dari setahun memerlukan hubungan yang harmonis dengan kelompok pemangku kepentingan dan kepentingannya.

§ Pengkajian terhadap pengaruh yang tidak dapat dikuantifisir
            Keadilan bukan merupakan konsep yang absolut.hal ini merupakan petunjuk yang berasal dari suatu kejadian ekonomi yang berorientasi dalam mencari keuntungan dan biaya yang menjadi dasar dari keputusan tersebut. contohnya adalah keputusan untuk menaikan pajak lebih tinggi pada pendapatan tinggi, tetapi melihat secara adil sesuai dengan kapasitas mereka untuk membayar pajak. alasan dan perspektif diperlukan untuk menilai kewajaran dengan teliti.

 model keputusan etis
Ø  Ciri-Ciri Keputusan Etis
            keputusan etis yang mempunyai ciri antara lain :
1.      Harus mempertimbangkan apa yang benar dan apa yang salah.
2.      Harus mempertimbangkan mana yang baik dan mana yang buruk.
3.      Harus memperimbangkan pikiran dan hati nurani dalam menentukan mana yang baik dan mana yang buruk karena fungsi dari etika sebagai alat pengawas.

§  Model pengambilan keputusan
a.     Model Keputusan Optimasi,
          merupakan suatu model pengambilan keputusan yang menguraikan bagaimana individu-individu menguraikan bagaimana seharusnya individu-individu berperilaku agar memaksimalkan suatu hasil.
Langkah-langkah dalam model optimasi :
1.      Memastikan pentingnya suatu keputusan
2.      Mengenali kreteria keputusan
3.      Memberikan prioritas / bobot pada kreteria keputasan yang diambil
4.      Mengembangkan alternatif-alternatif keputusan
5.      Mengevaluasi alternatif keputusan  
6.       Memastikan alternatif keputusan yang terbaik
b.    Model Keputusan Alternatif
             Model keputusan umtuk membantu menjelaskan dan meramal perilaku-perilaku yang tidak rasional jika dipandang dibawah pengandaian-pengandaian optimasi.

c.     Model Cukup-Memuaskan,
            Suatu model pengambilan keputusan yang cara pengambilan keputusannya memilih pemecahan pertama cukup baik yaitu memuaskan dan cukup. Hakikat dari model cukup-memuaskan adalah cara menghadapi masalah-masalah yang rumit,menanggapi pengambilan keputusan dengan mengurangi atau mengecilkan masalah ke tingkatan yang mudah dipahami.
            Kemudian individu-individu dapat berperilaku rasional yang dinamakan rasionalitas berikat yang merupakan individu-individu mengambilkeputusan dengan merancang bangun model-model yang disederhanakan yang mengekstrak perwajahan yang mutlak diperlukan dari problem-problem tanpa menangkap semua kerumitan Salah satu aspek yang menarika dalam model cukup-memuaskan adalah alternatif-alternatif yang dipertimbangkan bersifat kritis dalam menentukan alternatif pilihan.

d.    Model Favorit Implisit,
            Suatu pengambilan keputusan secara implisit dengan memilih alternatif yang lebih disukai dan mengesampingkan evaluasi dari alternatif-alternatif yang lain.

e.     Model Intuitif,
            Merupakan suatu proses yang diciptakan dalam pengalaman yang terbaik.
Faktor-faktor kita mengambil keputusan secara intuitif :
1.    Mempunyai keyakinan
2.    Mempunyai prseden yang sedikit
3.    Mempunyai variabel-variabel yang kurang dapat diperkirakan secara ilmiah
4.    .Mempunyai keterbatasan fakta
5.    Tidakmempunyai pedoman yang jelas
6.    Tidak mempunyai data analitis
7.     Mempunyai argumentasi dengan beberapa alternatif pilihan yang terbaik
8.     Kecepatan dalam mengambil keputusan ketika waktu yang tersedia terbatas

§  Kebiasan yang keliru pada para pembuat keputusan :
1.      Berfokus pada keuntungan jangka pendek dan kepentingan pemegang saham.
Seringkali, dampak yang paling signifikan (pemegang saham, pemegang saham) dari suatu tindakan yang diusulkan adalah mereka bahwa permukaan di masa depan dan mereka dengan nonshareholder stakeholder pertama. Hanya setelah kelompok ini bereaksi terhadap pemegang saham menanggung biaya kesalahan. Obat untuk miopia ini adalah untuk memastikan cakrawala waktu yang cukup untuk analisis, dan untuk mempertimbangkan eksternalitas akun berdasarkan biaya-manfaat, meskipun dampaknya diukur awalnya oleh sekelompok nonshareholder.
2.      Berfokus pada keuntungan jangka pendek dan pemegang saham
Seringkali, dampak yang paling signifikan (pemegang saham, pemegang saham) dari suatu tindakan yang diusulkan adalah mereka bahwa permukaan di masa depan dan mereka dengan nonshareholder stakeholder pertama. Hanya setelah kelompok ini bereaksi terhadap pemegang saham menanggung biaya kesalahan. Obat untuk miopia ini adalah untuk memastikan cakrawala waktu yang cukup untuk analisis, dan untuk mempertimbangkan eksternalitas akun berdasarkan biaya-manfaat, meskipun dampaknya diukur awalnya oleh sekelompok nonshareholder.
3.      Berfokus hanya pada legalitas
banyak manajer yang hanya peduli dengan apakah suatu tindakan sesuai dengan aturan. Hukum, beranggapan bahwa  "Jika itu sesuai aturan hukum, berarti tindakannya etis."
Sayangnya, banyak menemukan mereka perlu boikot pelanggan, menurunnya karyawan, meningkatkan peraturan pemerintah untuk menutupi celah-celah dan denda. Beberapa tidak peduli karena mereka hanya dimaksudkan untuk tinggal dengan perusahaan ini untuk waktu yang singkat
4.      Keadilan yang terbatas
Kadang-kadang pengambil keputusan bersikap adil hanya untuk kelompok yang disukai. Dan mereka tak punya kemampuan mengendalikan opini umum dan ujung ujungnya  membayar untuk mengawasi mereka. Banyak eksekutif telah menunda masalah dan  mengabaikan atas resiko. Cara yang terbaik untuk menjamin suatu keputusan itu etis bila berlaku adil untuk semua pemangku kepentingan.
5.      Pembatasan hak yang teliti
Pengambil keputusan seharusnya meneliti dampak terhadap hak seluruh pemangku kepentingan.
6.      Konflik kepentingan
Perkiraan/prasangka  bukan satu-satunya alasan untuk menunjukkan penilaian tindakan yang diusulkan. Penghakiman dapat diliputi oleh konflik kepentingan --- kepentingan pribadi dari pembuat keputusan terhadap kepentingan terbaik perusahaan atau sekelompok pengambilan keputusan adalah penyimpangan  terhadap kepentingan terbaik perusahaan
7.      Keterkaitan pemangku kepentingan
Seringkali pembuat keputusan gagal mengantisipasi bahwa apa yang mereka putuskan untuk satu kelompok akan mempengaruhi kelompok yang lain.
8.      Kegagalan untuk mengidentifikasi semua kelompok stakeholder
Kebutuhan untuk mengidentifikasi semua stakeholder dan kelompok kepentingan sebelum mengevaluasi dampak dari masing-masing bukti diri. Namun, ini merupakan langkah yang diambil untuk diberikan berulang kali, dengan hasil bahwa isu-isu penting tidak diketahui. Sebuah pendekatan yang berguna untuk membantu masalah ini adalah untuk berspekulasi tentang bagaimana buruk itu bisa pergi dari tindakan yang diusulkan dan mencoba untuk menilai bagaimana media bereaksi. Hal ini sering mengarah pada identifikasi kelompok yang paling rentan stakeholder.
9.      Kegagalan memberi peringkat pada kepentingan stakeholder
Kecenderungan untuk memperlakukan semua kepentingan stakeholders sama tingkat pentingnya. Namun, sering  memperlaakukan kepentingan yang mendesak yang paling penting. Mengabaikan ini tidak benar dan dapat menyebabkan keputusan kurang optimal dan tidak etis.
10.  Meninggalkan kebaikan, kejujuran dan hak.
Seperti dijelaskan sebelumnya,, bahwa keputusan etis yang komprehensif tidak bisa dilakukan jika salah satu dari tiga aspek terlupakan.
11.  Kegagalan mempertimbangkan motivasi untuk sebuah keputusan
Selama bertahun-tahun, pengusaha dan profesional yang tidak peduli tentang motivasi untuk tindakan, seperti consenquences dapat diterima. Sayangnya, banyak produsen telah kehilangan melihat kebutuhan untuk meningkatkan jaringan global untuk semua pengambilan manfaat (atau sebanyak mungkin) dan keputusan dibuat bahwa manfaat sendiri, atau hanya sedikit kurang beruntung pendek dan jangka panjang lainnya . Cupet ini, murni SEFT - pengambil keputusan organisasi yang berminat mewakili risiko tinggi untuk pemerintahan.
12.  Kegagalan untuk memperhitungkan kebajikan yang seharusnya ditunjukkan
Anggota dewan, eksekutif dan akuntan profesional diharapkan untuk bertindak dengan itikad baik dan pembuangan kewajiban fidusia kepada orang-orang mengandalkan mereka. Mengabaikan kebajikan diharapkan dari mereka dapat menyebabkan ketidakjujuran, kurangnya integritas dalam penyusunan laporan, kegagalan untuk bertindak atas nama stakeholder, dan kegagalan untuk debit keberanian dalam menghadapi orang lain yang terlibat dalam tindakan tidak etis, atau meniup peluit bila diperlukan.

§  Isu-isu yang berkembang dalam pengambilan keputusan
a.     Memperbaiki pengambilan Keputusan yang etis .

Tiga kreteria keputusan yang etis :
1.    Manfaat utilitarian
2.    Fokus pada hak
3.    Fokus pada keadilan

b.    Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Pengambilan Keputusan Etis :

1.      Tahap Perkembangan Moral,
            Sesustu penilaian dari kapasitas seseorang untuk menimbang-nimbang apakah yang secara besar, makin tinggi perkembangan moral seseorang makin kurang bergantung ia pada pengaruh-pengaruh luar dan makin cendurung berlaku etis.

2.      Lingkungan organisasi,
            Merujuk ke persepsi karyawan mengenai pengharapan organissasional.

3.      Tempat Kedudukan Kendali,
            Hal ini tidak lepas dengan struktur organisasi. Keputusan Yang Etis Suatu Keharusan Mengapa keputusan yang etis suatu keharusan, karena setiap individu, maupun kelompok, lembaga, dihadapkan kepada pilihan-pilihan yang perlu dilakukan atau diambil, yang sewaktu-waktu sukar ditentukan. Secara tak terelakan manusia setiap saat mengambil keputusan dan memikul tanggungjawabnya. Yang kita butuhkan adalah pengambilan keputusan secara aktif bukan pasif membiarkan keputusan ditetapkan oleh orang lain.
            Dalam kasus tertentu keputusan perlu diambil secara aktif, dengan alasan telah dipertimbangkan secara matang, karena tidak baik menyerah kepada nasib. Keputusan Yang Dipengaruhi Tabiat Tabiat adalah susunan batin seseorang yang memberikan arah dan ketertiban kepada keinginan, kesukaan dan kebahagiaan. Susunan itu dibentuk oleh interaksi antara diri seseorang dengan lingkungan sosialnya. Tabiat tidak sama dengan watak. Watak adalah bentuk diri kita secara alamiah dan dibawa mulai dari lahir.Watak bersifat tetap.Sedangkan tabiat berkembang dan berubah sepanjang hidup kita. Watak adalah bahan mentah tabiat kita.Cara kita mengolah bahan mentah itu adalah tanggungjawab kita. Tabiat beda dengan kepribadian (personality). Seperti tabiat, kepribadian juga bersifat kontinuitas, tetapi dapat juga berkembang dan berubah.
            Namun kepribadian lebih luas.Tabiat hanya mengandung sifat-sifat moral dalam diri kita. Sedangkan keperibadian mengandung sifat emosional, mental dan sifat moral.Misalnya rasa rendah diri, pendiam. Faktor Yang Mempengaruhi Tabiat Adapun yang salah satu yang mempengaruhi tabiat antara lain : faktor pembawaan yakni sifat-sifat yang kita warisi dari bapak, ibu, nenek moyang. Faktor lingkungan sosial, keluarga dan kebudayaan. Yakni setiap masyarakat mempunyai pandangan setntang tabiat mana yang patut dihargai dan siapa yang patut dipercayai. faktor pengalaman dan hubungan kita dengan orang lain faktor keputusan dan perbuatan kita sendiri, motivasi perbuatan kita. Ada hubungan timbal balik antara tabiat dan perbuatan.Tabiat mempengaruhi perbuatan, perbuatan mempengaruhi tabiat. Contoh. Orang dengan tabiat jujur cenderung tidak berdusta. Orang yang berdusta cenderung tidak jujur. Faktor iman kita, yakni hubungan kita dengan Allah Tuhan Yang Maha Esa.
            Ajaran agama menjadi pengarah yang pokok dalam pembentukan tabiat kita Lingkungan Sosial Setiap masyarakat mempunyai adat yang terdiri dari nilai, norma, sistem hukum, dan aturan. Adat berfungsi sebagai tata kelakuan yang mengatur, mengendalikan, dan memberikan arah kepada kelakuan dan perbuatan manusia dalam masyarakat. Contoh lingkungan sosial ; Seorang Pegawai segan mencela atau mengkritik keputusan atasan karena tekanan ekonomi, ia takut kehilangan pekerjaan atau tidak dinaikkan pangkatnya.
            Yang terpenting adalah etika atau norma yang kita peroleh dari keluarga, ibu-bapak, dan saudara, seharusnya meresap ke dalam diri kita sebelum kita dihadapkan dan mampu menilai pengaruh lingkungan sosial. Hubungan Antara Tabiat Dan Lingkungan Sosial Etika atau norma dan nilai-nilai masyarakat akan merasap ke dalam diri kita. Hubungan kita dengan orang lain (sosial) turut serta membentuk identitas kita. Namun kepribadian kita bukan semata-mata dipengaruhui oleh masyarakat atau lingkungan sosial.Sebagai manusia yang mempunyai pikiran dan perasaan, bukan objek yang menenerima segala sesuatu.Tabiat memiliki identitas sendiri dan berdiri dalam lingkungannya.Memang kita dipengaruhi oleh lingkungan kita, tetapi kelakuan dan pandangan kita ikut serta melanjutkan dan mengubah lingkungan kita sendiri.

§  Pengukuran pengaruh yang dapat dikuantifisir (Quantifiable Impact)

1.      Laba
Keuntungan adalah kepentingan utama yang ingin didapat oleh para pemegang saham dan merupakan hal yang penting untuk mencerminkan ketahanan dan kesehatan suatu perusahaan. Pada waktu inflasi, keuntungan dapat merubah inventory di harga yang lebih tinggi.
2.      Item yang tidak termasuk dalam profit tapi dapat diukur secara langsung
3.      Item yang tidak termasuk dalam profit dan dapat diukur secara langsung
4.       Memikirkan masa depan sejak dini
5.      Penyaluran dengan hasil yang ragu-ragu
6.      Mangidentifikasikan stakeholders dan meranking kepentingan mereka

§  Pengkajian terhadap pengaruh yang tidak dapat dikuantifisir (Non Quantifiable Impact)
Keadilan bukan merupakan konsep yang absolut. hal ini merupakan petunjuk yang berasal dari suatu kejadian ekonomi yang berorientasi dalam mencari keuntungan dan biaya yang menjadi dasar dari keputusan tersebut.
Ø  Kejujuran diantara stakeholders
Pendistribusian hendaknya mempertimbangkan keseimbangan antara keuntungan dan biaya.
Ø  Hak stakeholders
Hasil keputusan hendaknya tidak bertentangan dengan hak stakeholders.

§  Langkah-langkah untuk mengambil Keputusan yang Beretika
Mengidentifikasi fakta dan seluruh kelompok pemangku kepentingan serta kepentingannya yang terpengaruh
Merangking pemangku kepentingan dan kepentingannya, mengidentifikasi yang terpenting dan memberikan bobot terhadapnya lebih dari isu yang lain dalam analisis

§  Pendekatan penambilan keputusan komprehensif
Ø  ü Pendekatan 5 pertanyaan
Lima pertanyaan yang ditanyakan tentang sebuah keputusan yang diusulkan yaitu:
Keputusan
Kepentingan yang diperiksa stakeholders
  1. Menguntungkan?
  2. Legal?
  1. Jujur?
  2. Hak?
  3. Dapat?
Shareholders (biasanya jangka pendek )
Masyarakat luas (menurut hukum dapat dilakukan
dengan baik)
Kejujuran untuk semua
Hak lain untuk semua
Hak tertentu
  1. ü Pendekatan standar moral
Pendekatan standar moral untuk analisis dampak stakeholders membangun secara langsung pada tiga prinsip fundamental stakeholders yaitu:
Standar Moral
Pertanyaan Keputusan yang Diusulkan
Bermanfaat:
Memperbesar pendapatan bersih untuk masyarakat secara keselurhan.
Hak Individu:
Kehormatan dan perlindungan.
Keadilan:
Distribusi yang baik pendapatan dan beban.
Apakah tidakan memperbesar pandapatan sosial dan memperkecil kerugian sosial?
Apakah tidakan dengan setiap hak orang lain?
Akankah tindakan hanya menimbulkan pendapatan dan beban?
  1. ü Pendekatan postin
Dalam bukunya: “The Hard Problem of Management : Gaining The Ethical Edge”, Mark Postin (1986) menuliskan idenya tentang pendekatan terhadap analisis etika yang menjelaskan empat aspek kunci etika yaitu:
a. Ground rule ethics
Postin menyarankan agar dilakukan pengujian terhadap kebijakan atau tindakan di masa lalu.
b. End-point ethics
Postin menyarankan penerapan seluruh perlakuan atau tindakan.
c. Rule ethics
Mengindikasikan nilai-nilai peraturan, mulai dari prinsip-prinsip etika sampai dengan permasalahan etika.
d. Social contract ethics
Memformulasikan keputusan ke dalam kontrak.
Masalah Yang Lazim
Pelajaran yang dapat dipetik dari zaman Inggris yaitu frekuensi pengambil keputusan yang tidak peka akan masalah umum, tidak dapat mempertalikan suatu nilai yang cukup tinggi pada penggunaan akan suatu asset atau sumber daya dan untuk itu akan membuat suatu keputuasan yang salah. Peringatan untuk masalah ini seharusnya memperbaiki permasalahan ini dan memperbaiki kualitas keputusan.

Membentuk Lebih Banyak Tindakan Etika
Salah satu keuntunga dari penggunaan suatu kerangka seperti 5 pertanyaan, standar moral, postin’s, atau pendekatan umum adalah bahwa suatu aspek tak etis dari suatu keputusan dapat diidentifikasikan dan lalu dimodifikasikan dalam rangka untuk membuat suatu dampak secara keseluruhan dari keputusan sehingga dapat diterima.
Kesulitan Dalam Membuat Keputusan yang Beretika Umum
Pengalaman menunjukkan bahwa ada beberapa kesulitan yang berulang-ulang di mana pembuat keputusan tidak menyadarinya. Ini termasuk:
Fokus pada laba jangka pendek dan fokus yang kuat terhadap shareholder.
Fokus pada legalitas/hukum.
Batasan akan kejujuran.
Batasan akan hak penelitian.
Konflik kepentingan.
Shareholder yang saling berhubungan.
Kegagalan untuk mengidentifikasi semua kelompok stakeholder.
Kegagalan untuk menggolongkan kepentingan spesifik stakeholder.
Menghilangkan kekayaan, kejujuran, atau hak.

Related Posts

membuat keputusan etis (Ethical Decision Making)
4/ 5
Oleh

Contact Me

Name

Email *

Message *